Surat An Naba

Berita Besar • Makkiyah • 40 ayat

Tentang Surat An-Naba'

Baca Surat An-Naba' (Berita Besar — النبأ) lengkap dengan teks Latin, Arab, dan terjemahan bahasa Indonesia. Berikut adalah 40 ayat Makkiyah (Juz 30) — surat ke-78 dalam Al-Quran yang bisa Anda akses dengan cepat, ringan, dan tanpa iklan. An-Naba mengisahkan perbincangan kaum kafir yang saling bertanya tentang berita besar hari kiamat yang mereka perdebatkan, lalu Allah membuktikan kepastiannya dengan tanda-tanda alam. Surat ini menggambarkan azab neraka Jahannam bagi para pelanggar dan kenikmatan surga bagi orang-orang yang bertakwa sebagai balasan yang setimpal..

Tema Utama

  • Berita besar (An-Naba') tentang Hari Kiamat yang diperselisihkan
  • Tanda-tanda kekuasaan Allah dalam penciptaan alam semesta
  • Gambaran azab neraka Jahannam bagi orang-orang yang melampaui batas
  • Kenikmatan surga bagi orang-orang yang bertakwa

Kandungan Surat

Ayat 1-5Pertanyaan tentang berita besar — orang-orang kafir saling bertanya tentang berita besar (Hari Kiamat atau Al-Quran). Mereka berselisih pendapat tentangnya, namun kelak mereka akan mengetahui kebenarannya.
Ayat 6-16Bukti-bukti kekuasaan Allah — bumi dijadikan hamparan, gunung-gunung sebagai pasak, manusia diciptakan berpasang-pasangan, tidur sebagai istirahat, malam sebagai pakaian, siang untuk mencari nafkah, tujuh langit yang kokoh, matahari sebagai pelita yang terang, dan hujan yang diturunkan dari awan tebal.
Ayat 17-30Hari Pemisahan dan neraka — hari yang telah ditentukan ketika sangkakala ditiup dan manusia datang berbondong-bondong. Neraka Jahannam telah menanti sebagai tempat kembali bagi orang yang melampaui batas, mereka tinggal di dalamnya berabad-abad, tidak merasakan kesejukan maupun minuman kecuali air mendidih dan nanah.
Ayat 31-40Surga bagi orang bertakwa — kebun-kebun dan buah anggur, gadis-gadis sebaya, dan gelas-gelas penuh minuman. Mereka tidak mendengar perkataan sia-sia. Itulah balasan dari Tuhan yang Maha Pemurah. Pada hari itu Ruh (Jibril) dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, tidak ada yang berbicara kecuali yang diizinkan Allah.

Keutamaan

  • Surat An-Naba' adalah surat pembuka juz ke-30 (Juz 'Amma) yang menjadi bacaan pertama yang dihafal kebanyakan umat Islam.
  • Surat ini memuat argumen kosmologis yang sistematis tentang kekuasaan Allah sebagai bukti kemampuan-Nya membangkitkan manusia.
  • Para ulama menjadikan surat ini sebagai rujukan dalam menjelaskan konsep yaumul fashl (Hari Pemisahan) antara kebenaran dan kebatilan.

Asbab Nuzul

Surat An-Naba' adalah surat Makkiyah yang turun untuk menjawab perdebatan kaum musyrikin Mekkah tentang Hari Kiamat dan kebangkitan setelah mati. Mereka saling bertanya-tanya dengan nada mengejek tentang 'berita besar' yang disampaikan Nabi Muhammad ﷺ. Surat ini turun untuk menegaskan bahwa Hari Kiamat adalah kepastian yang tidak dapat diragukan, dengan menunjukkan bukti-bukti kekuasaan Allah dalam penciptaan alam.

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Al-Qurthubi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
1

عَمَّ يَتَسَاۤءَلُوْنَۚ

‘amma yatasâ'alûn

Tentang apakah mereka saling bertanya?

2

عَنِ النَّبَاِ الْعَظِيْمِۙ

‘anin-naba'il-‘adhîm

Tentang berita yang besar (hari Kebangkitan)

3

الَّذِيْ هُمْ فِيْهِ مُخْتَلِفُوْنَۗ

alladzî hum fîhi mukhtalifûn

yang dalam hal itu mereka berselisih.

4

كَلَّا سَيَعْلَمُوْنَۙ

kallâ saya‘lamûn

Sekali-kali tidak! Kelak mereka akan mengetahui.

5

ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُوْنَ

tsumma kallâ saya‘lamûn

Sekali lagi, tidak! Kelak mereka akan mengetahui.

6

اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَرْضَ مِهٰدًاۙ

a lam naj‘alil-ardla mihâdâ

Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan

7

وَّالْجِبَالَ اَوْتَادًاۖ

wal-jibâla autâdâ

dan gunung-gunung sebagai pasak?

8

وَّخَلَقْنٰكُمْ اَزْوَاجًاۙ

wa khalaqnâkum azwâjâ

Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan.

9

وَّجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًاۙ

wa ja‘alnâ naumakum subâtâ

Kami menjadikan tidurmu untuk beristirahat.

