طٰسۤمّۤ
thâ sîm mîm
Ṭā Sīn Mīm.
Baca Surat Asy-Syu'ara' (Penyair — الشعراء) lengkap dengan teks Latin, Arab, dan terjemahan bahasa Indonesia. Berikut adalah 227 ayat Makkiyah (Juz 19) — surat ke-26 dalam Al-Quran yang bisa Anda akses dengan cepat, ringan, dan tanpa iklan. Asy-Syu'ara mengisahkan tujuh nabi—Musa, Ibrahim, Nuh, Hud, Saleh, Luth, dan Syu'aib—yang semuanya didustakan oleh kaumnya, namun diselamatkan Allah. Surat ini diakhiri dengan menegaskan perbedaan antara Al-Quran yang dibawa malaikat Jibril dengan syair para penyair yang menyesatkan..
Surat Asy-Syu'ara' termasuk surat Makkiyah yang turun pada periode pertengahan dakwah di Mekkah. Surat ini turun ketika kaum Quraisy menuduh Nabi Muhammad ﷺ sebagai penyair dan Al-Quran sebagai syair. Allah menurunkan surat ini untuk membantah tuduhan tersebut dan menunjukkan bahwa penolakan terhadap rasul adalah pola yang berulang sepanjang sejarah, dan semua kaum yang menolak pasti menerima akibatnya.
Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir As-Sa'di
طٰسۤمّۤ
thâ sîm mîm
Ṭā Sīn Mīm.
تِلْكَ اٰيٰتُ الْكِتٰبِ الْمُبِيْنِ
tilka âyâtul-kitâbil-mubîn
Itulah ayat-ayat Kitab (Al-Qur’an) yang jelas.
لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ اَلَّا يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ
la‘allaka bâkhi‘un nafsaka allâ yakûnû mu'minîn
Boleh jadi engkau (Nabi Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan) karena mereka (penduduk Makkah) tidak beriman.
اِنْ نَّشَأْ نُنَزِّلْ عَلَيْهِمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ اٰيَةً فَظَلَّتْ اَعْنَاقُهُمْ لَهَا خٰضِعِيْنَ
in nasya' nunazzil ‘alaihim minas-samâ'i âyatan fa dhallat a‘nâquhum lahâ khâdli‘în
Jika berkehendak, niscaya Kami turunkan bukti (mukjizat) kepada mereka dari langit sehingga tengkuk mereka selalu tunduk kepadanya.
وَمَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ ذِكْرٍ مِّنَ الرَّحْمٰنِ مُحْدَثٍ اِلَّا كَانُوْا عَنْهُ مُعْرِضِيْنَ
wa mâ ya'tîhim min dzikrim minar-raḫmâni muḫdatsin illâ kânû ‘an-hu mu‘ridlîn
Tidak datang kepada mereka suatu peringatan baru (ayat Al-Qur’an) dari Tuhan Yang Maha Pengasih, kecuali mereka selalu berpaling darinya.
فَقَدْ كَذَّبُوْا فَسَيَأْتِيْهِمْ اَنْۢبـٰۤؤُا مَا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ
fa qad kadzdzabû fa saya'tîhim ambâ'u mâ kânû bihî yastahzi'ûn
Sungguh, mereka telah mendustakan (Al-Qur’an). Maka, kelak akan datang kepada mereka (kebenaran) berita-berita mengenai apa (azab) yang selalu mereka perolok-olokkan.
اَوَلَمْ يَرَوْا اِلَى الْاَرْضِ كَمْ اَنْۢبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيْمٍ
a wa lam yarau ilal-ardli kam ambatnâ fîhâ ming kulli zaujing karîm
Apakah mereka tidak memperhatikan bumi, betapa banyak Kami telah menumbuhkan di sana segala jenis (tanaman) yang tumbuh baik?
