Surat Ad Dukhan

Kabut • Makkiyah • 59 ayat

Tentang Surat Ad-Dukhan

Baca Surat Ad-Dukhan (Kabut — الدخان) lengkap dengan teks Latin, Arab, dan terjemahan bahasa Indonesia. Berikut adalah 59 ayat Makkiyah (Juz 25) — surat ke-44 dalam Al-Quran yang bisa Anda akses dengan cepat, ringan, dan tanpa iklan. Ad-Dukhan menyebutkan malam Lailatul Qadar sebagai malam diberkahi ketika semua urusan yang penuh hikmah diputuskan, serta mengisyaratkan kabut yang menyelimuti manusia sebagai salah satu tanda kiamat. Surat ini juga mengisahkan tenggelamnya Firaun beserta bala tentaranya di Laut Merah sebagai balasan atas kesombongan mereka..

Tema Utama

  • Keagungan malam Lailatul Qadar sebagai waktu turunnya Al-Quran
  • Kabut (dukhan) sebagai tanda azab dan peringatan kiamat
  • Kisah Firaun yang tenggelam karena kesombongannya
  • Gambaran nikmat surga dan azab neraka
  • Peringatan bagi kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah

Kandungan Surat

Ayat 1-8Turunnya Al-Quran pada malam yang diberkahi — Al-Quran diturunkan pada Lailatul Mubarakah (malam Lailatul Qadar), malam di mana setiap urusan yang penuh hikmah ditentukan.
Ayat 10-16Kabut sebagai azab — peringatan tentang hari ketika langit mengeluarkan kabut yang nyata sebagai azab yang meliputi manusia, gambaran kesengsaraan yang menimpa kaum yang mendustakan.
Ayat 17-33Kisah Firaun — ujian bagi Bani Israil melalui Firaun, Allah mengutus Musa untuk membebaskan mereka, kesombongan Firaun yang berujung pada ditenggelamkannya bersama bala tentaranya di laut.
Ayat 34-42Pengingkaran terhadap kebangkitan — kaum musyrikin mengingkari hari kebangkitan, Allah membantah mereka dengan menyebutkan bahwa penciptaan mereka bukanlah lebih sulit dari penciptaan alam semesta.
Ayat 43-57Balasan di akhirat — pohon zaqqum sebagai makanan penghuni neraka, sementara orang bertakwa mendapatkan surga dengan kebun-kebun, mata air, pakaian sutra, dan bidadari.

Keutamaan

  • Nabi ﷺ bersabda: 'Barangsiapa membaca Ha Mim Ad-Dukhan pada malam Jumat, maka dia akan diampuni.' (HR. At-Tirmidzi — didhaifkan oleh sebagian ulama)
  • Surat ini mengandung penegasan tentang keagungan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
  • Mengandung pelajaran dari kisah Firaun bahwa kekuasaan dan kekuatan duniawi tidak dapat menyelamatkan dari azab Allah.
  • Memberikan gambaran kontras yang jelas antara kenikmatan surga dan kesengsaraan neraka sebagai motivasi beramal saleh.

Asbab Nuzul

Surat Ad-Dukhan adalah surat Makkiyah yang turun di Mekkah. Mengenai ayat tentang kabut (dukhan), terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ibnu Mas'ud berpendapat bahwa kabut tersebut terjadi ketika kaum Quraisy dilanda kelaparan hebat sehingga mereka melihat kabut di antara langit dan bumi karena lapar. Sedangkan pendapat lain menyatakan bahwa kabut tersebut adalah tanda kiamat yang akan datang di akhir zaman.

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, Shahih Bukhari, Sunan At-Tirmidzi, Tafsir Ath-Thabari

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
1

حٰمۤۚ

ḫâ mîm

Ḥā Mīm.

2

وَالْكِتٰبِ الْمُبِيْنِۙ

wal-kitâbil-mubîn

Demi Kitab (Al-Qur’an) yang jelas.

