Surat Al Mumtahanah

Wanita Yang Diuji • Madaniyah • 13 ayat

Tentang Surat Al-Mumtahanah

Baca Surat Al-Mumtahanah (Wanita yang Diuji — الممتحنة) lengkap dengan teks Latin, Arab, dan terjemahan bahasa Indonesia. Berikut adalah 13 ayat Madaniyah (Juz 28) — surat ke-60 dalam Al-Quran yang bisa Anda akses dengan cepat, ringan, dan tanpa iklan. Al-Mumtahanah memuat hukum tentang wanita mukminah yang hijrah dari negeri kafir, cara menguji keimanan mereka, dan hukum pernikahan dengan orang kafir. Surat ini juga melarang menjadikan musuh-musuh Allah dan Islam sebagai sahabat setia, sambil meneladani sikap Nabi Ibrahim yang berlepas diri dari kemusyrikan keluarganya..

Tema Utama

  • Larangan menjadikan musuh Allah sebagai penolong dan teman setia
  • Teladan Nabi Ibrahim dalam berlepas diri dari kemusyrikan
  • Ujian keimanan wanita-wanita mukminah yang berhijrah ke Madinah
  • Hukum pernikahan dengan orang kafir dan konsekuensinya
  • Ketentuan baiat (sumpah setia) wanita mukminah kepada Rasulullah ﷺ

Kandungan Surat

Ayat 1-3Larangan berwala' kepada musuh — teguran kepada orang beriman yang menyampaikan rahasia kepada orang kafir, dengan kisah Hathib bin Abi Balta'ah yang mengirim surat rahasia kepada kaum Quraisy sebelum Fathu Makkah. Penegasan bahwa kerabat dan anak-anak tidak akan berguna di hari kiamat.
Ayat 4-6Teladan Ibrahim — contoh Nabi Ibrahim dan orang-orang beriman bersamanya yang berlepas diri dari kaumnya yang musyrik, dengan menyatakan permusuhan dan kebencian terhadap kemusyrikan hingga mereka beriman kepada Allah semata.
Ayat 7-9Sikap adil kepada non-muslim — Allah tidak melarang berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi agama Islam dan tidak mengusir kaum muslimin, namun melarang berwala' kepada mereka yang memusuhi dan mengusir.
Ayat 10-11Ujian wanita mukminah yang berhijrah — perintah menguji keimanan wanita-wanita yang datang berhijrah, larangan mengembalikan mereka kepada orang kafir, dan kewajiban mengembalikan mahar kepada suami kafir mereka.
Ayat 12-13Baiat wanita — ketentuan baiat wanita mukminah kepada Rasulullah ﷺ dengan syarat tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak, tidak berdusta, dan tidak mendurhakai perintah yang ma'ruf.

Keutamaan

  • Surat ini memuat prinsip penting tentang toleransi dalam Islam — berbuat baik dan adil kepada non-muslim yang tidak memusuhi Islam (ayat 8).
  • Mengandung teladan agung Nabi Ibrahim dalam ketegasan akidah sekaligus kelembutan doa untuk ayahnya.
  • Memuat hukum-hukum penting tentang hubungan internasional dalam Islam, termasuk perlindungan hak wanita yang berhijrah.
  • Ayat baiat wanita (ayat 12) menjadi dasar hukum baiat perempuan dalam Islam yang memberi pengakuan terhadap peran politik perempuan.

Asbab Nuzul

Surat Al-Mumtahanah turun di Madinah menjelang peristiwa Fathu Makkah (pembebasan kota Mekkah) pada tahun 8 Hijriyah. Sebab utama turunnya adalah peristiwa Hathib bin Abi Balta'ah, seorang sahabat yang ikut Perang Badar, yang mengirim surat rahasia kepada kaum Quraisy untuk memberitahukan rencana penyerangan Rasulullah ﷺ ke Mekkah. Jibril memberitahu Nabi ﷺ, dan surat itu berhasil dicegat. Hathib beralasan ia melakukannya untuk melindungi keluarganya di Mekkah, bukan karena kemunafikan. Umar ingin memenggalnya, tetapi Nabi ﷺ memaafkannya karena ia peserta Badar.

