Allah menjelaskan bahwa Rasulullah saw ketika berada di tengah-tengah kaum mukmin, sepatutnya dihormati dan diikuti semua petunjuk-nya karena lebih mengetahui kemaslahatan umatnya. Nabi lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri, sebagaimana dicantumkan dalam firman Allah:
اَلنَّبِيُّ اَوْلٰى بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ اَنْفُسِهِمْ
Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri (al-Aḥzāb/33: 6)
Karena Nabi Muhammad selalu berada dalam bimbingan wahyu Ilahi, maka beliau yang berada di tengah-tengah para sahabat itu sepatutnya dijadikan teladan dalam segala aspek kehidupan dan aspek kemasyarakatan. Seandainya beliau menuruti kemauan para sahabat dalam memecahkan persoalan hidup, niscaya mereka akan menemui berbagai kesulitan dan kemudaratan seperti dalam peristiwa al-Walīd bin ‘Uqbah. Seandainya Nabi saw menerima berita bohong tentang Banī al-Muṣṭaliq, lalu mengirimkan pasukan untuk menggempur mereka yang disangka murtad dan menolak membayar zakat, niscaya yang demikian itu hanya akan menimbulkan penyesalan dan bencana. Akan tetapi, sebaliknya dengan kebijaksanaan dan bimbingan Rasulullah saw yang berada di tengah-tengah para sahabat, mereka dijadikan oleh Allah mencintai keimanan dan menjadikan iman itu in-dah dalam hati mereka, dan menjadikan mereka benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan.
Karena iman yang sempurna itu terdiri dari pengakuan dengan li-san, membenarkan dengan hati, dan beramal saleh dengan anggota tubuh, maka kebencian terhadap kekafiran berlawanan dengan kecinta-an kepada keimanan. Menjadikan iman itu indah dalam hati adalah pa-ralel dengan membenarkan (taṣdīq) dalam hati, dan benci kepada ke-durhakaan itu paralel dengan mengadakan amal saleh. Orang-orang yang demikian itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk dan mengikuti jalan yang lurus, yang langsung menuju kepada keridaan Allah.