3

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ

innâ anzalnâhu fî lailatim mubârakatin innâ kunnâ mundzirîn

Sesungguhnya Kami (mulai menurunkannya pada malam yang diberkahi (Lailatulqadar). Sesungguhnya Kamilah pemberi peringatan.

4

فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍۙ

fîhâ yufraqu kullu amrin ḫakîm

Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.

5

اَمْرًا مِّنْ عِنْدِنَاۗ اِنَّا كُنَّا مُرْسِلِيْنَۖ

amram min ‘indinâ, innâ kunnâ mursilîn

(Hal itu merupakan) urusan (yang besar) dari sisi Kami. Sesungguhnya Kamilah yang mengutus (para rasul)

6

رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُۗ

raḫmatam mir rabbik, innahû huwas-samî‘ul-‘alîm

sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,

7

رَبِّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَاۘ اِنْ كُنْتُمْ مُّوْقِنِيْنَ

rabbis-samâwâti wal-ardli wa mâ bainahumâ, ing kuntum mûqinîn

yaitu Tuhan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya jika kamu orang-orang yang yakin.

8

لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ يُحْيٖ وَيُمِيْتُۗ رَبُّكُمْ وَرَبُّ اٰبَاۤىِٕكُمُ الْاَوَّلِيْنَ

lâ ilâha illâ huwa yuḫyî wa yumît, rabbukum wa rabbu âbâ'ikumul-awwalîn

Tidak ada tuhan selain Dia (yang) menghidupkan dan mematikan. (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu terdahulu.

9

بَلْ هُمْ فِيْ شَكٍّ يَّلْعَبُوْنَ

bal hum fî syakkiy yal‘abûn

Akan tetapi, mereka dalam keraguan; mereka bermain-main.

10

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِى السَّمَاۤءُ بِدُخَانٍ مُّبِيْنٍ

fartaqib yauma ta'tis-samâ'u bidukhânim mubîn

Maka, nantikanlah hari (ketika) langit mendatangkan kabut asap yang tampak jelas

11

يَغْشَى النَّاسَۗ هٰذَا عَذَابٌ اَلِيْمٌ

yaghsyan-nâs, hâdzâ ‘adzâbun alîm

(yang) meliputi manusia (durhaka). Ini adalah azab yang sangat pedih.

12

رَبَّنَا اكْشِفْ عَنَّا الْعَذَابَ اِنَّا مُؤْمِنُوْنَ

rabbanaksyif ‘annal-‘adzâba innâ mu'minûn

(Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, lenyapkanlah azab itu dari kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang mukmin.”

13

اَنّٰى لَهُمُ الذِّكْرٰى وَقَدْ جَاۤءَهُمْ رَسُوْلٌ مُّبِيْنٌۙ

annâ lahumudz-dzikrâ wa qad jâ'ahum rasûlum mubîn

Bagaimana mereka dapat menerima peringatan (setelah turun azab), padahal (sebelumnya) seorang Rasul (Nabi Muhammad) benar-benar telah datang kepada mereka (untuk) memberi penjelasan.

14

ثُمَّ تَوَلَّوْا عَنْهُ وَقَالُوْا مُعَلَّمٌ مَّجْنُوْنٌۘ

tsumma tawallau ‘an-hu wa qâlû mu‘allamum majnûn

Kemudian, mereka berpaling darinya dan berkata, “Dia (Nabi Muhammad) diajari (oleh orang lain) lagi gila.”

15

اِنَّا كَاشِفُوا الْعَذَابِ قَلِيْلًا اِنَّكُمْ عَاۤىِٕدُوْنَۘ

innâ kâsyiful-‘adzâbi qalîlan innakum ‘â'idûn

Sesungguhnya (kalau) Kami melenyapkan azab itu sebentar saja, pasti kamu akan kembali (ingkar).

16

يَوْمَ نَبْطِشُ الْبَطْشَةَ الْكُبْرٰىۚ اِنَّا مُنْتَقِمُوْنَ

yauma nabthisyul-bathsyatal-kubrâ, innâ muntaqimûn

(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan hantaman yang besar. Sesungguhnya Kami adalah pemberi balasan.