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Tafsir Al-Qurthubi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
1

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا عَدُوِّيْ وَعَدُوَّكُمْ اَوْلِيَاۤءَ تُلْقُوْنَ اِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوْا بِمَا جَاۤءَكُمْ مِّنَ الْحَقِّۚ يُخْرِجُوْنَ الرَّسُوْلَ وَاِيَّاكُمْ اَنْ تُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ رَبِّكُمْۗ اِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِيْ سَبِيْلِيْ وَابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِيْ تُسِرُّوْنَ اِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَاَنَا۠ اَعْلَمُ بِمَآ اَخْفَيْتُمْ وَمَآ اَعْلَنْتُمْۗ وَمَنْ يَّفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ

yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ tattakhidzû ‘aduwwî wa ‘aduwwakum auliyâ'a tulqûna ilaihim bil-mawaddati wa qad kafarû bimâ jâ'akum minal-ḫaqq, yukhrijûnar-rasûla wa iyyâkum an tu'minû billâhi rabbikum, ing kuntum kharajtum jihâdan fî sabîlî wabtighâ'a mardlâtî tusirrûna ilaihim bil-mawaddati wa ana a‘lamu bimâ akhfaitum wa mâ a‘lantum, wa may yaf‘al-hu mingkum fa qad dlalla sawâ'as-sabîl

Wahai orang-orang yang beriman. Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman setia. Kamu sampaikan kepada mereka (hal-hal yang seharusnya dirahasiakan) karena rasa kasih sayang (kamu kepada mereka). Padahal, mereka telah mengingkari kebenaran yang datang kepadamu. Mereka mengusir Rasul dan kamu (dari Makkah) karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku, (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (hal-hal yang seharusnya dirahasiakan) kepada mereka karena rasa kasih sayang. Aku lebih tahu tentang apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Siapa di antara kamu yang melakukannya sungguh telah tersesat dari jalan yang lurus.

2

اِنْ يَّثْقَفُوْكُمْ يَكُوْنُوْا لَكُمْ اَعْدَاۤءً وَّيَبْسُطُوْٓا اِلَيْكُمْ اَيْدِيَهُمْ وَاَلْسِنَتَهُمْ بِالسُّوْۤءِ وَوَدُّوْا لَوْ تَكْفُرُوْنَۗ

iy yatsqafûkum yakûnû lakum a‘dâ'aw wa yabsuthû ilaikum aidiyahum wa alsinatahum bis-sû'i wa waddû lau takfurûn

Jika (suatu saat) mereka menangkapmu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu. Lalu, mereka melepaskan tangan dan lidahnya kepadamu untuk menyakiti dan mereka ingin agar kamu (kembali) kafir.

3

لَنْ تَنْفَعَكُمْ اَرْحَامُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْۛ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۛ يَفْصِلُ بَيْنَكُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

lan tanfa‘akum ar-ḫâmukum wa lâ aulâdukum, yaumal-qiyâmati yafshilu bainakum, wallâhu bimâ ta‘malûna bashîr

Kaum kerabatmu dan anak-anakmu tidak akan bermanfaat bagimu pada hari Kiamat. Kelak Dia akan memisahkan antara kamu. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

4

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗۚ اِذْ قَالُوْا لِقَوْمِهِمْ اِنَّا بُرَءٰۤؤُا مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِۖ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاۤءُ اَبَدًا حَتّٰى تُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَحْدَهٗٓ اِلَّا قَوْلَ اِبْرٰهِيْمَ لِاَبِيْهِ لَاَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ اَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍۗ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَاِلَيْكَ اَنَبْنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ

qad kânat lakum uswatun ḫasanatun fî ibrâhîma walladzîna ma‘ah, idz qâlû liqaumihim innâ bura'â'u mingkum wa mimmâ ta‘budûna min dûnillâhi kafarnâ bikum wa badâ bainanâ wa bainakumul-‘adâwatu wal-baghdlâ'u abadan ḫattâ tu'minû billâhi waḫdahû illâ qaula ibrâhîma li'abîhi la'astaghfiranna laka wa mâ amliku laka minallâhi min syaî', rabbanâ ‘alaika tawakkalnâ wa ilaika anabnâ wa ilaikal-mashîr

Sungguh, benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu pada (diri) Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya ketika mereka berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami mengingkari (kekufuran)-mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” Akan tetapi, (janganlah engkau teladani) perkataan Ibrahim kepada ayahnya, “Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, tetapi aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu.” (Ibrahim berkata,) “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal, hanya kepada Engkau kami bertobat, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.

5

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَاۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

rabbanâ lâ taj‘alnâ fitnatal lilladzîna kafarû waghfir lanâ rabbanâ, innaka antal-‘azîzul-ḫakîm

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

6

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْهِمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُو اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّ فَاِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُࣖ

laqad kâna lakum fîhim uswatun ḫasanatul limang kâna yarjullâha wal-yaumal-âkhir, wa may yatawalla fa innallâha huwal-ghaniyyul-ḫamîd

Sungguh pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) benar-benar terdapat suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari Kemudian. Siapa yang berpaling, sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.