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةًۗ وَمَا كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
inna fî dzâlika la'âyah, wa mâ kâna aktsaruhum mu'minîn
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
وَاِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُࣖ
wa inna rabbaka lahuwal-‘azîzur-raḫîm
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
وَاِذْ نَادٰى رَبُّكَ مُوْسٰٓى اَنِ ائْتِ الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَۙ
wa idz nâdâ rabbuka mûsâ ani'til-qaumadh-dhâlimîn
(Ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya), “Datangilah kaum yang zalim itu.
قَوْمَ فِرْعَوْنَۗ اَلَا يَتَّقُوْنَ
qauma fir‘aûn, alâ yattaqûn
(Yaitu) kaum Fir‘aun. Mengapa mereka tidak bertakwa?”
قَالَ رَبِّ اِنِّيْٓ اَخَافُ اَنْ يُّكَذِّبُوْنِۗ
qâla rabbi innî akhâfu ay yukadzdzibûn
Dia (Musa) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku takut mereka akan mendustakanku.
وَيَضِيْقُ صَدْرِيْ وَلَا يَنْطَلِقُ لِسَانِيْ فَاَرْسِلْ اِلٰى هٰرُوْنَ
wa yadlîqu shadrî wa lâ yanthaliqu lisânî fa arsil ilâ hârûn
Dadaku terasa sempit dan lidahku kelu. Maka, utuslah Harun (bersamaku).
وَلَهُمْ عَلَيَّ ذَنْۢبٌ فَاَخَافُ اَنْ يَّقْتُلُوْنِۚ
wa lahum ‘alayya dzambun fa akhâfu ay yaqtulûn
Aku berdosa terhadap mereka. Maka, aku takut mereka akan membunuhku.”
قَالَ كَلَّاۚ فَاذْهَبَا بِاٰيٰتِنَآ اِنَّا مَعَكُمْ مُّسْتَمِعُوْنَۙ
qâla kallâ, fadz-habâ bi'âyâtinâ innâ ma‘akum mustami‘ûn
Dia (Allah) berfirman, “Tidak (mereka tidak akan dapat membunuhmu). Maka, pergilah berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat). Sesungguhnya Kami menyertaimu mendengarkan (apa yang mereka katakan).
فَأْتِيَا فِرْعَوْنَ فَقُوْلَآ اِنَّا رَسُوْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ
fa'tiyâ fir‘auna fa qûlâ innâ rasûlu rabbil-‘âlamîn
Maka, datanglah berdua kepada Fir‘aun dan katakanlah, ‘Sesungguhnya kami adalah utusan Tuhan semesta alam.
اَنْ اَرْسِلْ مَعَنَا بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَۗ
an arsil ma‘anâ banî isrâ'îl
Lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama kami (menuju Baitulmaqdis).’”
قَالَ اَلَمْ نُرَبِّكَ فِيْنَا وَلِيْدًا وَّلَبِثْتَ فِيْنَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِيْنَۗ
qâla a lam nurabbika fînâ walîdaw wa labitsta fînâ min ‘umurika sinîn
Dia (Fir‘aun) berkata, “Bukankah kami telah mengasuhmu dalam lingkungan (keluarga) kami, waktu engkau masih bayi dan engkau tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.
وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ الَّتِيْ فَعَلْتَ وَاَنْتَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ
wa fa‘alta fa‘latakallatî fa‘alta wa anta minal-kâfirîn
Engkau (Musa) telah melakukan (kesalahan berupa) perbuatan yang telah engkau lakukan (membunuh seseorang dari kaumku) dan engkau termasuk orang yang ingkar (terhadap kebaikan dan ketuhananku).”
قَالَ فَعَلْتُهَآ اِذًا وَّاَنَا۠ مِنَ الضَّاۤلِّيْنَ
qâla fa‘altuhâ idzaw wa ana minadl-dlâllîn
Dia (Musa) berkata, “Aku telah melakukannya. Kalau begitu, saat itu aku termasuk orang-orang yang sesat.
