Surat An Najm

Bintang • Makkiyah • 62 ayat

Tentang Surat An-Najm

Baca Surat An-Najm (Bintang — النجم) lengkap dengan teks Latin, Arab, dan terjemahan bahasa Indonesia. Berikut adalah 62 ayat Makkiyah (Juz 27) — surat ke-53 dalam Al-Quran yang bisa Anda akses dengan cepat, ringan, dan tanpa iklan. An-Najm menegaskan kebenaran Al-Quran sebagai wahyu yang diterima Rasulullah saat Mi'raj, bukan ucapan yang didasari hawa nafsu, dan beliau melihat Jibril dalam wujud aslinya. Surat ini juga membantah kepercayaan musyrikin tentang berhala Lata, Uzza, dan Manat, serta memuat isi-isi lembaran Nabi Ibrahim dan Musa..

Tema Utama

  • Peristiwa Isra Mi'raj dan pertemuan Nabi ﷺ dengan Jibril dalam wujud asli
  • Penolakan terhadap penyembahan berhala Lata, Uzza, dan Manat
  • Kebenaran wahyu dan Al-Quran bukan dari hawa nafsu
  • Setiap manusia bertanggung jawab atas amalnya sendiri
  • Kekuasaan Allah atas kehidupan, kematian, dan penciptaan

Kandungan Surat

Ayat 1-4Sumpah demi bintang — Allah bersumpah demi bintang ketika terbenam bahwa Nabi Muhammad ﷺ tidak sesat dan tidak pula keliru, dan beliau tidak berbicara menurut hawa nafsunya.
Ayat 5-18Mi'raj dan Jibril — Nabi ﷺ diajarkan oleh malaikat Jibril yang memiliki kekuatan besar, Nabi melihat Jibril dalam wujud aslinya di Sidratil Muntaha, dan melihat tanda-tanda kekuasaan Allah yang paling besar.
Ayat 19-23Penolakan berhala — Lata, Uzza, dan Manat hanyalah nama-nama yang dibuat kaum musyrikin tanpa dasar, mereka hanya mengikuti prasangka dan hawa nafsu.
Ayat 24-32Prasangka tidak menggantikan kebenaran — banyak malaikat di langit yang syafaatnya tidak berguna kecuali dengan izin Allah, larangan mengikuti prasangka, dan perintah menjauhi dosa besar.
Ayat 33-42Tanggung jawab individu — setiap jiwa hanya menanggung dosanya sendiri, manusia hanya mendapat apa yang diusahakannya, dan kepada Allah segala tujuan akhir.
Ayat 43-62Kekuasaan Allah — Dialah yang mematikan dan menghidupkan, menciptakan berpasangan, memberi kekayaan dan kecukupan, serta menghancurkan kaum Ad, Tsamud, dan kaum Nuh terdahulu.

Keutamaan

  • Surat ini mengandung kisah Mi'raj yang merupakan salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah Islam.
  • Pada akhir surat ini terdapat ayat sajdah tilawah; ketika Nabi ﷺ membacanya, kaum Quraisy ikut sujud bersama beliau. (HR. Bukhari)
  • Ayat 39 menegaskan prinsip usaha: 'Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya' — menjadi dasar etos kerja dalam Islam.
  • Surat ini membantah segala bentuk penyembahan berhala dengan argumen yang tegas dan logis.

Asbab Nuzul

Surat An-Najm adalah surat Makkiyah yang turun di Mekkah. Surat ini turun setelah peristiwa Isra Mi'raj untuk menceritakan pengalaman Nabi ﷺ bertemu Jibril dalam wujud aslinya dan melihat tanda-tanda kekuasaan Allah. Surat ini merupakan surat pertama yang dibacakan Nabi ﷺ secara terang-terangan di depan kaum Quraisy, dan ketika beliau sampai di akhir surat lalu sujud, seluruh hadirin ikut sujud termasuk kaum musyrikin.

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Tafsir Ath-Thabari

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
1

وَالنَّجْمِ اِذَا هَوٰىۙ

wan-najmi idzâ hawâ

Demi bintang ketika terbenam,

2

مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوٰىۚ

mâ dlalla shâḫibukum wa mâ ghawâ

kawanmu (Nabi Muhammad) tidak sesat, tidak keliru,

3

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى

wa mâ yanthiqu ‘anil-hawâ

dan tidak pula berucap (tentang Al-Qur’an dan penjelasannya) berdasarkan hawa nafsu(-nya).