10

وَّجَعَلْنَا الَّيْلَ لِبَاسًاۙ

wa ja‘alnal-laila libâsâ

Kami menjadikan malam sebagai pakaian.

11

وَّجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًاۚ

wa ja‘alnan-nahâra ma‘âsyâ

Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan.

12

وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًاۙ

wa banainâ fauqakum sab‘an syidâdâ

Kami membangun tujuh (langit) yang kukuh di atasmu.

13

وَّجَعَلْنَا سِرَاجًا وَّهَّاجًاۖ

wa ja‘alnâ sirâjaw wahhâjâ

Kami menjadikan pelita yang terang-benderang (matahari).

14

وَّاَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرٰتِ مَاۤءً ثَجَّاجًاۙ

wa anzalnâ minal-mu‘shirâti mâ'an tsajjâjâ

Kami menurunkan dari awan air hujan yang tercurah dengan deras

15

لِّنُخْرِجَ بِهٖ حَبًّا وَّنَبَاتًاۙ

linukhrija bihî ḫabbaw wa nabâtâ

agar Kami menumbuhkan dengannya biji-bijian, tanam-tanaman,

16

وَّجَنّٰتٍ اَلْفَافًاۗ

wa jannâtin alfâfâ

dan kebun-kebun yang rindang.

17

اِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيْقَاتًاۙ

inna yaumal-fashli kâna mîqâtâ

Sesungguhnya hari Keputusan itu adalah waktu yang telah ditetapkan,

18

يَّوْمَ يُنْفَخُ فِى الصُّوْرِ فَتَأْتُوْنَ اَفْوَاجًاۙ

yauma yunfakhu fish-shûri fa ta'tûna afwâjâ

(yaitu) hari (ketika) sangkakala ditiup, lalu kamu datang berbondong-bondong.

19

وَّفُتِحَتِ السَّمَاۤءُ فَكَانَتْ اَبْوَابًاۙ

wa futiḫatis-samâ'u fa kânat abwâbâ

Langit pun dibuka. Maka, terdapatlah beberapa pintu.

20

وَّسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًاۗ

wa suyyiratil-jibâlu fa kânat sarâbâ

Gunung-gunung pun dijalankan. Maka, ia menjadi (seperti) fatamorgana.

21

اِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًاۙ

inna jahannama kânat mirshâdâ

Sesungguhnya (neraka) Jahanam itu (merupakan) tempat mengintai (bagi penjaga neraka)

22

لِّلطّٰغِيْنَ مَاٰبًاۙ

lith-thâghîna ma'âbâ

(dan) menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas.

23

لّٰبِثِيْنَ فِيْهَآ اَحْقَابًاۚ

lâbitsîna fîhâ aḫqâbâ

Mereka tinggal di sana dalam masa yang lama.

24

لَا يَذُوْقُوْنَ فِيْهَا بَرْدًا وَّلَا شَرَابًاۙ

lâ yadzûqûna fîhâ bardaw wa lâ syarâbâ

Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,

25

اِلَّا حَمِيْمًا وَّغَسَّاقًاۙ

illâ ḫamîmaw wa ghassâqâ

selain air yang mendidih dan nanah,

26

جَزَاۤءً وِّفَاقًاۗ

jazâ'aw wifâqâ

sebagai pembalasan yang setimpal.

27

اِنَّهُمْ كَانُوْا لَا يَرْجُوْنَ حِسَابًاۙ

innahum kânû lâ yarjûna ḫisâbâ

Sesungguhnya mereka tidak pernah mengharapkan perhitungan.

28

وَّكَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا كِذَّابًاۗ

wa kadzdzabû bi'âyâtinâ kidzdzâbâ

Mereka benar-benar mendustakan ayat-ayat Kami.

29

وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ كِتٰبًاۙ

wa kulla syai'in aḫshainâhu kitâbâ

Segala sesuatu telah Kami catat dalam kitab (catatan amal manusia).

30

فَذُوْقُوْا فَلَنْ نَّزِيْدَكُمْ اِلَّا عَذَابًاࣖ

fa dzûqû fa lan nazîdakum illâ ‘adzâbâ

Oleh karena itu, rasakanlah! Tidak akan Kami tambahkan kepadamu, kecuali azab.

31

اِنَّ لِلْمُتَّقِيْنَ مَفَازًاۙ

inna lil-muttaqîna mafâzâ

Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (ada) kemenangan (surga),

32

حَدَاۤىِٕقَ وَاَعْنَابًاۙ

ḫadâ'iqa wa a‘nâbâ

(yaitu) kebun-kebun, buah anggur,

33

وَّكَوَاعِبَ اَتْرَابًاۙ

wa kawâ‘iba atrâbâ

gadis-gadis molek yang sebaya,

34

وَّكَأْسًا دِهَاقًاۗ

wa ka'san dihâqâ

dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).

35

لَا يَسْمَعُوْنَ فِيْهَا لَغْوًا وَّلَا كِذّٰبًا

lâ yasma‘ûna fîhâ laghwaw wa lâ kidzdzâbâ

Di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia dan tidak pula (perkataan) dusta.

