وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ
wailul lil-muthaffifîn
Celakalah orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!
Baca Surat Al-Mutaffifin (Orang-Orang Curang — المطففين) lengkap dengan teks Latin, Arab, dan terjemahan bahasa Indonesia. Berikut adalah 36 ayat Makkiyah (Juz 30) — surat ke-83 dalam Al-Quran yang bisa Anda akses dengan cepat, ringan, dan tanpa iklan. Al-Mutaffifin mengecam keras para pedagang yang curang dalam menimbang: meminta timbangan penuh ketika membeli namun mengurangi timbangan ketika menjual. Surat ini memperkenalkan Sijjin sebagai tempat catatan amal orang-orang jahat dan Illiyyin sebagai tempat catatan amal orang-orang yang berbuat kebaikan, keduanya disaksikan malaikat yang didekatkan..
Surat Al-Muthaffifin menurut sebagian ulama termasuk surat yang turun antara Mekkah dan Madinah (pada masa hijrah), meskipun mayoritas menggolongkannya sebagai Makkiyah. Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, beliau mendapati penduduknya yang terbiasa berlaku curang dalam timbangan dan takaran, lalu Allah menurunkan surat ini sebagai peringatan keras. Setelah itu mereka menjadi orang-orang yang paling jujur dalam menimbang.
Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, Sunan An-Nasa'i, Sunan Ibnu Majah, Tafsir Al-Qurthubi
وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ
wailul lil-muthaffifîn
Celakalah orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!
الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَۖ
alladzîna idzaktâlû ‘alan-nâsi yastaufûn
(Mereka adalah) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi.
وَاِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَۗ
wa idzâ kâlûhum aw wazanûhum yukhsirûn
(Sebaliknya,) apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka kurangi.
اَلَا يَظُنُّ اُولٰۤىِٕكَ اَنَّهُمْ مَّبْعُوْثُوْنَۙ
alâ yadhunnu ulâ'ika annahum mab‘ûtsûn
Tidakkah mereka mengira (bahwa) sesungguhnya mereka akan dibangkitkan
لِيَوْمٍ عَظِيْمٍۙ
liyaumin ‘adhîm
pada suatu hari yang besar (Kiamat),
يَّوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ
yauma yaqûmun-nâsu lirabbil-‘âlamîn
(yaitu) hari (ketika) manusia bangkit menghadap Tuhan seluruh alam?
كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْفُجَّارِ لَفِيْ سِجِّيْنٍۗ
kallâ inna kitâbal-fujjâri lafî sijjîn
Jangan sekali-kali begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar (tersimpan) dalam Sijjīn.
وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا سِجِّيْنٌۗ
wa mâ adrâka mâ sijjîn
Tahukah engkau apakah Sijjīn itu?
كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ
kitâbum marqûm
(Ia adalah) kitab yang berisi catatan (amal).
وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَۙ
wailuy yauma'idzil lil-mukadzdzibîn
Celakalah pada hari itu bagi para pendusta,
الَّذِيْنَ يُكَذِّبُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِۗ
alladzîna yukadzdzibûna biyaumid-dîn
yaitu orang-orang yang mendustakan hari Pembalasan.
وَمَا يُكَذِّبُ بِهٖٓ اِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ
wa mâ yukadzdzibu bihî illâ kullu mu‘tadin atsîm
Tidak ada yang mendustakannya, kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi sangat berdosa.
اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ
idzâ tutlâ ‘alaihi âyâtunâ qâla asâthîrul-awwalîn
Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, “(Itu adalah) dongeng orang-orang dahulu.”
كَلَّا بَلْ ۜ رَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
kallâ bal râna ‘alâ qulûbihim mâ kânû yaksibûn
Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.
كَلَّآ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَىِٕذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَۗ
kallâ innahum ‘ar rabbihim yauma'idzil lamaḫjûbûn
Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (rahmat) Tuhannya.
ثُمَّ اِنَّهُمْ لَصَالُوا الْجَحِيْمِۗ
tsumma innahum lashâlul-jaḫîm
Sesungguhnya mereka kemudian benar-benar masuk (neraka) Jahim.
ثُمَّ يُقَالُ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَۗ
tsumma yuqâlu hâdzalladzî kuntum bihî tukadzdzibûn
Lalu dikatakan (kepada mereka), “Inilah (azab) yang selalu kamu dustakan.”
كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْاَبْرَارِ لَفِيْ عِلِّيِّيْنَۗ
kallâ inna kitâbal-abrâri lafî ‘illiyyîn
Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyīn.
وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا عِلِّيُّوْنَۗ
wa mâ adrâka mâ ‘illiyyûn
Tahukah engkau apakah ‘Illiyyīn itu?
كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۙ
kitâbum marqûm
(Itulah) kitab yang berisi catatan (amal)
يَّشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُوْنَۗ
yasy-haduhul-muqarrabûn
yang disaksikan oleh (malaikat-malaikat) yang didekatkan (kepada Allah).
اِنَّ الْاَبْرَارَ لَفِيْ نَعِيْمٍۙ
innal-abrâra lafî na‘îm
Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan.
عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۙ
‘alal-arâ'iki yandhurûn
Mereka (duduk) di atas dipan-dipan (sambil) melepas pandangan.
تَعْرِفُ فِيْ وُجُوْهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيْمِۚ
ta‘rifu fî wujûhihim nadlratan na‘îm
Engkau dapat mengetahui pada wajah mereka gemerlapnya kenikmatan.