4

اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ

in huwa illâ waḫyuy yûḫâ

Ia (Al-Qur’an itu) tidak lain, kecuali wahyu yang disampaikan (kepadanya)

5

عَلَّمَهٗ شَدِيْدُ الْقُوٰىۙ

‘allamahû syadîdul-quwâ

yang diajarkan kepadanya oleh (malaikat) yang sangat kuat (Jibril)

6

ذُوْ مِرَّةٍۗ فَاسْتَوٰىۙ

dzû mirrah, fastawâ

lagi mempunyai keteguhan. Lalu, ia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli

7

وَهُوَ بِالْاُفُقِ الْاَعْلٰىۗ

wa huwa bil-ufuqil-a‘lâ

ketika dia berada di ufuk yang tinggi.

8

ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰىۙ

tsumma danâ fa tadallâ

Dia kemudian mendekat (kepada Nabi Muhammad), lalu bertambah dekat,

9

فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ اَوْ اَدْنٰىۚ

fa kâna qâba qausaini au adnâ

sehingga jaraknya (sekitar) dua busur panah atau lebih dekat (lagi).

10

فَاَوْحٰىٓ اِلٰى عَبْدِهٖ مَآ اَوْحٰىۗ

fa auḫâ ilâ ‘abdihî mâ auḫâ

Lalu, dia (Jibril) menyampaikan wahyu kepada hamba-Nya (Nabi Muhammad) apa yang Dia wahyukan.

11

مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَاٰى

mâ kadzabal-fu'âdu mâ ra'â

Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.

12

اَفَتُمٰرُوْنَهٗ عَلٰى مَا يَرٰى

a fa tumârûnahû ‘alâ mâ yarâ

Apakah kamu (kaum musyrik Makkah) hendak membantahnya (Nabi Muhammad) tentang apa yang dilihatnya itu (Jibril)?

13

وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ

wa laqad ra'âhu nazlatan ukhrâ

Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain,

14

عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى

‘inda sidratil-muntahâ

(yaitu ketika) di Sidratulmuntaha.

15

عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰىۗ

‘indahâ jannatul-ma'wâ

Di dekatnya ada surga tempat tinggal.

16

اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ

idz yaghsyas-sidrata mâ yaghsyâ

(Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya.

17

مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى

mâ zâghal-basharu wa mâ thaghâ

Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak menyimpang dan tidak melampaui (apa yang dilihatnya).

18

لَقَدْ رَاٰى مِنْ اٰيٰتِ رَبِّهِ الْكُبْرٰى

laqad ra'â min âyâti rabbihil-kubrâ

Sungguh, dia benar-benar telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang sangat besar.

19

اَفَرَءَيْتُمُ اللّٰتَ وَالْعُزّٰى

a fa ra'aitumul-lâta wal-‘uzzâ

Apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap (dua berhala) al-Lata dan al-‘Uzza,

20

وَمَنٰوةَ الثَّالِثَةَ الْاُخْرٰى

wa manâtats-tsâlitsatal-ukhrâ

serta Manata (berhala) ketiga yang lain (sebagai anak-anak perempuan Allah yang kamu sembah)?

21

اَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْاُنْثٰى

a lakumudz-dzakaru wa lahul-untsâ

Apakah (pantas) bagi kamu (anak) laki-laki dan bagi-Nya (anak) perempuan?

22

تِلْكَ اِذًا قِسْمَةٌ ضِيْزٰى

tilka idzang qismatun dlîzâ

Itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.

23

اِنْ هِيَ اِلَّآ اَسْمَاۤءٌ سَمَّيْتُمُوْهَآ اَنْتُمْ وَاٰبَاۤؤُكُمْ مَّآ اَنْزَلَ اللّٰهُ بِهَا مِنْ سُلْطٰنٍۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْاَنْفُسُۚ وَلَقَدْ جَاۤءَهُمْ مِّنْ رَّبِّهِمُ الْهُدٰىۗ

in hiya illâ asmâ'un sammaitumûhâ antum wa âbâ'ukum mâ anzalallâhu bihâ min sulthân, iy yattabi‘ûna illadh-dhanna wa mâ tahwal-anfus, wa laqad jâ'ahum mir rabbihimul-hudâ

(Berhala-berhala) itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu ada-adakan. Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk (menyembah)-nya. Mereka hanya mengikuti dugaan dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu. Padahal, sungguh, mereka benar-benar telah didatangi petunjuk dari Tuhan mereka.