فَفَرَرْتُ مِنْكُمْ لَمَّا خِفْتُكُمْ فَوَهَبَ لِيْ رَبِّيْ حُكْمًا وَّجَعَلَنِيْ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ
fa farartu mingkum lammâ khiftukum fa wahaba lî rabbî ḫukmaw wa ja‘alanî minal-mursalîn
Kemudian, aku lari darimu karena takut kepadamu. Lalu, Tuhanku menganugerahkan kepadaku hukum (ilmu dan kearifan) dan menjadikanku salah seorang rasul.
وَتِلْكَ نِعْمَةٌ تَمُنُّهَا عَلَيَّ اَنْ عَبَّدْتَّ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَۗ
wa tilka ni‘matun tamunnuhâ ‘alayya an ‘abbatta banî isrâ'îl
Itulah kenikmatan yang engkau berikan kepadaku, (sedangkan) engkau memperbudak Bani Israil.”
قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعٰلَمِيْنَۗ
qâla fir‘aunu wa mâ rabbul-‘âlamîn
Fir‘aun berkata, “Siapa Tuhan semesta alam itu?”
قَالَ رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَاۗ اِنْ كُنْتُمْ مُّوْقِنِيْنَ
qâla rabbus-samâwâti wal-ardli wa mâ bainahumâ, ing kuntum mûqinîn
Dia (Musa) menjawab, “Tuhan (pencipta dan pemelihara) langit, bumi, dan segala yang ada di antaranya jika kamu orang-orang yang yakin.”
قَالَ لِمَنْ حَوْلَهٗٓ اَلَا تَسْتَمِعُوْنَ
qâla liman ḫaulahû alâ tastami‘ûn
Dia (Fir‘aun) berkata kepada orang-orang di sekitarnya, “Tidakkah kamu mendengar (apa yang dikatakannya)?”
قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ اٰبَاۤىِٕكُمُ الْاَوَّلِيْنَ
qâla rabbukum wa rabbu âbâ'ikumul-awwalîn
Dia (Musa) berkata, “(Dia) Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu terdahulu.”
قَالَ اِنَّ رَسُوْلَكُمُ الَّذِيْٓ اُرْسِلَ اِلَيْكُمْ لَمَجْنُوْنٌ
qâla inna rasûlakumulladzî ursila ilaikum lamajnûn
Dia (Fir‘aun) berkata, “Sesungguhnya rasulmu yang diutus kepadamu benar-benar gila.”
قَالَ رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَاۗ اِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُوْنَ
qâla rabbul-masyriqi wal-maghribi wa mâ bainahumâ, ing kuntum ta‘qilûn
Dia (Musa) berkata, “(Dia) Tuhan (yang menguasai) timur dan barat serta segala yang ada di antaranya jika kamu mengerti.”
قَالَ لَىِٕنِ اتَّخَذْتَ اِلٰهًا غَيْرِيْ لَاَجْعَلَنَّكَ مِنَ الْمَسْجُوْنِيْنَ
qâla la'inittakhadzta ilâhan ghairî la'aj‘alannaka minal-masjûnîn
Dia (Fir‘aun) berkata, “Sungguh, jika engkau menyembah Tuhan selainku, niscaya aku benar-benar akan menjadikanmu termasuk orang-orang yang dipenjarakan.”
قَالَ اَوَلَوْ جِئْتُكَ بِشَيْءٍ مُّبِيْنٍ
qâla a walau ji'tuka bisyai'im mubîn
Dia (Musa) berkata, “Apakah (engkau akan melakukan itu) sekalipun aku mendatangkan kepadamu sesuatu (bukti) yang jelas?”
قَالَ فَأْتِ بِهٖٓ اِنْ كُنْتَ مِنَ الصّٰدِقِيْنَ
qâla fa'ti bihî ing kunta minash-shâdiqîn
Dia (Fir‘aun) berkata, “Datangkanlah (bukti yang jelas) itu jika engkau termasuk orang-orang yang benar!”
فَاَلْقٰى عَصَاهُ فَاِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُّبِيْنٌۚ
fa alqâ ‘ashâhu fa idzâ hiya tsu‘bânum mubîn
Maka, dia (Musa) melemparkan tongkatnya, tiba-tiba ia (tongkat itu) menjadi ular besar yang nyata.
