Termasuk kategori menyakiti Nabi adalah menyakiti orang-orang yang beriman. Dan karena itu, Allah menegaskan bahwa orang-orang yang menyakiti dengan menuduh, menghina, dan mengganggu orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan berupa perbuatan buruk yang sengaja mereka perbuat (Lihat Surah al-Baqarah/2: 286), maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata yang menyebabkan mereka layak menerima azab dari Allah. Dari ayat ini tidak dapat diambil kesimpulan bahwa orang mukmin yang melakukan perbuatan buruk boleh disakiti, dihina, atau diganggu.
Tafsir Al-Ahzab Ayat 58
وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوْا فَقَدِ احْتَمَلُوْا بُهْتَانًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًاࣖ
walladzîna yu'dzûnal-mu'minîna wal-mu'minâti bighairi maktasabû faqadiḫtamalû buhtânaw wa itsmam mubînâ
Orang-orang yang menyakiti mukminin dan mukminat, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, sungguh, mereka telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata.
Tafsir Ringkas Surat Al-Ahzab Ayat 58
Tafsir Tahlili Surat Al-Ahzab Ayat 58
Orang yang menyakiti para mukmin, baik laki-laki maupun perempuan, tanpa kesalahan yang mereka perbuat, dan hanya berdasarkan kepada fitnah dan tuduhan yang dibuat-buat, maka sungguh mereka itu telah melakukan dosa yang nyata. Menurut Ibnu ‘Abbās, ayat ini diturunkan sehubungan dengan tuduhan ‘Abdullāh bin Ubay terhadap ‘Āisyah yang dikatakannya telah berbuat mesum dalam perjalanan pulang beserta Nabi Muhammad setelah memerangi Bani Muṣtaliq, yang terkenal dengan hadīṡ al-ifk.
Dalam hadis Nabi saw dijelaskan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّهُ قِيْلَ يَا رَسُولَ الله مَا الْغِيْبَةُ؟ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، قِيْلَ أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُوْلُ: قَالَ: إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لمَ ْيَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهَ.(رواه ابوداود)
Abū Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang apa artinya bergunjing. Beliau menjawab, “Engkau menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.” Nabi ditanya lagi, “Bagaimana jika yang disebut itu memang benar atau suatu kenyataan?” Nabi menjawab, “Bila yang diucapkan itu benar, engkau telah mengumpat kepadanya, dan bila itu tidak benar maka engkau telah membuat kedustaan terhadapnya.” (Riwayat Abu Dāwud)