Surat Al Jin

Jin • Makkiyah • 28 ayat

Tentang Surat Al-Jinn

Baca Surat Al-Jinn (Jin — الجن) lengkap dengan teks Latin, Arab, dan terjemahan bahasa Indonesia. Berikut adalah 28 ayat Makkiyah (Juz 29) — surat ke-72 dalam Al-Quran yang bisa Anda akses dengan cepat, ringan, dan tanpa iklan. Al-Jin mengisahkan sekelompok jin yang mendengarkan bacaan Al-Quran dari Rasulullah secara tidak sengaja, lalu merasa takjub dan segera kembali kepada kaumnya untuk menyampaikan ajaran Islam. Surat ini menegaskan bahwa jin pun memiliki kewajiban beribadah dan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat seperti halnya manusia..

Tema Utama

  • Jin mendengarkan Al-Quran dan beriman kepadanya
  • Pengakuan jin tentang keesaan Allah dan kebenaran Al-Quran
  • Larangan menyembah selain Allah termasuk meminta perlindungan kepada jin
  • Ilmu gaib hanya milik Allah dan tugas rasul hanya menyampaikan

Kandungan Surat

Ayat 1-7Jin mendengar Al-Quran — sekelompok jin mendengarkan bacaan Al-Quran lalu berkata bahwa mereka telah mendengar bacaan yang menakjubkan yang membimbing ke jalan kebenaran, sehingga mereka beriman. Mereka mengakui keesaan Allah dan mengingkari anggapan bahwa Allah mempunyai anak.
Ayat 8-15Pengakuan jin — jin menceritakan bahwa mereka pernah mencuri dengar berita langit namun kini dijaga oleh bintang-bintang yang menyala. Di antara jin ada yang berserah diri (Muslim) dan ada yang menyimpang; yang berserah diri telah mencari jalan kebenaran, sedangkan yang menyimpang menjadi kayu bakar Jahannam.
Ayat 16-19Perintah istiqamah — seandainya manusia dan jin istiqamah di jalan yang lurus, Allah akan memberi mereka air yang melimpah. Masjid-masjid adalah milik Allah, maka janganlah menyembah siapa pun selain-Nya.
Ayat 20-28Tugas rasul dan ilmu gaib — Nabi ﷺ hanya bertugas menyampaikan risalah. Ilmu gaib hanya milik Allah, kecuali yang Dia wahyukan kepada rasul pilihan-Nya dengan penjagaan malaikat dari depan dan belakang.

Keutamaan

  • Surat ini menjadi dalil utama bahwa jin juga menjadi objek dakwah Rasulullah ﷺ dan mereka mampu beriman kepada Al-Quran.
  • Nabi ﷺ membacakan Al-Quran kepada sekelompok jin di suatu malam, dan peristiwa ini diabadikan dalam surat ini. (HR. Al-Bukhari & Muslim)
  • Surat Al-Jinn memuat larangan tegas meminta perlindungan kepada jin, yang merupakan kebiasaan jahiliah.

Asbab Nuzul

Surat Al-Jinn turun berkaitan dengan peristiwa ketika Nabi Muhammad ﷺ sedang dalam perjalanan ke Thaif atau saat beliau shalat di Nakhlah. Sekelompok jin mendengarkan bacaan Al-Quran beliau lalu kembali kepada kaum mereka sebagai pemberi peringatan. Peristiwa ini terjadi pada masa awal dakwah di Mekkah ketika Nabi ﷺ menghadapi penolakan keras dari manusia, sehingga Allah menghibur beliau dengan kabar bahwa jin pun beriman kepada risalahnya.

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
1

قُلْ اُوْحِيَ اِلَيَّ اَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوْٓا اِنَّا سَمِعْنَا قُرْاٰنًا عَجَبًاۙ

qul ûḫiya ilayya annahustama‘a nafarum minal-jinni fa qâlû innâ sami‘nâ qur'ânan ‘ajabâ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an yang kubaca).” Lalu, mereka berkata, “Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan,

2

يَّهْدِيْٓ اِلَى الرُّشْدِ فَاٰمَنَّا بِهٖۗ وَلَنْ نُّشْرِكَ بِرَبِّنَآ اَحَدًاۖ

yahdî ilar-rusydi fa âmannâ bih, wa lan nusyrika birabbinâ aḫadâ

yang memberi petunjuk kepada kebenaran, sehingga kami pun beriman padanya dan tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami.