وَنَزَعَ يَدَهٗ فَاِذَا هِيَ بَيْضَاۤءُ لِلنّٰظِرِيْنَࣖ
wa naza‘a yadahû fa idzâ hiya baidlâ'u lin-nâdhirîn
Dia menarik tangannya, tiba-tiba ia (tangan itu) menjadi putih (bercahaya) bagi orang-orang yang melihat(-nya).
قَالَ لِلْمَلَاِ حَوْلَهٗٓ اِنَّ هٰذَا لَسٰحِرٌ عَلِيْمٌۙ
qâla lil-mala'i ḫaulahû inna hâdzâ lasâḫirun ‘alîm
Dia (Fir‘aun) berkata kepada para pemuka di sekitarnya, “Sesungguhnya dia (Musa) ini benar-benar seorang penyihir yang sangat pandai.
يُّرِيْدُ اَنْ يُّخْرِجَكُمْ مِّنْ اَرْضِكُمْ بِسِحْرِهٖۖ فَمَاذَا تَأْمُرُوْنَ
yurîdu ay yukhrijakum min ardlikum bisiḫrihî fa mâdzâ ta'murûn
Dia hendak mengeluarkanmu dari negerimu dengan sihirnya. Maka, apa yang kamu sarankan?”
قَالُوْٓا اَرْجِهْ وَاَخَاهُ وَابْعَثْ فِى الْمَدَاۤىِٕنِ حٰشِرِيْنَۙ
qâlû arjih wa akhâhu wab‘ats fil-madâ'ini ḫâsyirîn
Mereka berkata, “Tahanlah (untuk sementara) dia dan saudaranya serta utuslah ke seluruh negeri orang-orang yang akan mengumpulkan (penyihir).
يَأْتُوْكَ بِكُلِّ سَحَّارٍ عَلِيْمٍ
ya'tûka bikulli saḫḫârin ‘alîm
Mereka akan mendatangkan kepadamu semua penyihir yang sangat pandai.”
فَجُمِعَ السَّحَرَةُ لِمِيْقَاتِ يَوْمٍ مَّعْلُوْمٍۙ
fa jumi‘as-saḫaratu limîqâti yaumim ma‘lûm
Maka, dikumpulkanlah para penyihir pada waktu (yang ditetapkan) pada hari yang telah ditentukan.
وَّقِيْلَ لِلنَّاسِ هَلْ اَنْتُمْ مُّجْتَمِعُوْنَۙ
wa qîla lin-nâsi hal antum mujtami‘ûn
Lalu, diumumkan kepada orang banyak, “Apakah kamu semua sudah berkumpul?
لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ السَّحَرَةَ اِنْ كَانُوْا هُمُ الْغٰلِبِيْنَ
la‘allanâ nattabi‘us-saḫarata ing kânû humul-ghâlibîn
(Tujuannya) supaya kita mengikuti para penyihir itu jika mereka jadi para pemenang.”
فَلَمَّا جَاۤءَ السَّحَرَةُ قَالُوْا لِفِرْعَوْنَ اَىِٕنَّ لَنَا لَاَجْرًا اِنْ كُنَّا نَحْنُ الْغٰلِبِيْنَ
fa lammâ jâ'as-saḫaratu qâlû lifir‘auna a inna lanâ la'ajran ing kunnâ naḫnul-ghâlibîn
Maka, ketika para penyihir datang, mereka berkata kepada Fir‘aun, “Apakah kami benar-benar akan memperoleh imbalan besar jika kami yang menjadi pemenang?”
قَالَ نَعَمْ وَاِنَّكُمْ اِذًا لَّمِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ
qâla na‘am wa innakum idzal laminal-muqarrabîn
Dia (Fir‘aun) menjawab, “Ya, bahkan kamu pasti akan menjadi orang-orang yang dekat (kepadaku).”
قَالَ لَهُمْ مُّوْسٰٓى اَلْقُوْا مَآ اَنْتُمْ مُّلْقُوْنَ
qâla lahum mûsâ alqû mâ antum mulqûn
Musa berkata kepada mereka, “Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan!”