يُسْقَوْنَ مِنْ رَّحِيْقٍ مَّخْتُوْمٍۙ
yusqauna mir raḫîqim makhtûm
Mereka diberi minum dari khamar murni (tidak memabukkan) yang (tempatnya) masih diberi lak (sebagai jaminan keasliannya).
خِتٰمُهٗ مِسْكٌۗ وَفِيْ ذٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنٰفِسُوْنَۗ
khitâmuhû misk, wa fî dzâlika falyatanâfasil-mutanâfisûn
Laknya terbuat dari kasturi. Untuk (mendapatkan) yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.
وَمِزَاجُهٗ مِنْ تَسْنِيْمٍۙ
wa mizâjuhû min tasnîm
Campurannya terbuat dari tasnīm,
عَيْنًا يَّشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُوْنَۗ
‘ainay yasyrabu bihal-muqarrabûn
(yaitu) mata air yang diminum oleh mereka yang didekatkan (kepada Allah).
اِنَّ الَّذِيْنَ اَجْرَمُوْا كَانُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يَضْحَكُوْنَۖ
innalladzîna ajramû kânû minalladzîna âmanû yadl-ḫakûn
Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulu selalu mentertawakan orang-orang yang beriman.
وَاِذَا مَرُّوْا بِهِمْ يَتَغَامَزُوْنَۖ
wa idzâ marrû bihim yataghâmazûn
Apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.
وَاِذَا انْقَلَبُوْٓا اِلٰٓى اَهْلِهِمُ انْقَلَبُوْا فَكِهِيْنَۖ
wa idzangqalabû ilâ ahlihimungqalabû fakihîn
Apabila kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira ria (dan sombong).
وَاِذَا رَاَوْهُمْ قَالُوْٓا اِنَّ هٰٓؤُلَاۤءِ لَضَاۤلُّوْنَۙ
wa idzâ ra'auhum qâlû inna hâ'ulâ'i ladlâllûn
Apabila melihat (orang-orang mukmin), mereka mengatakan, “Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang sesat,”
وَمَآ اُرْسِلُوْا عَلَيْهِمْ حٰفِظِيْنَۗ
wa mâ ursilû ‘alaihim ḫâfidhîn
padahal mereka (orang-orang yang berdosa itu) tidak diutus sebagai penjaga (orang-orang mukmin).
فَالْيَوْمَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُوْنَۙ
fal-yaumalladzîna âmanû minal-kuffâri yadl-ḫakûn
Pada hari ini (hari Kiamat), orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir.
عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۗ
‘alal-arâ'iki yandhurûn
Mereka (duduk) di atas dipan-dipan (sambil) melepas pandangan.
هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَࣖ
hal tsuwwibal-kuffâru mâ kânû yaf‘alûn
Apakah orang-orang kafir itu telah diberi balasan (hukuman) terhadap apa yang selalu mereka perbuat?
Anda baru saja membaca Surat Al-Mutaffifin.
Kami baru saja menghapus semua iklan dari situs ini.
Donasi Anda yang menjaga Litequran.net tetap bebas iklan — untuk Anda dan ratusan ribu pembaca lainnya.
Al-Mutaffifin mengecam keras para pedagang yang curang dalam menimbang: meminta timbangan penuh ketika membeli namun mengurangi timbangan ketika menjual. Surat ini memperkenalkan Sijjin sebagai tempat catatan amal orang-orang jahat dan Illiyyin sebagai tempat catatan amal orang-orang yang berbuat kebaikan, keduanya disaksikan malaikat yang didekatkan. Surat Al-Mutaffifin terdiri dari 36 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah (diturunkan di Mekkah).
Surat Al-Mutaffifin terdiri dari 36 ayat dan terdapat pada juz 30 dalam Al-Quran. Estimasi waktu membaca dengan tartil beserta terjemahannya sekitar 7 menit.
Nama "Al-Mutaffifin" (المطففين) berarti "Orang-Orang Curang" dalam bahasa Indonesia. Penamaan ini merujuk pada tema atau kisah utama yang dibahas dalam surat. Surat ini merupakan surat ke-83 dalam urutan mushaf Al-Quran.
Surat Al-Mutaffifin termasuk golongan surat Makkiyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekkah. Surat Makkiyah umumnya membahas tema keimanan, tauhid, hari akhir, dan kisah para nabi sebagai penguatan akidah umat Islam di masa awal dakwah.
Surat Al-Mutaffifin dapat dibaca kapan saja, terutama saat berdzikir dan bermunajat kepada Allah. Sebagai surat Makkiyah yang berisi penguatan iman dan tauhid, membacanya di waktu tenang seperti sepertiga malam terakhir atau setelah shalat Subuh sangat dianjurkan.
Surat ini menjadi dasar hukum Islam yang tegas tentang keadilan dalam transaksi jual beli dan larangan keras berlaku curang dalam timbangan dan takaran. Menurut riwayat, ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, penduduknya terkenal curang dalam timbangan, lalu turunlah surat ini dan mereka memperbaiki perilaku dagangnya. (Diriwayatkan oleh An-Nasa'i & Ibnu Majah) Surat ini memuat konsep Sijjin dan 'Illiyyin yang menjadi rujukan utama ulama dalam membahas tempat penyimpanan catatan amal manusia.