Orang yang menyakiti para mukmin, baik laki-laki maupun perempuan, tanpa kesalahan yang mereka perbuat, dan hanya berdasarkan kepada fitnah dan tuduhan yang dibuat-buat, maka sungguh mereka itu telah melakukan dosa yang nyata. Menurut Ibnu ‘Abbās, ayat ini diturunkan sehubungan dengan tuduhan ‘Abdullāh bin Ubay terhadap ‘Āisyah yang dikatakannya telah berbuat mesum dalam perjalanan pulang beserta Nabi Muhammad setelah memerangi Bani Muṣtaliq, yang terkenal dengan hadīṡ al-ifk.
Dalam hadis Nabi saw dijelaskan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّهُ قِيْلَ يَا رَسُولَ الله مَا الْغِيْبَةُ؟ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، قِيْلَ أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُوْلُ: قَالَ: إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لمَ ْيَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهَ.(رواه ابوداود)
Abū Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang apa artinya bergunjing. Beliau menjawab, “Engkau menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.” Nabi ditanya lagi, “Bagaimana jika yang disebut itu memang benar atau suatu kenyataan?” Nabi menjawab, “Bila yang diucapkan itu benar, engkau telah mengumpat kepadanya, dan bila itu tidak benar maka engkau telah membuat kedustaan terhadapnya.” (Riwayat Abu Dāwud)