Surat Al Mujadilah

Perempuan Penggugat • Madaniyah • 22 ayat

Tentang Surat Al-Mujadilah

Baca Surat Al-Mujadilah (Wanita yang Mengajukan Gugatan — المجادلة) lengkap dengan teks Latin, Arab, dan terjemahan bahasa Indonesia. Berikut adalah 22 ayat Madaniyah (Juz 28) — surat ke-58 dalam Al-Quran.

Al-Mujadilah diturunkan berkenaan dengan seorang wanita bernama Khaulah binti Tsa'labah yang mengadu kepada Allah tentang suaminya yang melakukan zihar (menyerupakan istri dengan ibu), lalu Allah turunkan hukumnya. Surat ini juga melarang orang beriman berwali dan bersekongkol dengan musuh-musuh Allah..

Tema Utama

  • Hukum zihar dan sanksinya — larangan menyamakan istri dengan ibu
  • Kisah Khaulah binti Tsa'labah yang mengadu kepada Allah tentang suaminya
  • Adab bermajelis dan etika dalam pertemuan
  • Peringatan tentang bisikan rahasia (najwa) yang bertujuan buruk
  • Larangan berwala' (loyalitas) kepada musuh-musuh Allah

Kandungan Surat

Ayat 1-4Pengaduan Khaulah dan hukum zihar — Allah mendengar pengaduan Khaulah binti Tsa'labah tentang suaminya (Aus bin Shamit) yang menziharnya, lalu Allah menetapkan bahwa zihar adalah perkataan mungkar dan dusta, serta menetapkan kafaratnya: memerdekakan budak, puasa dua bulan berturut-turut, atau memberi makan enam puluh orang miskin.
Ayat 5-6Ancaman bagi penentang Allah dan Rasul-Nya — mereka yang menentang akan dihinakan sebagaimana orang-orang sebelum mereka, dan pada hari kiamat Allah akan membangkitkan mereka lalu memberitakan apa yang telah mereka kerjakan.
Ayat 7-10Ilmu Allah yang meliputi segalanya dan larangan najwa (bisikan rahasia) — Allah mengetahui segala pembicaraan rahasia, dan melarang bisikan rahasia untuk perbuatan dosa dan permusuhan.
Ayat 11-13Adab majelis — perintah untuk melapangkan tempat dalam majelis, serta anjuran bersedekah sebelum berbisik dengan Rasulullah ﷺ yang kemudian diringankan hukumnya.
Ayat 14-22Peringatan tentang loyalitas kepada musuh Allah — larangan berkawan akrab dengan kaum yang dimurkai Allah, gambaran orang munafik yang bersumpah palsu, serta penegasan bahwa golongan Allah (Hizbullah) adalah orang-orang yang beriman dan menentang siapa saja yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya.

Keutamaan

  • Surat ini memuat contoh keadilan Islam terhadap perempuan — Allah langsung merespons pengaduan seorang istri yang dizalimi oleh suaminya.
  • Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Mahasuci Allah yang pendengaran-Nya meliputi segala sesuatu. Aku mendengar ucapan Khaulah binti Tsa'labah, sementara sebagiannya tersembunyi dariku, dia mengadu kepada Rasulullah ﷺ tentang suaminya, lalu Allah menurunkan ayat ini." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, Ibnu Majah)
  • Mengandung penetapan hukum zihar yang menjadi rujukan utama dalam fikih Islam tentang perlindungan hak-hak istri.
  • Surat ini menegaskan sifat Allah As-Sami' (Maha Mendengar) yang mendengar doa dan keluhan setiap hamba.

Asbab Nuzul

Surat Al-Mujadilah turun di Madinah. Sebab utama turunnya adalah peristiwa Khaulah binti Tsa'labah yang mengadu kepada Rasulullah ﷺ tentang suaminya, Aus bin Ash-Shamit, yang menziharnya dengan berkata: "Engkau bagiku seperti punggung ibuku." Khaulah merasa sangat terzalimi karena ia sudah tua dan memiliki anak-anak kecil. Ia terus mengadu dan berdoa kepada Allah hingga turunlah ayat-ayat pembuka surat ini yang membatalkan keabsahan zihar dan menetapkan kafaratnya.