7

۞ عَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِيْنَ عَادَيْتُمْ مِّنْهُمْ مَّوَدَّةًۗ وَاللّٰهُ قَدِيْرٌۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

‘asallâhu ay yaj‘ala bainakum wa bainalladzîna ‘âdaitum min-hum mawaddah, wallâhu qadîrun, wallâhu ghafûrur raḫîm

Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang di antara kamu dengan orang-orang yang pernah kamu musuhi di antara mereka. Allah Mahakuasa dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

8

لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

lâ yan-hâkumullâhu ‘anilladzîna lam yuqâtilûkum fid-dîni wa lam yukhrijûkum min diyârikum an tabarrûhum wa tuqsithû ilaihim, innallâha yuḫibbul-muqsithîn

Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.

9

اِنَّمَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ قَاتَلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَاَخْرَجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوْا عَلٰٓى اِخْرَاجِكُمْ اَنْ تَوَلَّوْهُمْۚ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

innamâ yan-hâkumullâhu ‘anilladzîna qâtalûkum fid-dîni wa akhrajûkum min diyârikum wa dhâharû ‘alâ ikhrâjikum an tawallauhum, wa may yatawallahum fa ulâ'ika humudh-dhâlimûn

Sesungguhnya Allah hanya melarangmu (berteman akrab) dengan orang-orang yang memerangimu dalam urusan agama, mengusirmu dari kampung halamanmu, dan membantu (orang lain) dalam mengusirmu. Siapa yang menjadikan mereka sebagai teman akrab, mereka itulah orang-orang yang zalim.

10

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا جَاۤءَكُمُ الْمُؤْمِنٰتُ مُهٰجِرٰتٍ فَامْتَحِنُوْهُنَّۗ اَللّٰهُ اَعْلَمُ بِاِيْمَانِهِنَّ فَاِنْ عَلِمْتُمُوْهُنَّ مُؤْمِنٰتٍ فَلَا تَرْجِعُوْهُنَّ اِلَى الْكُفَّارِۗ لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّوْنَ لَهُنَّۗ وَاٰتُوْهُمْ مَّآ اَنْفَقُوْاۗ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اَنْ تَنْكِحُوْهُنَّ اِذَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّۗ وَلَا تُمْسِكُوْا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَسْـَٔلُوْا مَآ اَنْفَقْتُمْ وَلْيَسْـَٔلُوْا مَآ اَنْفَقُوْاۗ ذٰلِكُمْ حُكْمُ اللّٰهِۗ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

yâ ayyuhalladzîna âmanû idzâ jâ'akumul-mu'minâtu muhâjirâtin famtaḫinûhunn, allâhu a‘lamu bi'îmânihinna fa in ‘alimtumûhunna mu'minâtin fa lâ tarji‘ûhunna ilal-kuffâr, lâ hunna ḫillul lahum wa lâ hum yaḫillûna lahunn, wa âtûhum mâ anfaqû, wa lâ junâḫa ‘alaikum an tangkiḫûhunna idzâ âtaitumûhunna ujûrahunn, wa lâ tumsikû bi‘ishamil-kawâfiri was'alû mâ anfaqtum walyas'alû mâ anfaqû, dzâlikum ḫukmullâh, yaḫkumu bainakum, wallâhu ‘alîmun ḫakîm

Wahai orang-orang yang beriman, apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih tahu tentang keimanan mereka. Jika kamu telah mengetahui (keadaan) mereka bahwa mereka (benar-benar sebagai) perempuan-perempuan mukmin, janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami mereka). Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal pula bagi mereka. Berikanlah kepada (suami) mereka mahar yang telah mereka berikan. Tidak ada dosa bagimu menikahi mereka apabila kamu membayar mahar kepada mereka. Janganlah kamu tetap berpegang pada tali (pernikahan) dengan perempuan-perempuan kafir. Hendaklah kamu meminta kembali (dari orang-orang kafir) mahar yang telah kamu berikan (kepada istri yang kembali kafir). Hendaklah mereka (orang-orang kafir) meminta kembali mahar yang telah mereka bayar (kepada mantan istrinya yang telah beriman). Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

11

وَاِنْ فَاتَكُمْ شَيْءٌ مِّنْ اَزْوَاجِكُمْ اِلَى الْكُفَّارِ فَعَاقَبْتُمْ فَاٰتُوا الَّذِيْنَ ذَهَبَتْ اَزْوَاجُهُمْ مِّثْلَ مَآ اَنْفَقُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْٓ اَنْتُمْ بِهٖ مُؤْمِنُوْنَ

wa in fâtakum syai'um min azwâjikum ilal-kuffâri fa âqabtum fa âtulladzîna dzahabat azwâjuhum mitsla mâ anfaqû, wattaqullâhalladzî antum bihî mu'minûn

Jika ada sesuatu (pengembalian mahar) yang belum kamu selesaikan dari istri-istrimu yang lari kepada orang-orang kafir, lalu kamu dapat mengalahkan mereka, berikanlah (dari harta rampasan) kepada orang-orang yang istrinya lari itu sebanyak mahar yang telah mereka berikan. Bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu beriman.