3

وَّاَنَّهٗ تَعٰلٰى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَّلَا وَلَدًاۖ

wa annahû ta‘âlâ jaddu rabbinâ mattakhadza shâḫibataw wa lâ waladâ

Sesungguhnya Mahatinggi keagungan Tuhan kami. Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak.

4

وَّاَنَّهٗ كَانَ يَقُوْلُ سَفِيْهُنَا عَلَى اللّٰهِ شَطَطًاۖ

wa annahû kâna yaqûlu safîhunâ ‘alallâhi syathathâ

Sesungguhnya orang yang bodoh di antara kami selalu mengucapkan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah.

5

وَّاَنَّا ظَنَنَّآ اَنْ لَّنْ تَقُوْلَ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللّٰهِ كَذِبًاۙ

wa annâ dhanannâ al lan taqûlal-insu wal-jinnu ‘alallâhi kadzibâ

Sesungguhnya kami mengira bahwa manusia dan jin itu tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.”

6

وَّاَنَّهٗ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْاِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًاۖ

wa annahû kâna rijâlum minal-insi ya‘ûdzûna birijâlim minal-jinni fa zâdûhum rahaqâ

Sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari (kalangan) manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari (kalangan) jin sehingga mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat.

7

وَّاَنَّهُمْ ظَنُّوْا كَمَا ظَنَنْتُمْ اَنْ لَّنْ يَّبْعَثَ اللّٰهُ اَحَدًاۖ

wa annahum dhannû kamâ dhanantum al lay yab‘atsallâhu aḫadâ

Sesungguhnya mereka (jin) mengira sebagaimana kamu (orang musyrik Makkah) mengira bahwa Allah tidak akan membangkitkan kembali siapa pun (pada hari Kiamat).

8

وَّاَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاۤءَ فَوَجَدْنٰهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيْدًا وَّشُهُبًاۖ

wa annâ lamasnas-samâ'a fa wajadnâhâ muli'at ḫarasan syadîdaw wa syuhubâ

(Jin berkata lagi,) “Sesungguhnya kami (jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit. Maka, kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api.

9

وَّاَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِۗ فَمَنْ يَّسْتَمِعِ الْاٰنَ يَجِدْ لَهٗ شِهَابًا رَّصَدًاۖ

wa annâ kunnâ naq‘udu min-hâ maqâ‘ida lis-sam‘, fa may yastami‘il-âna yajid lahû syihâbar rashadâ

Sesungguhnya kami (jin) dahulu selalu menduduki beberapa tempat (di langit) untuk mencuri dengar (berita-beritanya). Akan tetapi, sekarang siapa yang (mencoba) mencuri dengar pasti akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).

10

وَّاَنَّا لَا نَدْرِيْٓ اَشَرٌّ اُرِيْدَ بِمَنْ فِى الْاَرْضِ اَمْ اَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًاۙ

wa annâ lâ nadrî asyarrun urîda biman fil-ardli am arâda bihim rabbuhum rasyadâ

Sesungguhnya kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki terhadap siapa yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan terhadap mereka.

11

وَّاَنَّا مِنَّا الصّٰلِحُوْنَ وَمِنَّا دُوْنَ ذٰلِكَۗ كُنَّا طَرَاۤىِٕقَ قِدَدًاۙ

wa annâ minnash-shâliḫûna wa minnâ dûna dzâlik, kunnâ tharâ'iqa qidadâ

Sesungguhnya di antara kami ada yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda.

12

وَّاَنَّا ظَنَنَّآ اَنْ لَّنْ نُّعْجِزَ اللّٰهَ فِى الْاَرْضِ وَلَنْ نُّعْجِزَهٗ هَرَبًاۖ

wa annâ dhanannâ al lan nu‘jizallâha fil-ardli wa lan nu‘jizahû harabâ

Sesungguhnya kami yakin bahwa kami tidak akan mampu melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di bumi dan tidak (pula) dapat lari melepaskan diri (dari)-Nya.

13

وَّاَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدٰىٓ اٰمَنَّا بِهٖۗ فَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِرَبِّهٖ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَّلَا رَهَقًاۖ

wa annâ lammâ sami‘nal-hudâ âmannâ bih, fa may yu'mim birabbihî fa lâ yakhâfu bakhsaw wa lâ rahaqâ

Sesungguhnya ketika mendengar petunjuk (Al-Qur’an), kami pun beriman kepadanya. Maka, siapa yang beriman kepada Tuhannya tidak (perlu) takut akan pengurangan (pahala amalnya) dan tidak (takut pula) akan kesulitan (akibat penambahan dosa).

