Dalam ayat ini, Allah swt menerangkan jawaban Yahuza untuk membantah pemikiran saudaranya itu. Qurṭus, pemilik kebun yang kaya itu, memandang Yahuza rendah karena kemiskinannya. Sebaliknya, Yahuza memandang Qurṭus rendah karena kekafirannya. Dalam percakapannya dengan Qurṭus, dia menyatakan bahwa tidak patut dia mengingkari kekuasaan Allah yang menciptakan dirinya dari tanah? Bukankah makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan atau hewan itu dari tanah juga? Dari makanan dan minuman itu terbentuk sel-sel yang akhirnya menjadi nuṭfah. Nuṭfah berkembang tahap demi tahap karena mendapat makanan, baik dari protein nabati ataupun hewani, sehingga menjadi seorang laki-laki seperti Qurṭus. Bagaimana seseorang dapat mengingkari kekuasaan Allah, sedangkan kejadiannya menunjukkan dengan jelas akan adanya kekuasaan itu. Setiap insan sadar akan dirinya, bahwa pada mulanya dia tidak ada, kemudian menjadi ada. Tidak mungkin kehadirannya ke alam wujud ini dihubungkan oleh dirinya sendiri. Satu-satunya Zat yang bisa menghubungkan kejadiannya itu ialah Penciptanya yaitu Allah Rabbul ‘Alamīn.
Untuk meyakinkan adanya hari kebangkitan, Allah menjelaskan proses kejadian manusia, sebagaimana firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَاِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ
Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani. (al-Ḥajj/22: 5)