فَاَلْقَوْا حِبَالَهُمْ وَعِصِيَّهُمْ وَقَالُوْا بِعِزَّةِ فِرْعَوْنَ اِنَّا لَنَحْنُ الْغٰلِبُوْنَ
fa alqau ḫibâlahum wa ‘ishiyyahum wa qâlû bi‘izzati fir‘auna innâ lanaḫnul-ghâlibûn
Lalu, mereka melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka seraya berkata, “Demi kekuasaan Fir‘aun, sesungguhnya kamilah yang benar-benar sebagai pemenang.”
فَاَلْقٰى مُوْسٰى عَصَاهُ فَاِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُوْنَۚ
fa alqâ mûsâ ‘ashâhu fa idzâ hiya talqafu mâ ya'fikûn
Kemudian, Musa melemparkan tongkatnya, tiba-tiba ia (tongkatnya yang sudah menjadi ular) menelan segala yang mereka ada-adakan itu.
فَاُلْقِيَ السَّحَرَةُ سٰجِدِيْنَۙ
fa ulqiyas-saḫaratu sâjidîn
Maka, tersungkurlah para penyihir itu (dalam keadaan) bersujud.
قَالُوْٓا اٰمَنَّا بِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ
qâlû âmannâ birabbil-‘âlamîn
Mereka berkata, “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam,
رَبِّ مُوْسٰى وَهٰرُوْنَ
rabbi mûsâ wa hârûn
(yaitu) Tuhannya Musa dan Harun.”
قَالَ اٰمَنْتُمْ لَهٗ قَبْلَ اَنْ اٰذَنَ لَكُمْۚ اِنَّهٗ لَكَبِيْرُكُمُ الَّذِيْ عَلَّمَكُمُ السِّحْرَۚ فَلَسَوْفَ تَعْلَمُوْنَ ەۗ لَاُقَطِّعَنَّ اَيْدِيَكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ مِّنْ خِلَافٍ وَّلَاُصَلِّبَنَّكُمْ اَجْمَعِيْنَۚ
qâla âmantum lahû qabla an âdzana lakum, innahû lakabîrukumulladzî ‘allamakumus-siḫr, fa lasaufa ta‘lamûn, la'uqaththi‘anna aidiyakum wa arjulakum min khilâfiw wa la'ushallibannakum ajma‘în
Dia (Fir‘aun) berkata, “Apakah kamu sekalian beriman kepadanya (Musa) sebelum aku mengizinkanmu? Sesungguhnya dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu. Maka, kamu tentu akan tahu (akibat perbuatanmu). Pasti kupotong tangan dan kakimu secara bersilang dan benar-benar akan kusalib kamu semua.”
قَالُوْا لَا ضَيْرَۖ اِنَّآ اِلٰى رَبِّنَا مُنْقَلِبُوْنَۚ
qâlû lâ dlaira innâ ilâ rabbinâ mungqalibûn
Mereka menjawab, “Tidak ada yang kami takutkan. Sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.
اِنَّا نَطْمَعُ اَنْ يَّغْفِرَ لَنَا رَبُّنَا خَطٰيٰنَآ اَنْ كُنَّآ اَوَّلَ الْمُؤْمِنِيْنَۗࣖ
innâ nathma‘u ay yaghfira lanâ rabbunâ khathâyânâ ang kunnâ awwalal-mu'minîn
Sesungguhnya kami sangat menginginkan agar Tuhan kami mengampuni kesalahan-kesalahan kami karena kami adalah orang-orang yang pertama menjadi mukmin.”
۞ وَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنْ اَسْرِ بِعِبَادِيْٓ اِنَّكُمْ مُّتَّبَعُوْنَ
wa auḫainâ ilâ mûsâ an asri bi‘ibâdî innakum muttaba‘ûn
Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa, “Pergilah pada malam hari dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil). Sesungguhnya kamu pasti akan diikuti.”