14

وَّاَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُوْنَ وَمِنَّا الْقٰسِطُوْنَۗ فَمَنْ اَسْلَمَ فَاُولٰۤىِٕكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا

wa annâ minnal-muslimûna wa minnal-qâsithûn, fa man aslama fa ulâ'ika taḫarrau rasyadâ

Sesungguhnya di antara kami ada yang muslim dan ada (pula) yang menyimpang dari kebenaran. Siapa yang (memeluk) Islam telah memilih jalan yang benar.

15

وَاَمَّا الْقٰسِطُوْنَ فَكَانُوْا لِجَهَنَّمَ حَطَبًاۙ

wa ammal-qâsithûna fa kânû lijahannama ḫathabâ

Adapun para penyimpang dari kebenaran menjadi bahan bakar (neraka) Jahanam.”

16

وَّاَنْ لَّوِ اسْتَقَامُوْا عَلَى الطَّرِيْقَةِ لَاَسْقَيْنٰهُمْ مَّاۤءً غَدَقًاۙ

wa al lawistaqâmû ‘alath-tharîqati la'asqainâhum mâ'an ghadaqâ

Seandainya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan air yang banyak (rezeki yang cukup).

17

لِّنَفْتِنَهُمْ فِيْهِۗ وَمَنْ يُّعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهٖ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًاۙ

linaftinahum fîh, wa may yu‘ridl ‘an dzikri rabbihî yasluk-hu ‘adzâban sha‘adâ

Dengan (cara) itu Kami hendak menguji mereka. Siapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang sangat berat.

18

وَّاَنَّ الْمَسٰجِدَ لِلّٰهِ فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللّٰهِ اَحَدًاۖ

wa annal-masâjida lillâhi fa lâ tad‘û ma‘allâhi aḫadâ

Sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allah. Maka, janganlah menyembah apa pun bersamaan dengan (menyembah) Allah.

19

وَّاَنَّهٗ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللّٰهِ يَدْعُوْهُ كَادُوْا يَكُوْنُوْنَ عَلَيْهِ لِبَدًاۗࣖ

wa annahû lammâ qâma ‘abdullâhi yad‘ûhu kâdû yakûnûna ‘alaihi libadâ

Sesungguhnya ketika hamba Allah (Nabi Muhammad) berdiri menyembah-Nya (melaksanakan salat), mereka (jin-jin) itu berdesakan mengerumuninya.

20

قُلْ اِنَّمَآ اَدْعُوْا رَبِّيْ وَلَآ اُشْرِكُ بِهٖٓ اَحَدًا

qul innamâ ad‘û rabbî wa lâ usyriku bihî aḫadâ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun.”

21

قُلْ اِنِّيْ لَآ اَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَّلَا رَشَدًا

qul innî lâ amliku lakum dlarraw wa lâ rasyadâ

Katakanlah, “Sesungguhnya aku tidak mampu (menolak) mudarat dan tidak (pula mampu mendatangkan) kebaikan kepadamu.”

22

قُلْ اِنِّيْ لَنْ يُّجِيْرَنِيْ مِنَ اللّٰهِ اَحَدٌ ەۙ وَّلَنْ اَجِدَ مِنْ دُوْنِهٖ مُلْتَحَدًاۙ

qul innî lay yujîranî minallâhi aḫaduw wa lan ajida min dûnihî multaḫadâ

Katakanlah, “Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain-Nya.

23

اِلَّا بَلٰغًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِسٰلٰتِهٖۗ وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَاِنَّ لَهٗ نَارَ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ

illâ balâgham minallâhi wa risâlâtih, wa may ya‘shillâha wa rasûlahû fa inna lahû nâra jahannama khâlidîna fîhâ abadâ

(Yang aku mampu lakukan) hanyalah menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya sesungguhnya akan mendapat (azab) neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”

24

حَتّٰىٓ اِذَا رَاَوْا مَا يُوْعَدُوْنَ فَسَيَعْلَمُوْنَ مَنْ اَضْعَفُ نَاصِرًا وَّاَقَلُّ عَدَدًاۗ

ḫattâ idzâ ra'au mâ yû‘adûna fa saya‘lamûna man adl‘afu nâshiraw wa aqallu ‘adadâ

Dengan demikian, apabila melihat (azab) yang diancamkan kepadanya, mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit jumlahnya.

