وَالْمُرْسَلٰتِ عُرْفًاۙ
wal-mursalâti ‘urfâ
Demi (malaikat-malaikat) yang diutus untuk membawa kebaikan
Baca Surat Al-Mursalat (Malaikat yang Diutus — المرسلات) lengkap dengan teks Latin, Arab, dan terjemahan bahasa Indonesia. Berikut adalah 50 ayat Makkiyah (Juz 29) — surat ke-77 dalam Al-Quran yang bisa Anda akses dengan cepat, ringan, dan tanpa iklan. Al-Mursalat menggambarkan kengerian hari kiamat melalui serangkaian sumpah demi angin yang berhembus, awan yang membawa hujan, dan malaikat yang diutus. Surat ini mengulang ancaman 'Kecelakaan pada hari itu bagi para pendusta' sebanyak sepuluh kali sebagai peringatan keras kepada mereka yang mengingkari hari pembalasan..
Surat Al-Mursalat adalah surat Makkiyah yang turun pada masa awal dakwah di Mekkah. Menurut riwayat Ibnu Mas'ud, surat ini turun saat mereka bersama Nabi ﷺ di sebuah gua di Mina. Surat ini bertujuan memperingatkan kaum musyrikin yang terus-menerus mendustakan hari kebangkitan dan mengingkari nikmat-nikmat Allah, dengan pengulangan ancaman yang sangat kuat.
Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim
وَالْمُرْسَلٰتِ عُرْفًاۙ
wal-mursalâti ‘urfâ
Demi (malaikat-malaikat) yang diutus untuk membawa kebaikan
فَالْعٰصِفٰتِ عَصْفًاۙ
fal-‘âshifâti ‘ashfâ
dan (malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencang;
وَّالنّٰشِرٰتِ نَشْرًاۙ
wan-nâsyirâti nasyrâ
demi (malaikat-malaikat) yang menyebarkan (rahmat Allah) dengan seluas-luasnya,
فَالْفٰرِقٰتِ فَرْقًاۙ
fal-fâriqâti farqâ
dan (malaikat-malaikat) yang membedakan (antara yang baik dan yang buruk) dengan sejelas-jelasnya,
فَالْمُلْقِيٰتِ ذِكْرًاۙ
fal-mulqiyâti dzikrâ
serta (malaikat-malaikat) yang menyampaikan wahyu
عُذْرًا اَوْ نُذْرًاۙ
‘udzran au nudzrâ
untuk (menolak) alasan atau (memberi) peringatan,
اِنَّمَا تُوْعَدُوْنَ لَوَاقِعٌۗ
innamâ tû‘adûna lawâqi‘
sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti terjadi.
فَاِذَا النُّجُوْمُ طُمِسَتْۙ
fa idzan-nujûmu thumisat
Apabila bintang-bintang dihapuskan (cahayanya),
وَاِذَا السَّمَاۤءُ فُرِجَتْۙ
wa idzas-samâ'u furijat
apabila langit dibelah,
وَاِذَا الْجِبَالُ نُسِفَتْۙ
wa idzal-jibâlu nusifat
apabila gunung-gunung dihancurleburkan,
وَاِذَا الرُّسُلُ اُقِّتَتْۗ
wa idzar-rusulu uqqitat
dan apabila rasul-rasul telah ditetapkan waktunya,
لِاَيِّ يَوْمٍ اُجِّلَتْۗ
li'ayyi yaumin ujjilat
(niscaya dikatakan kepada mereka), “Sampai hari apakah ditangguhkan (azab orang kafir itu)?”
لِيَوْمِ الْفَصْلِۚ
liyaumil-fashl
Sampai hari Keputusan.
وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا يَوْمُ الْفَصْلِۗ
wa mâ adrâka mâ yaumul-fashl
Tahukah kamu apakah hari Keputusan itu?
وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ
wailuy yauma'idzil lil-mukadzdzibîn
Celakalah pada hari itu para pendusta (kebenaran).
اَلَمْ نُهْلِكِ الْاَوَّلِيْنَۗ
a lam nuhlikil-awwalîn
Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang dahulu?
ثُمَّ نُتْبِعُهُمُ الْاٰخِرِيْنَ
tsumma nutbi‘uhumul-âkhirîn
Lalu, Kami susuli mereka dengan (mengazab) orang-orang yang datang kemudian.
كَذٰلِكَ نَفْعَلُ بِالْمُجْرِمِيْنَ
kadzâlika naf‘alu bil-mujrimîn
Demikianlah Kami memperlakukan para pendurhaka.
وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ
wailuy yauma'idzil lil-mukadzdzibîn
Celakalah pada hari itu para pendusta (kebenaran).