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qurthubi, Shahih Bukhari, Sunan An-Nasa'i, Sunan Ibnu Majah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
1

قَدْ سَمِعَ اللّٰهُ قَوْلَ الَّتِيْ تُجَادِلُكَ فِيْ زَوْجِهَا وَتَشْتَكِيْٓ اِلَى اللّٰهِۖ وَاللّٰهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَاۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌۢ بَصِيْرٌ

qad sami‘allâhu qaulallatî tujâdiluka fî zaujihâ wa tasytakî ilallâhi wallâhu yasma‘u taḫâwurakumâ, innallâha samî‘um bashîr

Sungguh, Allah telah mendengar ucapan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu (Nabi Muhammad) tentang suaminya dan mengadukan kepada Allah, padahal Allah mendengar percakapan kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

2

اَلَّذِيْنَ يُظٰهِرُوْنَ مِنْكُمْ مِّنْ نِّسَاۤىِٕهِمْ مَّا هُنَّ اُمَّهٰتِهِمْۗ اِنْ اُمَّهٰتُهُمْ اِلَّا الّٰۤـِٔيْ وَلَدْنَهُمْۗ وَاِنَّهُمْ لَيَقُوْلُوْنَ مُنْكَرًا مِّنَ الْقَوْلِ وَزُوْرًاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَعَفُوٌّ غَفُوْرٌ

alladzîna yudhâhirûna mingkum min nisâ'ihim mâ hunna ummahâtihim, in ummahâtuhum illal-lâ'î waladnahum, wa innahum layaqûlûna mungkaram minal-qauli wazûrâ, wa innallâha la‘afuwwun ghafûr

Orang-orang yang menzihar istrinya (menganggapnya sebagai ibu) di antara kamu, istri mereka itu bukanlah ibunya. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah perempuan yang melahirkannya. Sesungguhnya mereka benar-benar telah mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

3

وَالَّذِيْنَ يُظٰهِرُوْنَ مِنْ نِّسَاۤىِٕهِمْ ثُمَّ يَعُوْدُوْنَ لِمَا قَالُوْا فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّتَمَاۤسَّاۗ ذٰلِكُمْ تُوْعَظُوْنَ بِهٖۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

walladzîna yudhâhirûna min nisâ'ihim tsumma ya‘ûdûna limâ qâlû fa taḫrîru raqabatim ming qabli ay yatamâssâ, dzâlikum tû‘adhûna bih, wallâhu bimâ ta‘malûna khabîr

Orang-orang yang menzihar istrinya kemudian menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan wajib memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu berhubungan badan. Demikianlah yang diajarkan kepadamu. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

4

فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ اَنْ يَّتَمَاۤسَّاۗ فَمَنْ لَّمْ يَسْتَطِعْ فَاِطْعَامُ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًاۗ ذٰلِكَ لِتُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۗ وَتِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِۗ وَلِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

fa mal lam yajid fa shiyâmu syahraini mutatâbi‘aini ming qabli ay yatamâssâ, fa mal lam yastathi‘ fa ith‘âmu sittîna miskînâ, dzâlika litu'minû billâhi wa rasûlih, wa tilka ḫudûdullâh, wa lil-kâfirîna ‘adzâbun alîm

Siapa yang tidak mendapatkan (hamba sahaya) wajib berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya berhubungan badan. Akan tetapi, siapa yang tidak mampu, (wajib) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah ketentuan-ketentuan Allah. Orang-orang kafir mendapat azab yang pedih.