24

اَمْ لِلْاِنْسَانِ مَا تَمَنّٰىۖ

am lil-insâni mâ tamannâ

Apakah manusia akan mendapat segala yang diinginkannya?

25

فَلِلّٰهِ الْاٰخِرَةُ وَالْاُوْلٰىࣖ

fa lillâhil-âkhiratu wal-ûlâ

Tidak!) Milik Allahlah kehidupan akhirat dan dunia.

26

وَكَمْ مِّنْ مَّلَكٍ فِى السَّمٰوٰتِ لَا تُغْنِيْ شَفَاعَتُهُمْ شَيْـًٔا اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ اَنْ يَّأْذَنَ اللّٰهُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَرْضٰى

wa kam mim malakin fis-samâwâti lâ tughnî syafâ‘atuhum syai'an illâ mim ba‘di ay ya'dzanallâhu limay yasyâ'u wa yardlâ

Betapa banyak malaikat di langit yang syafaat (pertolongan) mereka sedikit pun tidak berguna, kecuali apabila Allah telah mengizinkan(-nya untuk diberikan) kepada siapa yang Dia kehendaki dan ridai.

27

اِنَّ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِ لَيُسَمُّوْنَ الْمَلٰۤىِٕكَةَ تَسْمِيَةَ الْاُنْثٰى

innalladzîna lâ yu'minûna bil-âkhirati layusammûnal-malâ'ikata tasmiyatal-untsâ

Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat benar-benar menamai para malaikat dengan nama perempuan.

28

وَمَا لَهُمْ بِهٖ مِنْ عِلْمٍۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِيْ مِنَ الْحَقِّ شَيْـًٔاۚ

wa mâ lahum bihî min ‘ilm, iy yattabi‘ûna illadh-dhanna wa innadh-dhanna lâ yughnî minal-ḫaqqi syai'â

Padahal, mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan dan sesungguhnya dugaan itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran.

29

فَاَعْرِضْ عَنْ مَّنْ تَوَلّٰىۙ عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ اِلَّا الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۗ

fa a‘ridl ‘am man tawallâ ‘an dzikrinâ wa lam yurid illal-ḫayâtad-dun-yâ

Tinggalkanlah (Nabi Muhammad) orang yang berpaling dari peringatan Kami (Al-Qur’an) dan hanya menginginkan kehidupan dunia!

30

ذٰلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِّنَ الْعِلْمِۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖۙ وَهُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدٰى

dzâlika mablaghuhum minal-‘ilm, inna rabbaka huwa a‘lamu biman dlalla ‘an sabîlihî wa huwa a‘lamu bimanihtadâ

Itulah kadar pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmulah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.

31

وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ لِيَجْزِيَ الَّذِيْنَ اَسَاۤءُوْا بِمَا عَمِلُوْا وَيَجْزِيَ الَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا بِالْحُسْنٰىۚ

wa lillâhi mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl, liyajziyalladzîna asâ'û bimâ ‘amilû wa yajziyalladzîna aḫsanû bil-ḫusnâ

Milik Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. (Dengan demikian,) Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).

32

اَلَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ اِلَّا اللَّمَمَۙ اِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِۗ هُوَ اَعْلَمُ بِكُمْ اِذْ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاِذْ اَنْتُمْ اَجِنَّةٌ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْۗ فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰىࣖ

alladzîna yajtanibûna kabâ'iral-itsmi wal-fawâḫisya illal-lamama inna rabbaka wâsi‘ul-maghfirah, huwa a‘lamu bikum idz ansya'akum minal-ardli wa idz antum ajinnatun fî buthûni ummahâtikum, fa lâ tuzakkû anfusakum, huwa a‘lamu bimanittaqâ

(Mereka adalah) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji. Akan tetapi, mereka (memang) melakukan dosa-dosa kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya. Dia lebih mengetahui dirimu sejak Dia menjadikanmu dari tanah dan ketika kamu masih berupa janin dalam perut ibumu. Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.

33

اَفَرَءَيْتَ الَّذِيْ تَوَلّٰىۙ

a fa ra'aitalladzî tawallâ

Tidakkah engkau melihat orang yang berpaling (dari Al-Qur’an)?