25

قُلْ اِنْ اَدْرِيْٓ اَقَرِيْبٌ مَّا تُوْعَدُوْنَ اَمْ يَجْعَلُ لَهٗ رَبِّيْٓ اَمَدًا

qul in adrî a qarîbum mâ tû‘adûna am yaj‘alu lahû rabbî amadâ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak mengetahui apakah (azab) yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau Tuhanku menjadikan waktunya masih lama.”

26

عٰلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهٖٓ اَحَدًاۙ

‘âlimul-ghaibi fa lâ yudh-hiru ‘alâ ghaibihî aḫadâ

Dia mengetahui yang gaib. Lalu, Dia tidak memperlihatkan yang gaib itu kepada siapa pun,

27

اِلَّا مَنِ ارْتَضٰى مِنْ رَّسُوْلٍ فَاِنَّهٗ يَسْلُكُ مِنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ رَصَدًاۙ

illâ manirtadlâ mir rasûlin fa innahû yasluku mim baini yadaihi wa min khalfihî rashadâ

kecuali kepada rasul yang diridai-Nya. Sesungguhnya Dia menempatkan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya.

28

لِّيَعْلَمَ اَنْ قَدْ اَبْلَغُوْا رِسٰلٰتِ رَبِّهِمْ وَاَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَاَحْصٰى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًاࣖ

liya‘lama ang qad ablaghû risâlâti rabbihim wa aḫâtha bimâ ladaihim wa aḫshâ kulla syai'in ‘adadâ

(Yang demikian itu) agar Dia mengetahui bahwa (rasul-rasul itu) benar-benar telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedangkan (ilmu-Nya) meliputi apa yang ada pada mereka. Dia menghitung segala sesuatu satu per satu.

Anda baru saja membaca Surat Al-Jinn.
Kami baru saja menghapus semua iklan dari situs ini.
Donasi Anda yang menjaga Litequran.net tetap bebas iklan — untuk Anda dan ratusan ribu pembaca lainnya.

Donasi Sekarang

Pertanyaan Umum tentang Surat Al-Jinn

Apa isi kandungan Surat Al-Jinn?

Al-Jin mengisahkan sekelompok jin yang mendengarkan bacaan Al-Quran dari Rasulullah secara tidak sengaja, lalu merasa takjub dan segera kembali kepada kaumnya untuk menyampaikan ajaran Islam. Surat ini menegaskan bahwa jin pun memiliki kewajiban beribadah dan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat seperti halnya manusia. Surat Al-Jinn terdiri dari 28 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah (diturunkan di Mekkah).

Berapa jumlah ayat Surat Al-Jinn?

Surat Al-Jinn terdiri dari 28 ayat dan terdapat pada juz 29 dalam Al-Quran. Estimasi waktu membaca dengan tartil beserta terjemahannya sekitar 6 menit.

Mengapa surat ini dinamakan Al-Jinn (Jin)?

Nama "Al-Jinn" (الجن) berarti "Jin" dalam bahasa Indonesia. Penamaan ini merujuk pada tema atau kisah utama yang dibahas dalam surat. Surat ini merupakan surat ke-72 dalam urutan mushaf Al-Quran.

Apakah Surat Al-Jinn Makkiyah atau Madaniyah?

Surat Al-Jinn termasuk golongan surat Makkiyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekkah. Surat Makkiyah umumnya membahas tema keimanan, tauhid, hari akhir, dan kisah para nabi sebagai penguatan akidah umat Islam di masa awal dakwah.

Kapan waktu terbaik membaca Surat Al-Jinn?

Surat Al-Jinn dapat dibaca kapan saja, terutama saat berdzikir dan bermunajat kepada Allah. Sebagai surat Makkiyah yang berisi penguatan iman dan tauhid, membacanya di waktu tenang seperti sepertiga malam terakhir atau setelah shalat Subuh sangat dianjurkan.

Apa keutamaan membaca Surat Al-Jinn?

Surat ini menjadi dalil utama bahwa jin juga menjadi objek dakwah Rasulullah ﷺ dan mereka mampu beriman kepada Al-Quran. Nabi ﷺ membacakan Al-Quran kepada sekelompok jin di suatu malam, dan peristiwa ini diabadikan dalam surat ini. (HR. Al-Bukhari & Muslim) Surat Al-Jinn memuat larangan tegas meminta perlindungan kepada jin, yang merupakan kebiasaan jahiliah.