5

اِنَّ الَّذِيْنَ يُحَاۤدُّوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ كُبِتُوْا كَمَا كُبِتَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَقَدْ اَنْزَلْنَآ اٰيٰتٍ ۢ بَيِّنٰتٍۗ وَلِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابٌ مُّهِيْنٌۚ

innalladzîna yuḫâddûnallâha wa rasûlahû kubitû kamâ kubitalladzîna ming qablihim wa qad anzalnâ âyâtim bayyinât, wa lil-kâfirîna ‘adzâbum muhîn

Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya dihinakan sebagaimana dihinakan orang-orang sebelum mereka. Sungguh, Kami telah menurunkan bukti-bukti yang nyata. Orang-orang kafir mendapat azab yang menghinakan.

6

يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوْاۗ اَحْصٰىهُ اللّٰهُ وَنَسُوْهُۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌࣖ

yauma yab‘atsuhumullâhu jamî‘an fa yunabbi'uhum bimâ ‘amilû, aḫshâhullâhu wa nasûh, wallâhu ‘alâ kulli syai'in syahîd

Pada hari itu Allah membangkitkan mereka semua, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah menghitungnya (semua amal) meskipun mereka telah melupakannya. Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.

7

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَا يَكُوْنُ مِنْ نَّجْوٰى ثَلٰثَةٍ اِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ اِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَآ اَدْنٰى مِنْ ذٰلِكَ وَلَآ اَكْثَرَ اِلَّا هُوَ مَعَهُمْ اَيْنَ مَا كَانُوْاۚ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

a lam tara annallâha ya‘lamu mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl, mâ yakûnu min najwâ tsalâtsatin illâ huwa râbi‘uhum wa lâ khamsatin illâ huwa sâdisuhum wa lâ adnâ min dzâlika wa lâ aktsara illâ huwa ma‘ahum aina mâ kânû, tsumma yunabbi'uhum bimâ ‘amilû yaumal-qiyâmah, innallâha bikulli syai'in ‘alîm

Apakah engkau tidak memperhatikan bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, kecuali Dialah yang keempatnya dan tidak ada lima orang, kecuali Dialah yang keenamnya. Tidak kurang dari itu atau lebih banyak, kecuali Dia bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian, Dia memberitakan apa yang telah mereka kerjakan kepada mereka pada hari Kiamat. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

8

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ نُهُوْا عَنِ النَّجْوٰى ثُمَّ يَعُوْدُوْنَ لِمَا نُهُوْا عَنْهُ وَيَتَنٰجَوْنَ بِالْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُوْلِۖ وَاِذَا جَاۤءُوْكَ حَيَّوْكَ بِمَا لَمْ يُحَيِّكَ بِهِ اللّٰهُۙ وَيَقُوْلُوْنَ فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللّٰهُ بِمَا نَقُوْلُۗ حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُۚ يَصْلَوْنَهَاۚ فَبِئْسَ الْمَصِيْرُ

a lam tara ilalladzîna nuhû ‘anin-najwâ tsumma ya‘ûdûna limâ nuhû ‘an-hu wa yatanâjauna bil-itsmi wal-‘udwâni wa ma‘shiyatir-rasûli wa idzâ jâ'ûka ḫayyauka bimâ lam yuḫayyika bihillâhu wa yaqûlûna fî anfusihim lau lâ yu‘adzdzibunallâhu bimâ naqûl, ḫasbuhum jahannam, yashlaunahâ, fa bi'sal-mashîr

Apakah engkau tidak memperhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (melakukan) apa yang telah dilarang itu? Mereka saling mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Apabila datang kepadamu (Nabi Muhammad), mereka mengucapkan salam kepadamu dengan cara yang bukan sebagaimana yang ditentukan Allah untukmu. Mereka mengatakan dalam hati, “Mengapa Allah tidak menyiksa kita atas apa yang kita katakan?” Cukuplah bagi mereka (neraka) Jahanam yang akan mereka masuki. Maka, (neraka itu) seburuk-buruk tempat kembali.