فَاَرْسَلَ فِرْعَوْنُ فِى الْمَدَاۤىِٕنِ حٰشِرِيْنَۚ
fa arsala fir‘aunu fil-madâ'ini ḫâsyirîn
Lalu, Fir‘aun mengirimkan orang ke kota-kota untuk mengumpulkan (bala tentaranya).
اِنَّ هٰٓؤُلَاۤءِ لَشِرْذِمَةٌ قَلِيْلُوْنَۙ
inna hâ'ulâ'i lasyirdzimatung qalîlûn
(Fir‘aun berkata,) “Sesungguhnya mereka (Bani Israil) hanyalah sekelompok kecil.
وَاِنَّهُمْ لَنَا لَغَاۤىِٕظُوْنَۙ
wa innahum lanâ laghâ'idhûn
Sesungguhnya mereka telah membuat kita marah.
وَاِنَّا لَجَمِيْعٌ حٰذِرُوْنَۗ
wa innâ lajamî‘un ḫâdzirûn
Sesungguhnya kita semua benar-benar harus selalu waspada.”
فَاَخْرَجْنٰهُمْ مِّنْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍۙ
fa akhrajnâhum min jannâtiw wa ‘uyûn
Kami keluarkan mereka (Fir‘aun dan kaumnya) dari (negeri mereka yang mempunyai) taman, mata air,
وَّكُنُوْزٍ وَّمَقَامٍ كَرِيْمٍۙ
wa kunûziw wa maqâming karîm
harta kekayaan, dan tempat tinggal yang bagus.
كَذٰلِكَۚ وَاَوْرَثْنٰهَا بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَۗ
kadzâlik, wa auratsnâhâ banî isrâ'îl
Demikianlah, dan Kami wariskan semuanya kepada Bani Israil.
فَاَتْبَعُوْهُمْ مُّشْرِقِيْنَ
fa atba‘ûhum musyriqîn
Lalu, (Fir‘aun dan bala tentaranya dapat) menyusul mereka pada waktu matahari terbit.
فَلَمَّا تَرٰۤءَا الْجَمْعٰنِ قَالَ اَصْحٰبُ مُوْسٰٓى اِنَّا لَمُدْرَكُوْنَۚ
fa lammâ tarâ'al-jam‘âni qâla ash-ḫâbu mûsâ innâ lamudrakûn
Ketika kedua golongan itu saling melihat, para pengikut Musa berkata, “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.”
قَالَ كَلَّاۗ اِنَّ مَعِيَ رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ
qâla kallâ, inna ma‘iya rabbî sayahdîn
Dia (Musa) berkata, “Tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan menunjukiku.”
فَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنِ اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْبَحْرَۗ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيْمِۚ
fa auḫainâ ilâ mûsâ anidlrib bi‘ashâkal-baḫr, fanfalaqa fa kâna kullu firqing kath-thaudil-‘adhîm
Lalu, Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah laut dengan tongkatmu itu.” Maka, terbelahlah (laut itu) dan setiap belahan seperti gunung yang sangat besar.
وَاَزْلَفْنَا ثَمَّ الْاٰخَرِيْنَۚ
wa azlafnâ tsammal-âkharîn
Di sanalah Kami dekatkan kelompok yang lain.
وَاَنْجَيْنَا مُوْسٰى وَمَنْ مَّعَهٗٓ اَجْمَعِيْنَۚ
wa anjainâ mûsâ wa mam ma‘ahû ajma‘în
Kami selamatkan Musa dan semua orang yang bersamanya.
ثُمَّ اَغْرَقْنَا الْاٰخَرِيْنَۗ
tsumma aghraqnal-âkharîn
Kemudian, Kami tenggelamkan kelompok yang lain.
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةًۗ وَمَا كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
inna fî dzâlika la'âyah, wa mâ kâna aktsaruhum mu'minîn
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
وَاِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُࣖ
wa inna rabbaka lahuwal-‘azîzur-raḫîm
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ اِبْرٰهِيْمَۘ
watlu ‘alaihim naba'a ibrâhîm
Bacakanlah kepada mereka berita Ibrahim.
اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ وَقَوْمِهٖ مَا تَعْبُدُوْنَ
idz qâla li'abîhi wa qaumihî mâ ta‘budûn
Ketika dia (Ibrahim) berkata kepada bapak dan kaumnya, “Apa yang kamu sembah?”
قَالُوْا نَعْبُدُ اَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عٰكِفِيْنَ
qâlû na‘budu ashnâman fa nadhallu lahâ ‘âkifîn
Mereka menjawab, “Kami menyembah berhala-berhala dan senantiasa tekun menyembahnya.”
قَالَ هَلْ يَسْمَعُوْنَكُمْ اِذْ تَدْعُوْنَۙ
qâla hal yasma‘ûnakum idz tad‘ûn
Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah mereka mendengarmu ketika kamu berdoa (kepadanya)?
اَوْ يَنْفَعُوْنَكُمْ اَوْ يَضُرُّوْنَ
au yanfa‘ûnakum au yadlurrûn
Atau, (dapatkah) mereka memberi manfaat atau mudarat kepadamu?”
قَالُوْا بَلْ وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا كَذٰلِكَ يَفْعَلُوْنَ
qâlû bal wajadnâ âbâ'anâ kadzâlika yaf‘alûn
Mereka menjawab, “Tidak, tetapi kami mendapati nenek moyang kami berbuat begitu.”
قَالَ اَفَرَءَيْتُمْ مَّا كُنْتُمْ تَعْبُدُوْنَۙ
qâla a fa ra'aitum mâ kuntum ta‘budûn
Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu memperhatikan apa yang selalu kamu sembah?
اَنْتُمْ وَاٰبَاۤؤُكُمُ الْاَقْدَمُوْنَۙ
antum wa âbâ'ukumul-aqdamûn
Kamu dan nenek moyangmu terdahulu?
فَاِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّيْٓ اِلَّا رَبَّ الْعٰلَمِيْنَۙ
fa innahum ‘aduwwul lî illâ rabbal-‘âlamîn
Sesungguhnya mereka itu adalah musuhku, lain halnya Tuhan pemelihara semesta alam.
الَّذِيْ خَلَقَنِيْ فَهُوَ يَهْدِيْنِۙ
alladzî khalaqanî fa huwa yahdîn
(Allah) yang telah menciptakanku. Maka, Dia (pula) yang memberi petunjuk kepadaku.
وَالَّذِيْ هُوَ يُطْعِمُنِيْ وَيَسْقِيْنِۙ
walladzî huwa yuth‘imunî wa yasqîn
Dia (pula) yang memberiku makan dan minum.
وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِۙ
wa idzâ maridltu fa huwa yasyfîn
Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.
وَالَّذِيْ يُمِيْتُنِيْ ثُمَّ يُحْيِيْنِۙ
walladzî yumîtunî tsumma yuḫyîn
(Dia) yang akan mematikanku, kemudian menghidupkanku (kembali).
وَالَّذِيْٓ اَطْمَعُ اَنْ يَّغْفِرَ لِيْ خَطِيْۤـَٔتِيْ يَوْمَ الدِّيْنِۗ
walladzî athma‘u ay yaghfira lî khathî'atî yaumad-dîn
(Dia) yang sangat kuinginkan untuk mengampuni kesalahanku pada hari Pembalasan.”
رَبِّ هَبْ لِيْ حُكْمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَۙ
rabbi hab lî ḫukmaw wa al-ḫiqnî bish-shâliḫîn
(Ibrahim berdoa,) “Wahai Tuhanku, berikanlah kepadaku hukum (ilmu dan hikmah) dan pertemukanlah aku dengan orang-orang saleh.
وَاجْعَلْ لِّيْ لِسَانَ صِدْقٍ فِى الْاٰخِرِيْنَۙ
waj‘al lî lisâna shidqin fil-âkhirîn
Jadikanlah aku sebagai buah tutur yang baik di kalangan orang-orang (yang datang) kemudian.