17

۞ وَلَقَدْ فَتَنَّا قَبْلَهُمْ قَوْمَ فِرْعَوْنَ وَجَاۤءَهُمْ رَسُوْلٌ كَرِيْمٌۙ

wa laqad fatannâ qablahum qauma fir‘auna wa jâ'ahum rasûlung karîm

Sungguh, Kami benar-benar telah menguji kaum Fir‘aun sebelum mereka dan telah datang (pula) seorang rasul yang mulia (Musa) kepada mereka.

18

اَنْ اَدُّوْٓا اِلَيَّ عِبَادَ اللّٰهِۗ اِنِّيْ لَكُمْ رَسُوْلٌ اَمِيْنٌۙ

an addû ilayya ‘ibâdallâh, innî lakum rasûlun amîn

(Musa berkata,) “Kembalikanlah kepadaku hamba-hamba Allah (Bani Israil). Sesungguhnya aku adalah utusan (Allah) yang dapat kamu percaya.

19

وَّاَنْ لَّا تَعْلُوْا عَلَى اللّٰهِۚ اِنِّيْٓ اٰتِيْكُمْ بِسُلْطٰنٍ مُّبِيْنٍۚ

wa al lâ ta‘lû ‘alallâh, innî âtîkum bisulthânim mubîn

Janganlah kamu menyombongkan diri terhadap Allah karena sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata.

20

وَاِنِّيْ عُذْتُ بِرَبِّيْ وَرَبِّكُمْ اَنْ تَرْجُمُوْنِۚ

wa innî ‘udztu birabbî wa rabbikum an tarjumûn

Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari ancamanmu untuk merajamku.

21

وَاِنْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا لِيْ فَاعْتَزِلُوْنِ

wa il lam tu'minû lî fa‘tazilûn

Jika kamu tidak beriman kepadaku, biarkanlah aku (menyampaikan pesan-pesan Tuhanku).”

22

فَدَعَا رَبَّهٗٓ اَنَّ هٰٓؤُلَاۤءِ قَوْمٌ مُّجْرِمُوْنَ

fa da‘â rabbahû anna hâ'ulâ'i qaumum mujrimûn

Kemudian, dia (Musa) berdoa kepada Tuhannya (seraya berkata,) “Sesungguhnya mereka ini adalah kaum pendurhaka.”

23

فَاَسْرِ بِعِبَادِيْ لَيْلًا اِنَّكُمْ مُّتَّبَعُوْنَۙ

fa asri bi‘ibâdî lailan innakum muttaba‘ûn

(Allah berfirman,) “Oleh karena itu, berjalanlah dengan hamba-hamba-Ku pada malam hari. Sesungguhnya kamu akan dikejar.

24

وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًاۗ اِنَّهُمْ جُنْدٌ مُّغْرَقُوْنَ

watrukil-baḫra rahwâ, innahum jundum mughraqûn

Biarkanlah laut itu terbelah. Sesungguhnya mereka adalah bala tentara yang akan ditenggelamkan.”

25

كَمْ تَرَكُوْا مِنْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍۙ

kam tarakû min jannâtiw wa ‘uyûn

Betapa banyak taman-taman dan mata-mata air yang mereka tinggalkan,

26

وَّزُرُوْعٍ وَّمَقَامٍ كَرِيْمٍۙ

wa zurû‘iw wa maqâming karîm

kebun-kebun serta tempat-tempat kediaman yang indah,

27

وَّنَعْمَةٍ كَانُوْا فِيْهَا فٰكِهِيْنَۙ

wa na‘mating kânû fîhâ fâkihîn

juga kesenangan-kesenangan yang dapat mereka nikmati di sana.

28

كَذٰلِكَۗ وَاَوْرَثْنٰهَا قَوْمًا اٰخَرِيْنَۚ

kadzâlik, wa auratsnâhâ qauman âkharîn

Demikianlah (Allah menyiksa mereka). Kami wariskan (semua) itu kepada kaum yang lain.