34

وَاَعْطٰى قَلِيْلًا وَّاَكْدٰى

wa a‘thâ qalîlaw wa akdâ

Dia memberikan sedikit (dari apa yang telah disepakati), lalu menahan sisanya.

35

اَعِنْدَهٗ عِلْمُ الْغَيْبِ فَهُوَ يَرٰى

a ‘indahû ‘ilmul-ghaibi fa huwa yarâ

Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang gaib, sehingga dia dapat melihat(-nya)?

36

اَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِيْ صُحُفِ مُوْسٰى

am lam yunabba' bimâ fî shuḫufi mûsâ

Apakah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran (kitab suci yang diturunkan kepada) Musa

37

وَاِبْرٰهِيْمَ الَّذِيْ وَفّٰىٓۙ

wa ibrâhîmalladzî waffâ

dan (lembaran-lembaran) Ibrahim yang telah memenuhi janji setianya?

38

اَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۙ

allâ taziru wâziratuw wizra ukhrâ

(Dalam lembaran-lembaran itu terdapat ketetapan) bahwa seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,

39

وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ

wa al laisa lil-insâni illâ mâ sa‘â

bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya,

40

وَاَنَّ سَعْيَهٗ سَوْفَ يُرٰىۖ

wa anna sa‘yahû saufa yurâ

bahwa sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya),

41

ثُمَّ يُجْزٰىهُ الْجَزَاۤءَ الْاَوْفٰىۙ

tsumma yujzâhul-jazâ'al-aufâ

kemudian dia akan diberi balasan atas (amalnya) itu dengan balasan yang paling sempurna,

42

وَاَنَّ اِلٰى رَبِّكَ الْمُنْتَهٰىۙ

wa anna ilâ rabbikal-muntahâ

bahwa sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu),

43

وَاَنَّهٗ هُوَ اَضْحَكَ وَاَبْكٰى

wa annahû huwa adl-ḫaka wa abkâ

bahwa sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,

44

وَاَنَّهٗ هُوَ اَمَاتَ وَاَحْيَاۙ

wa annahû huwa amâta wa aḫyâ

bahwa sesungguhnya Dialah yang mematikan dan menghidupkan,

45

وَاَنَّهٗ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْاُنْثٰى

wa annahû khalaqaz-zaujainidz-dzakara wal-untsâ

bahwa sesungguhnya Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan

46

مِنْ نُّطْفَةٍ اِذَا تُمْنٰىۙ

min nuthfatin idzâ tumnâ

dari mani ketika dipancarkan

47

وَاَنَّ عَلَيْهِ النَّشْاَةَ الْاُخْرٰىۙ

wa anna ‘alaihin-nasy'atal-ukhrâ

bahwa sesungguhnya Dialah yang menetapkan penciptaan yang lain (kebangkitan setelah mati),

48

وَاَنَّهٗ هُوَ اَغْنٰى وَاَقْنٰىۙ

wa annahû huwa aghnâ wa aqnâ

bahwa sesungguhnya Dialah yang menganugerahkan kekayaan dan kecukupan,

49

وَاَنَّهٗ هُوَ رَبُّ الشِّعْرٰىۙ

wa annahû huwa rabbusy-syi‘râ

bahwa sesungguhnya Dialah Tuhan (yang memiliki) bintang Syi‘ra,

50

وَاَنَّهٗٓ اَهْلَكَ عَادًا ࣙالْاُوْلٰىۙ

wa annahû ahlaka ‘âdanil-ûlâ

dan bahwa sesungguhnya Dialah yang telah membinasakan (kaum) ‘Ad yang terdahulu

51

وَثَمُوْدَا۟ فَمَآ اَبْقٰىۙ

wa tsamûda fa mâ abqâ

dan (kaum) Samud. Tidak seorang pun ditinggalkan-Nya (hidup).

52

وَقَوْمَ نُوْحٍ مِّنْ قَبْلُۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا هُمْ اَظْلَمَ وَاَطْغٰىۗ

wa qauma nûḫim ming qabl, innahum kânû hum adhlama wa athghâ

Sebelum itu kaum Nuh juga (dibinasakan). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang lebih zalim dan lebih durhaka.