9

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا تَنَاجَيْتُمْ فَلَا تَتَنَاجَوْا بِالْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُوْلِ وَتَنَاجَوْا بِالْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْٓ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ

yâ ayyuhalladzîna âmanû idzâ tanâjaitum fa lâ tatanâjau bil-itsmi wal-‘udwâni wa ma‘shiyatir-rasûli wa tanâjau bil-birri wat-taqwâ, wattaqullâhalladzî ilaihi tuḫsyarûn

Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu saling mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah berbicara tentang perbuatan dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Akan tetapi, berbicaralah tentang perbuatan kebajikan dan takwa. Bertakwalah kepada Allah yang hanya kepada-Nya kamu akan dikumpulkan.

10

اِنَّمَا النَّجْوٰى مِنَ الشَّيْطٰنِ لِيَحْزُنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَيْسَ بِضَاۤرِّهِمْ شَيْـًٔا اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ

innaman-najwâ minasy-syaithâni liyaḫzunalladzîna âmanû wa laisa bidlârrihim syai'an illâ bi'idznillâh, wa ‘alallâhi falyatawakkalil-mu'minûn

Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu hanyalah dari setan, agar orang-orang yang beriman itu bersedih hati, sedangkan (pembicaraan) itu tidaklah memberi mudarat sedikit pun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah. Hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.

11

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

yâ ayyuhalladzîna âmanû idzâ qîla lakum tafassaḫû fil-majâlisi fafsaḫû yafsaḫillâhu lakum, wa idzâ qîlansyuzû fansyuzû yarfa‘illâhulladzîna âmanû mingkum walladzîna ûtul-‘ilma darajât, wallâhu bimâ ta‘malûna khabîr

Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

12

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نَاجَيْتُمُ الرَّسُوْلَ فَقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوٰىكُمْ صَدَقَةًۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَاَطْهَرُۗ فَاِنْ لَّمْ تَجِدُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

yâ ayyuhalladzîna âmanû idzâ nâjaitumur-rasûla fa qaddimû baina yadai najwâkum shadaqah, dzâlika khairul lakum wa ath-har, fa il lam tajidû fa innallâha ghafûrur raḫîm

Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu (ingin) melakukan pembicaraan rahasia dengan Rasul, hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum (melakukan) pembicaraan itu. Hal itu lebih baik bagimu dan lebih bersih. Akan tetapi, jika kamu tidak mendapatkan (apa yang akan disedekahkan), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

13

ءَاَشْفَقْتُمْ اَنْ تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوٰىكُمْ صَدَقٰتٍۗ فَاِذْ لَمْ تَفْعَلُوْا وَتَابَ اللّٰهُ عَلَيْكُمْ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗۗ وَاللّٰهُ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَࣖ

a asyfaqtum an tuqaddimû baina yadai najwâkum shadaqât, fa idz lam taf‘alû wa tâballâhu ‘alaikum fa aqîmush-shalâta wa âtuz-zakâta wa athî‘ullâha wa rasûlah, wallâhu khabîrum bimâ ta‘malûn

Apakah kamu takut (menjadi miskin) jika mengeluarkan sedekah sebelum (melakukan) pembicaraan rahasia dengan Rasul? Jika kamu tidak melakukannya dan Allah mengampunimu, tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, serta taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

14

۞ اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْۗ مَا هُمْ مِّنْكُمْ وَلَا مِنْهُمْۙ وَيَحْلِفُوْنَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ

a lam tara ilalladzîna tawallau qauman ghadliballâhu ‘alaihim, mâ hum mingkum wa lâ min-hum wa yaḫlifûna ‘alal-kadzibi wa hum ya‘lamûn

Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang (munafik) yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai sahabat? Orang-orang itu bukan dari (kaum)-mu dan bukan dari (kaum) mereka. Mereka bersumpah secara dusta (mengaku mukmin), padahal mereka mengetahuinya.

15

اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًاۗ اِنَّهُمْ سَاۤءَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

a‘addallâhu lahum ‘adzâban syadîdâ, innahum sâ'a mâ kânû ya‘malûn

Allah telah menyediakan azab yang sangat keras bagi mereka. Sesungguhnya sangat buruk apa yang selalu mereka kerjakan.