29

فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاۤءُ وَالْاَرْضُۗ وَمَا كَانُوْا مُنْظَرِيْنَࣖ

fa mâ bakat ‘alaihimus-samâ'u wal-ardl, wa mâ kânû mundharîn

Langit dan bumi tidak menangisi mereka dan mereka pun tidak diberi penangguhan waktu.

30

وَلَقَدْ نَجَّيْنَا بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ مِنَ الْعَذَابِ الْمُهِيْنِۙ

wa laqad najjainâ banî isrâ'îla minal-‘adzâbil-muhîn

Sungguh, Kami benar-benar telah menyelamatkan Bani Israil dari siksaan yang menghinakan,

31

مِنْ فِرْعَوْنَۗ اِنَّهٗ كَانَ عَالِيًا مِّنَ الْمُسْرِفِيْنَ

min fir‘aûn, innahû kâna ‘âliyam minal-musrifîn

(yaitu) dari (siksaan) Fir‘aun. Sesungguhnya dia adalah orang yang sombong lagi termasuk orang-orang yang melampaui batas.

32

وَلَقَدِ اخْتَرْنٰهُمْ عَلٰى عِلْمٍ عَلَى الْعٰلَمِيْنَۚ

wa laqadikhtarnâhum ‘alâ ‘ilmin ‘alal-‘âlamîn

Sungguh, dengan (dasar) pengetahuan, Kami pilih mereka di atas seluruh alam (semua bangsa pada masa itu).

33

وَاٰتَيْنٰهُمْ مِّنَ الْاٰيٰتِ مَا فِيْهِ بَلٰۤـؤٌا مُّبِيْنٌ

wa âtainâhum minal-âyâti mâ fîhi balâ'um mubîn

Telah Kami berikan kepada mereka sebagian tanda-tanda (kebesaran Kami) sesuatu yang di dalamnya terdapat cobaan yang nyata.

34

اِنَّ هٰٓؤُلَاۤءِ لَيَقُوْلُوْنَۙ

inna hâ'ulâ'i layaqûlûn

Sesungguhnya mereka itu pasti akan berkata,

35

اِنْ هِيَ اِلَّا مَوْتَتُنَا الْاُوْلٰى وَمَا نَحْنُ بِمُنْشَرِيْنَ

in hiya illâ mautatunal-ûlâ wa mâ naḫnu bimunsyarîn

“Tidak ada (kematian) selain kematian di dunia ini dan kami tidak akan dibangkitkan.

36

فَأْتُوْا بِاٰبَاۤىِٕنَآ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

fa'tû bi'âbâ'inâ ing kuntum shâdiqîn

Datangkanlah nenek moyang kami jika kamu orang-orang yang benar.”

37

اَهُمْ خَيْرٌ اَمْ قَوْمُ تُبَّعٍۙ وَّالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۗ اَهْلَكْنٰهُمْ اِنَّهُمْ كَانُوْا مُجْرِمِيْنَ

a hum khairun am qaumu tubba‘iw walladzîna ming qablihim, ahlaknâhum innahum kânû mujrimîn

Apakah mereka yang lebih baik atau kaum Tubba‘ dan orang-orang yang sebelum mereka. Kami telah membinasakan mereka karena sesungguhnya mereka adalah para pendusta.

38

وَمَا خَلَقْنَا السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لٰعِبِيْنَ

wa mâ khalaqnas-samâwâti wal-ardla wa mâ bainahumâ lâ‘ibîn

Tidaklah Kami ciptakan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya secara main-main.

39

مَا خَلَقْنٰهُمَآ اِلَّا بِالْحَقِّ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

mâ khalaqnâhumâ illâ bil-ḫaqqi wa lâkinna aktsarahum lâ ya‘lamûn

Tidaklah Kami ciptakan keduanya, kecuali dengan hak. Akan tetapi, kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.

