Dalam ayat ini, Allah menerangkan hakikat iman yang sebenarnya, yaitu bahwa orang-orang yang diakui mempunyai iman yang sungguh-sungguh hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, tanpa keragu-raguan sedikit pun dan tidak goyah pendiriannya apa pun yang dihadapi. Mereka menyerahkan harta dan jiwa dalam berjihad di jalan Allah semata-mata untuk mencapai keridaan-Nya.
اَلْمُؤْمِنُوْنَ فِى الدُّنْيَا عَلَى ثَلاَثَةِ أَجْزَاءٍ، اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا وَجَاهَدُوْا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِىْ سَبِيْلِ اللهِ. وَالَّذِيْ يَأْمَنُهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ بِأَنْفُسِهِمْ وَالَّذِيْ إِذَا أَشْرَفَ عَلَى طَمَعٍ تَرَكَهُ ِللهِ عَزَّ وَجَلَّ. (رواه أحمد عن أبي سعيد الخدري)
Orang mukmin di dunia ada tiga golongan: pertama, orang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu dan berjihad fi sabilillah dengan harta dan dirinya. Kedua, orang yang tidak mengganggu harta dan diri orang lain. Ketiga, orang yang mendapatkan kemuliaan ambisi, ia meninggalkannya karena Allah. (Riwayat Aḥmad dari Abū Sa‘īd al-Khudrī)
Mereka itulah orang-orang yang imannya diakui oleh Allah. Tidak seperti orang-orang Arab Badui itu yang hanya mengucapkan beriman dengan lidah belaka, sedangkan hati mereka kosong karena mereka masuk Islam itu hanya karena takut akan tebasan pedang, hanya sekadar untuk mengamankan jiwa dan harta bendanya.