53

وَالْمُؤْتَفِكَةَ اَهْوٰىۙ

wal-mu'tafikata ahwâ

Dia juga menjungkirbalikkan negeri kaum Lut,

54

فَغَشّٰىهَا مَا غَشّٰىۚ

fa ghasysyâhâ mâ ghasysyâ

lalu Dia menimbuninya dengan apa yang menimpanya.

55

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكَ تَتَمَارٰى

fa bi'ayyi âlâ'i rabbika tatamârâ

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang masih kamu ragukan?

56

هٰذَا نَذِيْرٌ مِّنَ النُّذُرِ الْاُوْلٰى

hâdzâ nadzîrum minan-nudzuril-ûlâ

Ini (Nabi Muhammad) adalah salah seorang pemberi peringatan di antara para pemberi peringatan yang terdahulu.

57

اَزِفَتِ الْاٰزِفةُۚ

azifatil-âzifah

(Hari Kiamat) yang dekat makin mendekat.

58

لَيْسَ لَهَا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ كَاشِفَةٌۗ

laisa lahâ min dûnillâhi kâsyifah

Tidak ada yang akan dapat mengungkapkan (terjadinya hari itu) selain Allah.

59

اَفَمِنْ هٰذَا الْحَدِيْثِ تَعْجَبُوْنَۙ

a fa min hâdzal-ḫadîtsi ta‘jabûn

Maka, apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini?

60

وَتَضْحَكُوْنَ وَلَا تَبْكُوْنَۙ

wa tadl-ḫakûna wa lâ tabkûn

Kamu menertawakan dan tidak menangisi(-nya),

61

وَاَنْتُمْ سٰمِدُوْنَ

wa antum sâmidûn

sedangkan kamu lengah (darinya).

62

فَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ وَاعْبُدُوْاࣖ ۩

fasjudû lillâhi wa‘budû

Bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).

Anda baru saja membaca Surat An-Najm.
Kami baru saja menghapus semua iklan dari situs ini.
Donasi Anda yang menjaga Litequran.net tetap bebas iklan — untuk Anda dan ratusan ribu pembaca lainnya.

Donasi Sekarang

Pertanyaan Umum tentang Surat An-Najm

Apa isi kandungan Surat An-Najm?

An-Najm menegaskan kebenaran Al-Quran sebagai wahyu yang diterima Rasulullah saat Mi'raj, bukan ucapan yang didasari hawa nafsu, dan beliau melihat Jibril dalam wujud aslinya. Surat ini juga membantah kepercayaan musyrikin tentang berhala Lata, Uzza, dan Manat, serta memuat isi-isi lembaran Nabi Ibrahim dan Musa. Surat An-Najm terdiri dari 62 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah (diturunkan di Mekkah).

Berapa jumlah ayat Surat An-Najm?

Surat An-Najm terdiri dari 62 ayat dan terdapat pada juz 27 dalam Al-Quran. Estimasi waktu membaca dengan tartil beserta terjemahannya sekitar 12 menit.

Mengapa surat ini dinamakan An-Najm (Bintang)?

Nama "An-Najm" (النجم) berarti "Bintang" dalam bahasa Indonesia. Penamaan ini merujuk pada tema atau kisah utama yang dibahas dalam surat. Surat ini merupakan surat ke-53 dalam urutan mushaf Al-Quran.

Apakah Surat An-Najm Makkiyah atau Madaniyah?

Surat An-Najm termasuk golongan surat Makkiyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekkah. Surat Makkiyah umumnya membahas tema keimanan, tauhid, hari akhir, dan kisah para nabi sebagai penguatan akidah umat Islam di masa awal dakwah.

Kapan waktu terbaik membaca Surat An-Najm?

Surat An-Najm dapat dibaca kapan saja, terutama saat berdzikir dan bermunajat kepada Allah. Sebagai surat Makkiyah yang berisi penguatan iman dan tauhid, membacanya di waktu tenang seperti sepertiga malam terakhir atau setelah shalat Subuh sangat dianjurkan.

Apa keutamaan membaca Surat An-Najm?

Surat ini mengandung kisah Mi'raj yang merupakan salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah Islam. Pada akhir surat ini terdapat ayat sajdah tilawah; ketika Nabi ﷺ membacanya, kaum Quraisy ikut sujud bersama beliau. (HR. Bukhari) Ayat 39 menegaskan prinsip usaha: 'Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya' — menjadi dasar etos kerja dalam Islam. Surat ini membantah segala bentuk penyembahan berhala dengan argumen yang tegas dan logis.