40

اِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ مِيْقَاتُهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ

inna yaumal-fashli mîqâtuhum ajma‘în

Sesungguhnya hari keputusan (hari Kiamat) itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya,

41

يَوْمَ لَا يُغْنِيْ مَوْلًى عَنْ مَّوْلًى شَيْـًٔا وَّلَا هُمْ يُنْصَرُوْنَۙ

yauma lâ yughnî maulan ‘am maulan syai'aw wa lâ hum yunsharûn

(yaitu) hari (ketika) seorang teman setia sama sekali tidak dapat memberi manfaat sedikit pun kepada teman lainnya dan mereka tidak akan mendapat pertolongan,

42

اِلَّا مَنْ رَّحِمَ اللّٰهُۗ اِنَّهٗ هُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُࣖ

illâ mar raḫimallâh, innahû huwal-‘azîzur-raḫîm

kecuali orang yang diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.

43

اِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّوْمِۙ

inna syajarataz-zaqqûm

Sesungguhnya pohon zaqum itu

44

طَعَامُ الْاَثِيْمِۛ

tha‘âmul-atsîm

adalah makanan orang yang bergelimang dosa.

45

كَالْمُهْلِۛ يَغْلِيْ فِى الْبُطُوْنِۙ

kal-muhli yaghlî fil-buthûn

(Zaqum itu) seperti cairan tembaga yang mendidih di dalam perut,

46

كَغَلْيِ الْحَمِيْمِۗ

kaghalyil-ḫamîm

seperti mendidihnya air yang sangat panas.

47

خُذُوْهُ فَاعْتِلُوْهُ اِلٰى سَوَاۤءِ الْجَحِيْمِۙ

khudzûhu fa‘tilûhu ilâ sawâ'il-jaḫîm

Peganglah dia (wahai malaikat Zabaniyah), kemudian seretlah sampai ke tengah-tengah (neraka) Jahim.

48

ثُمَّ صُبُّوْا فَوْقَ رَأْسِهٖ مِنْ عَذَابِ الْحَمِيْمِۗ

tsumma shubbû fauqa ra'sihî min ‘adzâbil-ḫamîm

Kemudian, tuangkanlah di atas kepalanya azab berupa air yang sangat panas.

49

ذُقْۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَرِيْمُ

dzuq, innaka antal-‘azîzul-karîm

(Dikatakan kepadanya,) “Rasakanlah! Sesungguhnya engkau (dalam kehidupan dunia) benar-benar (merasa sebagai orang) yang perkasa lagi mulia.

50

اِنَّ هٰذَا مَا كُنْتُمْ بِهٖ تَمْتَرُوْنَ

inna hâdzâ mâ kuntum bihî tamtarûn

Sesungguhnya (azab) ini adalah sesuatu yang selalu kamu ragukan.”

51

اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ مَقَامٍ اَمِيْنٍۙ

innal-muttaqîna fî maqâmin amîn

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman,

52

فِيْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍۙ

fî jannâtiw wa ‘uyûn

(yaitu) di dalam taman-taman dan mata-mata air.

53

يَّلْبَسُوْنَ مِنْ سُنْدُسٍ وَّاِسْتَبْرَقٍ مُّتَقٰبِلِيْنَۚ

yalbasûna min sundusiw wa istabraqim mutaqâbilîn

Mereka memakai sutra yang halus dan sutra yang tebal seraya (duduk) berhadapan.

54

كَذٰلِكَۗ وَزَوَّجْنٰهُمْ بِحُوْرٍ عِيْنٍۗ

kadzâlik, wa zawwajnâhum biḫûrin ‘în

Demikianlah (keadaan penghuni surga) dan Kami menjadikan mereka berpasangan dengan bidadari yang bermata elok.

55

يَدْعُوْنَ فِيْهَا بِكُلِّ فَاكِهَةٍ اٰمِنِيْنَۙ

yad‘ûna fîhâ bikulli fâkihatin âminîn

Di dalamnya mereka dapat meminta segala macam buah-buahan dengan aman dan tenteram.