اَلَمْ نَخْلُقْكُّمْ مِّنْ مَّاۤءٍ مَّهِيْنٍۙ
a lam nakhlukkum mim mâ'im mahîn
Bukankah Kami menciptakanmu dari air yang hina (mani)?
فَجَعَلْنٰهُ فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍ
fa ja‘alnâhu fî qarârim makîn
Kemudian, Kami meletakkannya di dalam tempat yang kukuh (rahim)
اِلٰى قَدَرٍ مَّعْلُوْمٍۙ
ilâ qadarim ma‘lûm
sampai waktu yang ditentukan.
فَقَدَرْنَاۖ فَنِعْمَ الْقٰدِرُوْنَ
fa qadarnâ fa ni‘mal-qâdirûn
Lalu, Kami tentukan (bentuk dan waktu lahirnya). Maka, (Kamilah) sebaik-baik penentu.
وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ
wailuy yauma'idzil lil-mukadzdzibîn
Celakalah pada hari itu para pendusta (kebenaran).
اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَرْضَ كِفَاتًاۙ
a lam naj‘alil-ardla kifâtâ
Bukankah Kami menjadikan bumi sebagai (tempat) berkumpul
اَحْيَاۤءً وَّاَمْوَاتًاۙ
aḫyâ'aw wa amwâtâ
bagi yang (masih) hidup dan yang (sudah) mati?
وَّجَعَلْنَا فِيْهَا رَوَاسِيَ شٰمِخٰتٍ وَّاَسْقَيْنٰكُمْ مَّاۤءً فُرَاتًاۗ
wa ja‘alnâ fîhâ rawâsiya syâmikhâtiw wa asqainâkum mâ'an furâtâ
Kami menjadikan padanya gunung-gunung yang tinggi dan memberi minum kamu air yang tawar?
وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ
wailuy yauma'idzil lil-mukadzdzibîn
Celakalah pada hari itu para pendusta (kebenaran).
اِنْطَلِقُوْٓا اِلٰى مَا كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَۚ
inthaliqû ilâ mâ kuntum bihî tukadzdzibûn
(Dikatakan kepada orang-orang kafir), “Pergilah menuju apa (neraka) yang selalu kamu dustakan.
اِنْطَلِقُوْٓا اِلٰى ظِلٍّ ذِيْ ثَلٰثِ شُعَبٍ
inthaliqû ilâ dhillin dzî tsalâtsi syu‘ab
Pergilah menuju naungan (asap api neraka) yang mempunyai tiga cabang
لَا ظَلِيْلٍ وَّلَا يُغْنِيْ مِنَ اللَّهَبِۗ
lâ dhalîliw wa lâ yughnî minal-lahab
yang tidak melindungi dan tidak menahan (panasnya) nyala api neraka.”
اِنَّهَا تَرْمِيْ بِشَرَرٍ كَالْقَصْرِۚ
innahâ tarmî bisyararing kal-qashr
Sesungguhnya ia (neraka) menyemburkan bunga api bagaikan istana (yang besar dan tinggi),
كَاَنَّهٗ جِمٰلَتٌ صُفْرٌۗ
ka'annahû jimâlatun shufr
seakan-akan iringan unta (hitam) kekuning-kuningan.
وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ
wailuy yauma'idzil lil-mukadzdzibîn
Celakalah pada hari itu para pendusta (kebenaran).
هٰذَا يَوْمُ لَا يَنْطِقُوْنَۙ
hâdzâ yaumu lâ yanthiqûn
Inilah hari ketika mereka tidak dapat berbicara.
وَلَا يُؤْذَنُ لَهُمْ فَيَعْتَذِرُوْنَ
wa lâ yu'dzanu lahum fa ya‘tadzirûn
Mereka tidak diizinkan (berbicara) sehingga (dapat) meminta maaf.
وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ
wailuy yauma'idzil lil-mukadzdzibîn
Celakalah pada hari itu para pendusta (kebenaran).
هٰذَا يَوْمُ الْفَصْلِ جَمَعْنٰكُمْ وَالْاَوَّلِيْنَ
hâdzâ yaumul-fashli jama‘nâkum wal-awwalîn
(Dikatakan kepada mereka,) “Inilah hari Keputusan. Kami kumpulkan kamu dan orang-orang terdahulu.
فَاِنْ كَانَ لَكُمْ كَيْدٌ فَكِيْدُوْنِ
fa ing kâna lakum kaidun fa kîdûn
Jika kamu punya tipu daya, lakukanlah terhadap-Ku.”
وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَࣖ
wailuy yauma'idzil lil-mukadzdzibîn
Celakalah pada hari itu para pendusta (kebenaran).
اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ ظِلٰلٍ وَّعُيُوْنٍۙ
innal-muttaqîna fî dhilâliw wa ‘uyûn
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (pepohonan surga yang teduh) dan (ada di sekitar) mata air
وَّفَوَاكِهَ مِمَّا يَشْتَهُوْنَۗ
wa fawâkiha mimmâ yasytahûn
serta buah-buahan yang mereka sukai.
كُلُوْا وَاشْرَبُوْا هَنِيْۤـــًٔا ۢ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
kulû wasyrabû hanî'am bimâ kuntum ta‘malûn
(Dikatakan kepada mereka,) “Makan dan minumlah dengan nikmat karena apa yang selalu kamu kerjakan.”
اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ
innâ kadzâlika najzil-muḫsinîn
Sesungguhnya demikianlah Kami beri balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ
wailuy yauma'idzil lil-mukadzdzibîn
Celakalah pada hari itu para pendusta (kebenaran).
كُلُوْا وَتَمَتَّعُوْا قَلِيْلًا اِنَّكُمْ مُّجْرِمُوْنَ
kulû wa tamatta‘û qalîlan innakum mujrimûn
(Dikatakan kepada orang-orang kafir,) “Makan dan bersenang-senanglah kamu (di dunia) sebentar. Sesungguhnya kamu adalah para pendurhaka!”
وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ
wailuy yauma'idzil lil-mukadzdzibîn
Celakalah pada hari itu para pendusta (kebenaran).
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ ارْكَعُوْا لَا يَرْكَعُوْنَ
wa idzâ qîla lahumurka‘û lâ yarka‘ûn
Apabila dikatakan kepada mereka, “Rukuklah,” mereka tidak mau rukuk.
وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ
wailuy yauma'idzil lil-mukadzdzibîn
Celakalah pada hari itu para pendusta (kebenaran).
فَبِاَيِّ حَدِيْثٍ ۢ بَعْدَهٗ يُؤْمِنُوْنَࣖ
fa bi'ayyi ḫadîtsim ba‘dahû yu'minûn
Maka, pada perkataan manakah sesudahnya (Al-Qur’an) mereka akan beriman?
Anda baru saja membaca Surat Al-Mursalat.
Kami baru saja menghapus semua iklan dari situs ini.
Donasi Anda yang menjaga Litequran.net tetap bebas iklan — untuk Anda dan ratusan ribu pembaca lainnya.
Al-Mursalat menggambarkan kengerian hari kiamat melalui serangkaian sumpah demi angin yang berhembus, awan yang membawa hujan, dan malaikat yang diutus. Surat ini mengulang ancaman 'Kecelakaan pada hari itu bagi para pendusta' sebanyak sepuluh kali sebagai peringatan keras kepada mereka yang mengingkari hari pembalasan. Surat Al-Mursalat terdiri dari 50 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah (diturunkan di Mekkah).
Surat Al-Mursalat terdiri dari 50 ayat dan terdapat pada juz 29 dalam Al-Quran. Estimasi waktu membaca dengan tartil beserta terjemahannya sekitar 10 menit.
Nama "Al-Mursalat" (المرسلات) berarti "Malaikat yang Diutus" dalam bahasa Indonesia. Penamaan ini merujuk pada tema atau kisah utama yang dibahas dalam surat. Surat ini merupakan surat ke-77 dalam urutan mushaf Al-Quran.
Surat Al-Mursalat termasuk golongan surat Makkiyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekkah. Surat Makkiyah umumnya membahas tema keimanan, tauhid, hari akhir, dan kisah para nabi sebagai penguatan akidah umat Islam di masa awal dakwah.
Surat Al-Mursalat dapat dibaca kapan saja, terutama saat berdzikir dan bermunajat kepada Allah. Sebagai surat Makkiyah yang berisi penguatan iman dan tauhid, membacanya di waktu tenang seperti sepertiga malam terakhir atau setelah shalat Subuh sangat dianjurkan.
Surat Al-Mursalat termasuk surat yang sering dibaca Nabi ﷺ. Ibnu Mas'ud meriwayatkan bahwa mereka menghafal surat ini langsung dari mulut Nabi ﷺ. (HR. Al-Bukhari & Muslim) Pengulangan ayat 'Wailun yaumaidzin lil mukadzdzibin' (Celakalah pada hari itu bagi para pendusta) sebanyak 10 kali menjadikan surat ini sangat berkesan dan mudah diingat. Surat ini dibaca Nabi ﷺ pada shalat Maghrib di akhir hayat beliau. (HR. Al-Bukhari)