36

جَزَاۤءً مِّنْ رَّبِّكَ عَطَاۤءً حِسَابًاۙ

jazâ'am mir rabbika ‘athâ'an ḫisâbâ

(Hal itu) sebagai balasan (dan) pemberian yang banyak dari Tuhanmu,

37

رَّبِّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الرَّحْمٰنِ لَا يَمْلِكُوْنَ مِنْهُ خِطَابًاۚ

rabbis-samâwâti wal-ardli wa mâ bainahumar-raḫmâni lâ yamlikûna min-hu khithâbâ

(yaitu) Tuhan (pemelihara) langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, Yang Maha Pengasih. Mereka tidak memiliki (hak) berbicara dengan-Nya.

38

يَوْمَ يَقُوْمُ الرُّوْحُ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ صَفًّاۙ لَّا يَتَكَلَّمُوْنَ اِلَّا مَنْ اَذِنَ لَهُ الرَّحْمٰنُ وَقَالَ صَوَابًا

yauma yaqûmur-rûḫu wal-malâ'ikatu shaffal lâ yatakallamûna illâ man adzina lahur-raḫmânu wa qâla shawâbâ

Pada hari ketika Rūḥ dan malaikat berdiri bersaf-saf. Mereka tidak berbicara, kecuali yang diizinkan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan dia mengatakan yang benar.

39

ذٰلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّۚ فَمَنْ شَاۤءَ اتَّخَذَ اِلٰى رَبِّهٖ مَاٰبًا

dzâlikal-yaumul-ḫaqq, fa man syâ'attakhadza ilâ rabbihî ma'âbâ

Itulah hari yang hak (pasti terjadi). Siapa yang menghendaki (keselamatan) niscaya menempuh jalan kembali kepada Tuhannya (dengan beramal saleh).

40

اِنَّآ اَنْذَرْنٰكُمْ عَذَابًا قَرِيْبًا ەۙ يَّوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُوْلُ الْكٰفِرُ يٰلَيْتَنِيْ كُنْتُ تُرٰبًاࣖ

innâ andzarnâkum ‘adzâbang qarîbay yauma yandhurul-mar'u mâ qaddamat yadâhu wa yaqûlul-kâfiru yâ laitanî kuntu turâbâ

Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kamu akan azab yang dekat pada hari (ketika) manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya dan orang kafir berkata, “Oh, seandainya saja aku menjadi tanah.”

Anda baru saja membaca Surat An-Naba'.
Kami baru saja menghapus semua iklan dari situs ini.
Donasi Anda yang menjaga Litequran.net tetap bebas iklan — untuk Anda dan ratusan ribu pembaca lainnya.

Donasi Sekarang

Pertanyaan Umum tentang Surat An-Naba'

Apa isi kandungan Surat An-Naba'?

An-Naba mengisahkan perbincangan kaum kafir yang saling bertanya tentang berita besar hari kiamat yang mereka perdebatkan, lalu Allah membuktikan kepastiannya dengan tanda-tanda alam. Surat ini menggambarkan azab neraka Jahannam bagi para pelanggar dan kenikmatan surga bagi orang-orang yang bertakwa sebagai balasan yang setimpal. Surat An-Naba' terdiri dari 40 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah (diturunkan di Mekkah).

Berapa jumlah ayat Surat An-Naba'?

Surat An-Naba' terdiri dari 40 ayat dan terdapat pada juz 30 dalam Al-Quran. Estimasi waktu membaca dengan tartil beserta terjemahannya sekitar 8 menit.

Mengapa surat ini dinamakan An-Naba' (Berita Besar)?

Nama "An-Naba'" (النبأ) berarti "Berita Besar" dalam bahasa Indonesia. Penamaan ini merujuk pada tema atau kisah utama yang dibahas dalam surat. Surat ini merupakan surat ke-78 dalam urutan mushaf Al-Quran.

Apakah Surat An-Naba' Makkiyah atau Madaniyah?

Surat An-Naba' termasuk golongan surat Makkiyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekkah. Surat Makkiyah umumnya membahas tema keimanan, tauhid, hari akhir, dan kisah para nabi sebagai penguatan akidah umat Islam di masa awal dakwah.

Kapan waktu terbaik membaca Surat An-Naba'?

Surat An-Naba' dapat dibaca kapan saja, terutama saat berdzikir dan bermunajat kepada Allah. Sebagai surat Makkiyah yang berisi penguatan iman dan tauhid, membacanya di waktu tenang seperti sepertiga malam terakhir atau setelah shalat Subuh sangat dianjurkan.

Apa keutamaan membaca Surat An-Naba'?

Surat An-Naba' adalah surat pembuka juz ke-30 (Juz 'Amma) yang menjadi bacaan pertama yang dihafal kebanyakan umat Islam. Surat ini memuat argumen kosmologis yang sistematis tentang kekuasaan Allah sebagai bukti kemampuan-Nya membangkitkan manusia. Para ulama menjadikan surat ini sebagai rujukan dalam menjelaskan konsep yaumul fashl (Hari Pemisahan) antara kebenaran dan kebatilan.