56

لَا يَذُوْقُوْنَ فِيْهَا الْمَوْتَ اِلَّا الْمَوْتَةَ الْاُوْلٰىۚ وَوَقٰىهُمْ عَذَابَ الْجَحِيْمِۙ

lâ yadzûqûna fîhal-mauta illal-mautatal-ûlâ, wa waqâhum ‘adzâbal-jaḫîm

Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya selain kematian pertama (di dunia). Allah melindungi mereka dari azab (neraka) Jahim

57

فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكَۚ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

fadllam mir rabbik, dzâlika huwal-fauzul-‘adhîm

sebagai karunia dari Tuhanmu. Itulah kemenangan yang sangat agung.

58

فَاِنَّمَا يَسَّرْنٰهُ بِلِسَانِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ

fa innamâ yassarnâhu bilisânika la‘allahum yatadzakkarûn

Sesungguhnya Kami telah memudahkannya (Al-Qur’an) dengan bahasamu (Arab) supaya mereka mendapat pelajaran.

59

فَارْتَقِبْ اِنَّهُمْ مُّرْتَقِبُوْنَࣖ

fartaqib innahum murtaqibûn

Maka, tunggulah (kehancuran mereka)! Sesungguhnya mereka itu (juga sedang) menunggu.

Anda baru saja membaca Surat Ad-Dukhan.
Kami baru saja menghapus semua iklan dari situs ini.
Donasi Anda yang menjaga Litequran.net tetap bebas iklan — untuk Anda dan ratusan ribu pembaca lainnya.

Donasi Sekarang

Pertanyaan Umum tentang Surat Ad-Dukhan

Apa isi kandungan Surat Ad-Dukhan?

Ad-Dukhan menyebutkan malam Lailatul Qadar sebagai malam diberkahi ketika semua urusan yang penuh hikmah diputuskan, serta mengisyaratkan kabut yang menyelimuti manusia sebagai salah satu tanda kiamat. Surat ini juga mengisahkan tenggelamnya Firaun beserta bala tentaranya di Laut Merah sebagai balasan atas kesombongan mereka. Surat Ad-Dukhan terdiri dari 59 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah (diturunkan di Mekkah).

Berapa jumlah ayat Surat Ad-Dukhan?

Surat Ad-Dukhan terdiri dari 59 ayat dan terdapat pada juz 25 dalam Al-Quran. Estimasi waktu membaca dengan tartil beserta terjemahannya sekitar 12 menit.

Mengapa surat ini dinamakan Ad-Dukhan (Kabut)?

Nama "Ad-Dukhan" (الدخان) berarti "Kabut" dalam bahasa Indonesia. Penamaan ini merujuk pada tema atau kisah utama yang dibahas dalam surat. Surat ini merupakan surat ke-44 dalam urutan mushaf Al-Quran.

Apakah Surat Ad-Dukhan Makkiyah atau Madaniyah?

Surat Ad-Dukhan termasuk golongan surat Makkiyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekkah. Surat Makkiyah umumnya membahas tema keimanan, tauhid, hari akhir, dan kisah para nabi sebagai penguatan akidah umat Islam di masa awal dakwah.

Kapan waktu terbaik membaca Surat Ad-Dukhan?

Surat Ad-Dukhan dapat dibaca kapan saja, terutama saat berdzikir dan bermunajat kepada Allah. Sebagai surat Makkiyah yang berisi penguatan iman dan tauhid, membacanya di waktu tenang seperti sepertiga malam terakhir atau setelah shalat Subuh sangat dianjurkan.

Apa keutamaan membaca Surat Ad-Dukhan?

Nabi ﷺ bersabda: 'Barangsiapa membaca Ha Mim Ad-Dukhan pada malam Jumat, maka dia akan diampuni.' (HR. At-Tirmidzi — didhaifkan oleh sebagian ulama) Surat ini mengandung penegasan tentang keagungan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Mengandung pelajaran dari kisah Firaun bahwa kekuasaan dan kekuatan duniawi tidak dapat menyelamatkan dari azab Allah. Memberikan gambaran kontras yang jelas antara kenikmatan surga dan kesengsaraan neraka sebagai motivasi beramal saleh.