Ketika Nabi mengajak mereka menyembah dan mengesakan Allah, mereka menjawab dengan penuh keingkaran, “Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan. Kami, kabilah-kabilah Arab, mempunyai tuhan masing-masing.”
Tafsir Sad Ayat 5
اَجَعَلَ الْاٰلِهَةَ اِلٰهًا وَّاحِدًاۖ اِنَّ هٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ
a ja‘alal-âlihata ilâhaw wâḫidan inna hâdzâ lasyai'un ‘ujâb
Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan.”
Tafsir Ringkas Surat Sad Ayat 5
Tafsir Tahlili Surat Sad Ayat 5
Sebab nuzul ayat ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarīr aṭ-Ṭabarī dari Ibnu ‘Abbās yang menyatakan bahwa setelah Abū Ṭalib sakit, masuklah serombongan orang-orang Quraisy, di antara mereka terdapat Abū Jahal. Mereka berkata, “Sesungguhnya kemenakanmu mencaci-maki tuhan-tuhan kami. Ia betul-betul berbuat dan mengatakannya. Alangkah baiknya kalau engkau mengutus seseorang untuk melarangnya.” Maka Abū Ṭalib pun mengutus utusan kepadanya. Lalu Nabi pun datang dan masuk ke rumahnya, sedangkan jarak antara orang-orang Quraisy dengan Abū Ṭalib dekat sekali sekadar tempat duduk yang cukup untuk seorang. Ibnu ‘Abbās mengatakan bahwa Abū Jahal khawatir kalau-kalau Nabi duduk di samping Abū Ṭalib. Lalu ia menjadi bersikap lunak. Ia lalu melompat dan duduk di tempat yang belum diduduki di sisi Abū Ṭalib. Dengan demikian Rasulullah tidak mendapatkan tempat duduk di dekat pamannya. Beliau duduk di dekat pintu. Lalu Abū Ṭalib berkata kepada beliau, “Hai kemenakanku, mengapa kaummu mengadukan engkau. Mereka menuduh engkau memaki tuhan-tuhan mereka dan engkau pun mengatakan begini-begitu.” Ibnu ‘Abbas melanjutkan bahwa orang-orang Quraisy banyak sekali berbicara dengan Abū Ṭalib.
Kemudian Rasulullah berkata, “Hai Pamanku. Sesungguhnya saya ingin agar mereka itu menyatakan kalimat yang satu saja, yang dengan kalimat itu orang-orang Arab tunduk kepada mereka, dan orang-orang ‘Ajam (selain Arab) membayar jizyah (pajak kepala) kepada mereka.” Maka mereka pun senang akan kalimat (yang diusulkan itu) dan senang pula akan perkataan Rasul. Lalu kaum Quraisy itu bertanya, “Apakah kalimat itu? Demi Ayahmu, tentu kami memberi balasan kepadamu sepuluh kali lipat.” Rasulullah pun bersabda, “Lā ilāha ilallāh.” Maka mereka pun bangkit dengan gemetar, sambil menyingsingkan lengan bajunya dan berkata, “Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang mengherankan.” Maka turunlah ayat ini.
Allah menjelaskan keheranan kaum musyrik akan seruan rasul. Mereka heran mengapa Muhammad menjadikan Tuhan hanya satu saja, ini bertentangan dengan kepercayaan nenek moyang mereka. Ketika Rasulullah mengajak mereka agar meninggalkan sembahan-sembahan mereka yang banyak itu dan menggantinya dengan menyembah Allah Yang Maha Esa, maka mereka menganggap bahwa seruan Muhammad itu bukan masalah yang remeh, akan tetapi benar-benar suatu yang mengherankan. Mereka mengingkari seruan itu karena yakin bahwa tidak mungkin nenek moyang mereka menganut keyakinan yang salah, tetapi Muhammad adalah seorang pendusta yang mengaku dirinya benar.