16

اِتَّخَذُوْٓا اَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ

ittakhadzû aimânahum junnatan fa shaddû ‘an sabîlillâhi fa lahum ‘adzâbum muhîn

Mereka menjadikan sumpah-sumpahnya sebagai perisai, lalu menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Maka, bagi mereka azab yang menghinakan.

17

لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ اَمْوَالُهُمْ وَلَآ اَوْلَادُهُمْ مِّنَ اللّٰهِ شَيْـًٔاۗ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۗ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

lan tughniya ‘an-hum amwâluhum wa lâ aulâduhum minallâhi syai'â, ulâ'ika ash-ḫâbun-nâr, hum fîhâ khâlidûn

Harta benda dan anak-anak mereka tidak berguna sedikit pun (untuk menolong mereka) dari (azab) Allah. Mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.

18

يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا فَيَحْلِفُوْنَ لَهٗ كَمَا يَحْلِفُوْنَ لَكُمْ وَيَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ عَلٰى شَيْءٍۗ اَلَآ اِنَّهُمْ هُمُ الْكٰذِبُوْنَ

yauma yab‘atsuhumullâhu jamî‘an fa yaḫlifûna lahû kamâ yaḫlifûna lakum wa yaḫsabûna annahum ‘alâ syaî', alâ innahum humul-kâdzibûn

(Ingatlah) pada hari (ketika) Allah membangkitkan mereka semuanya. Lalu, mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka mukmin) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu. Mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat dari dustanya). Ketahuilah, sesungguhnya mereka adalah para pendusta.

19

اِسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطٰنُ فَاَنْسٰىهُمْ ذِكْرَ اللّٰهِۗ اُولٰۤىِٕكَ حِزْبُ الشَّيْطٰنِۗ اَلَآ اِنَّ حِزْبَ الشَّيْطٰنِ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ

istaḫwadza ‘alaihimusy-syaithânu fa ansâhum dzikrallâh, ulâ'ika ḫizbusy-syaithân, alâ inna ḫizbasy-syaithâni humul-khâsirûn

Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikannya lupa mengingat Allah. Mereka itulah golongan setan. Ketahuilah sesungguhnya golongan setan itulah orang-orang yang rugi.

20

اِنَّ الَّذِيْنَ يُحَاۤدُّوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗٓ اُولٰۤىِٕكَ فِى الْاَذَلِّيْنَ

innalladzîna yuḫâddûnallâha wa rasûlahû ulâ'ika fil-adzallîn

Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina.

21

كَتَبَ اللّٰهُ لَاَغْلِبَنَّ اَنَا۠ وَرُسُلِيْۗ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌ

kataballâhu la'aghlibanna ana wa rusulî, innallâha qawiyyun ‘azîz

Allah telah menetapkan, “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.” Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.

22

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُّؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ يُوَاۤدُّوْنَ مَنْ حَاۤدَّ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَوْ كَانُوْٓا اٰبَاۤءَهُمْ اَوْ اَبْنَاۤءَهُمْ اَوْ اِخْوَانَهُمْ اَوْ عَشِيْرَتَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ كَتَبَ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْاِيْمَانَ وَاَيَّدَهُمْ بِرُوْحٍ مِّنْهُۗ وَيُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُۗ اُولٰۤىِٕكَ حِزْبُ اللّٰهِۗ اَلَآ اِنَّ حِزْبَ اللّٰهِ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَࣖ

lâ tajidu qaumay yu'minûna billâhi wal-yaumil-âkhiri yuwâddûna man ḫâddallâha wa rasûlahû walau kânû âbâ'ahum au abnâ'ahum au ikhwânahum au ‘asyîratahum, ulâ'ika kataba fî qulûbihimul-îmâna wa ayyadahum birûḫim min-h, wa yudkhiluhum jannâtin tajrî min taḫtihal-an-hâru khâlidîna fîhâ, radliyallâhu ‘an-hum wa radlû ‘an-h, ulâ'ika ḫizbullâh, alâ inna ḫizballâhi humul-mufliḫûn

Engkau (Nabi Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhir saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya sekalipun mereka itu bapaknya, anaknya, saudaranya, atau kerabatnya. Mereka itulah orang-orang yang telah Allah tetapkan keimanan di dalam hatinya dan menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya. Dia akan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang yang beruntung.