12

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ اِذَا جَاۤءَكَ الْمُؤْمِنٰتُ يُبَايِعْنَكَ عَلٰٓى اَنْ لَّا يُشْرِكْنَ بِاللّٰهِ شَيْـًٔا وَّلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِيْنَ وَلَا يَقْتُلْنَ اَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِيْنَ بِبُهْتَانٍ يَّفْتَرِيْنَهٗ بَيْنَ اَيْدِيْهِنَّ وَاَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِيْنَكَ فِيْ مَعْرُوْفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

yâ ayyuhan-nabiyyu idzâ jâ'akal-mu'minâtu yubâyi‘naka ‘alâ al lâ yusyrikna billâhi syai'aw wa lâ yasriqna wa lâ yaznîna wa lâ yaqtulna aulâdahunna wa lâ ya'tîna bibuhtâniy yaftarînahû baina aidîhinna wa arjulihinna wa lâ ya‘shînaka fî ma‘rûfin fa bâyi‘hunna wastaghfir lahunnallâh, innallâha ghafûrur raḫîm

Wahai Nabi, apabila perempuan-perempuan mukmin datang kepadamu untuk mengadakan baiat (janji setia) bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, terimalah baiat mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

13

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَىِٕسُوْا مِنَ الْاٰخِرَةِ كَمَا يَىِٕسَ الْكُفَّارُ مِنْ اَصْحٰبِ الْقُبُوْرِࣖ

yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ tatawallau qauman ghadliballâhu ‘alaihim qad ya'isû minal-âkhirati kamâ ya'isal-kuffâru min ash-ḫâbil-qubûr

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan kaum yang dimurkai Allah sebagai teman-teman akrab. Sungguh, mereka telah putus asa terhadap akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur juga berputus asa (dari rahmat Allah di akhirat).

Anda baru saja membaca Surat Al-Mumtahanah.
Kami baru saja menghapus semua iklan dari situs ini.
Donasi Anda yang menjaga Litequran.net tetap bebas iklan — untuk Anda dan ratusan ribu pembaca lainnya.

Donasi Sekarang

Pertanyaan Umum tentang Surat Al-Mumtahanah

Apa isi kandungan Surat Al-Mumtahanah?

Al-Mumtahanah memuat hukum tentang wanita mukminah yang hijrah dari negeri kafir, cara menguji keimanan mereka, dan hukum pernikahan dengan orang kafir. Surat ini juga melarang menjadikan musuh-musuh Allah dan Islam sebagai sahabat setia, sambil meneladani sikap Nabi Ibrahim yang berlepas diri dari kemusyrikan keluarganya. Surat Al-Mumtahanah terdiri dari 13 ayat dan termasuk golongan surat Madaniyah (diturunkan di Madinah).

Berapa jumlah ayat Surat Al-Mumtahanah?

Surat Al-Mumtahanah terdiri dari 13 ayat dan terdapat pada juz 28 dalam Al-Quran. Estimasi waktu membaca dengan tartil beserta terjemahannya sekitar 3 menit.

Mengapa surat ini dinamakan Al-Mumtahanah (Wanita yang Diuji)?

Nama "Al-Mumtahanah" (الممتحنة) berarti "Wanita yang Diuji" dalam bahasa Indonesia. Penamaan ini merujuk pada tema atau kisah utama yang dibahas dalam surat. Surat ini merupakan surat ke-60 dalam urutan mushaf Al-Quran.

Apakah Surat Al-Mumtahanah Makkiyah atau Madaniyah?

Surat Al-Mumtahanah termasuk golongan surat Madaniyah, yaitu surat yang diturunkan di Madinah. Surat Madaniyah umumnya memuat hukum-hukum syariat, aturan bermasyarakat, serta pedoman hubungan antarumat sebagai panduan hidup bernegara dan bermasyarakat.

Kapan waktu terbaik membaca Surat Al-Mumtahanah?

Surat Al-Mumtahanah dapat dibaca kapan saja. Sebagai surat Madaniyah yang memuat pedoman syariat dan kehidupan bermasyarakat, membacanya secara rutin membantu memahami hukum-hukum Islam yang terkandung di dalamnya.

Apa keutamaan membaca Surat Al-Mumtahanah?

Surat ini memuat prinsip penting tentang toleransi dalam Islam — berbuat baik dan adil kepada non-muslim yang tidak memusuhi Islam (ayat 8). Mengandung teladan agung Nabi Ibrahim dalam ketegasan akidah sekaligus kelembutan doa untuk ayahnya. Memuat hukum-hukum penting tentang hubungan internasional dalam Islam, termasuk perlindungan hak wanita yang berhijrah. Ayat baiat wanita (ayat 12) menjadi dasar hukum baiat perempuan dalam Islam yang memberi pengakuan terhadap peran politik perempuan.