Anda baru saja membaca Surat Al-Mujadilah.
Kami baru saja menghapus semua iklan dari situs ini.
Donasi Anda yang menjaga Litequran.net tetap bebas iklan — untuk Anda dan ratusan ribu pembaca lainnya.

Donasi Sekarang

Pertanyaan Umum tentang Surat Al-Mujadilah

Apa isi kandungan Surat Al-Mujadilah?

Al-Mujadilah diturunkan berkenaan dengan seorang wanita bernama Khaulah binti Tsa'labah yang mengadu kepada Allah tentang suaminya yang melakukan zihar (menyerupakan istri dengan ibu), lalu Allah turunkan hukumnya. Surat ini juga melarang orang beriman berwali dan bersekongkol dengan musuh-musuh Allah. Surat Al-Mujadilah terdiri dari 22 ayat dan termasuk golongan surat Madaniyah (diturunkan di Madinah).

Berapa jumlah ayat Surat Al-Mujadilah?

Surat Al-Mujadilah terdiri dari 22 ayat dan terdapat pada juz 28 dalam Al-Quran. Estimasi waktu membaca dengan tartil beserta terjemahannya sekitar 4 menit.

Mengapa surat ini dinamakan Al-Mujadilah (Wanita yang Mengajukan Gugatan)?

Nama "Al-Mujadilah" (المجادلة) berarti "Wanita yang Mengajukan Gugatan" dalam bahasa Indonesia. Penamaan ini merujuk pada tema atau kisah utama yang dibahas dalam surat. Surat ini merupakan surat ke-58 dalam urutan mushaf Al-Quran.

Apakah Surat Al-Mujadilah Makkiyah atau Madaniyah?

Surat Al-Mujadilah termasuk golongan surat Madaniyah, yaitu surat yang diturunkan di Madinah. Surat Madaniyah umumnya memuat hukum-hukum syariat, aturan bermasyarakat, serta pedoman hubungan antarumat sebagai panduan hidup bernegara dan bermasyarakat.

Kapan waktu terbaik membaca Surat Al-Mujadilah?

Surat Al-Mujadilah dapat dibaca kapan saja. Sebagai surat Madaniyah yang memuat pedoman syariat dan kehidupan bermasyarakat, membacanya secara rutin membantu memahami hukum-hukum Islam yang terkandung di dalamnya.

Apa keutamaan membaca Surat Al-Mujadilah?

Surat ini memuat contoh keadilan Islam terhadap perempuan — Allah langsung merespons pengaduan seorang istri yang dizalimi oleh suaminya. Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Mahasuci Allah yang pendengaran-Nya meliputi segala sesuatu. Aku mendengar ucapan Khaulah binti Tsa'labah, sementara sebagiannya tersembunyi dariku, dia mengadu kepada Rasulullah ﷺ tentang suaminya, lalu Allah menurunkan ayat ini." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, Ibnu Majah) Mengandung penetapan hukum zihar yang menjadi rujukan utama dalam fikih Islam tentang perlindungan hak-hak istri. Surat ini menegaskan sifat Allah As-Sami' (Maha Mendengar) yang mendengar doa dan keluhan setiap hamba.

Apakah membaca Surat Al-Mujadilah di LiteQuran benar-benar gratis dan tanpa iklan?

Ya, LiteQuran menyediakan Surat Al-Mujadilah lengkap dengan teks Arab, Latin, terjemahan, tafsir, dan audio murottal secara 100% gratis dan tanpa iklan sama sekali. Halaman dimuat sangat cepat karena tidak ada script iklan yang memperlambat. Anda bisa fokus membaca Al-Quran tanpa gangguan pop-up atau banner iklan.