وَاجْعَلْنِيْ مِنْ وَّرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيْمِۙ
waj‘alnî miw waratsati jannatin-na‘îm
Jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan.
وَاغْفِرْ لِاَبِيْٓ اِنَّهٗ كَانَ مِنَ الضَّاۤلِّيْنَۙ
waghfir li'abî innahû kâna minadl-dlâllîn
Ampunilah ayahku! Sesungguhnya dia termasuk orang-orang sesat.
وَلَا تُخْزِنِيْ يَوْمَ يُبْعَثُوْنَۙ
wa lâ tukhzinî yauma yub‘atsûn
Janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَۙ
yauma lâ yanfa‘u mâluw wa lâ banûn
(Yaitu) pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak.
اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍۗ
illâ man atallâha biqalbin salîm
Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
وَاُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِيْنَۙ
wa uzlifatil-jannatu lil-muttaqîn
Surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa.
وَبُرِّزَتِ الْجَحِيْمُ لِلْغَاوِيْنَۙ
wa burrizatil-jaḫîmu lil-ghâwîn
(Neraka) Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang-orang yang sesat.
وَقِيْلَ لَهُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُوْنَۙ
wa qîla lahum aina mâ kuntum ta‘budûn
Dikatakan kepada mereka, “Di mana berhala-berhala yang selalu kamu sembah
مِنْ دُوْنِ اللّٰهِۗ هَلْ يَنْصُرُوْنَكُمْ اَوْ يَنْتَصِرُوْنَۗ
min dûnillâh, hal yanshurûnakum au yantashirûn
selain Allah? Dapatkah mereka menolongmu atau menolong dirinya sendiri?”
فَكُبْكِبُوْا فِيْهَا هُمْ وَالْغَاوٗنَۙ
fakubkibû fîhâ hum wal-ghâwûn
Mereka (sesembahan itu) dijungkirbalikkan di dalamnya (neraka) bersama orang-orang yang sesat.
وَجُنُوْدُ اِبْلِيْسَ اَجْمَعُوْنَۗ
wa junûdu iblîsa ajma‘ûn
(Begitu pula) bala tentara Iblis (dan) semuanya (dijungkirbalikkan).
قَالُوْا وَهُمْ فِيْهَا يَخْتَصِمُوْنَ
qâlû wa hum fîhâ yakhtashimûn
Mereka (orang-orang sesat) berkata sambil bertengkar di dalamnya (neraka),
تَاللّٰهِ اِنْ كُنَّا لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ
tallâhi ing kunnâ lafî dlalâlim mubîn
“Demi Allah, sesungguhnya kami dahulu (di dunia) benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
اِذْ نُسَوِّيْكُمْ بِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
idz nusawwîkum birabbil-‘âlamîn
(Yaitu) ketika kami mempersamakan kamu (berhala-berhala) dengan Tuhan semesta alam.
وَمَآ اَضَلَّنَآ اِلَّا الْمُجْرِمُوْنَ
wa mâ adlallanâ illal-mujrimûn
Tidak ada yang menyesatkan kami, kecuali para pendosa.
فَمَا لَنَا مِنْ شٰفِعِيْنَۙ
fa mâ lanâ min syâfi‘în
Tidak ada pemberi syafaat (penolong) untuk kami.
وَلَا صَدِيْقٍ حَمِيْمٍ
wa lâ shadîqin ḫamîm
Tidak pula ada teman akrab.
فَلَوْ اَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَكُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ
falau anna lanâ karratan fa nakûna minal-mu'minîn
Seandainya dapat kembali (ke dunia), niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.”
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةًۗ وَمَا كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
inna fî dzâlika la'âyah, wa mâ kâna aktsaruhum mu'minîn
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
وَاِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُࣖ
wa inna rabbaka lahuwal-‘azîzur-raḫîm
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوْحِ ࣙالْمُرْسَلِيْنَۚ
kadzdzabat qaumu nûḫinil-mursalîn
Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.
اِذْ قَالَ لَهُمْ اَخُوْهُمْ نُوْحٌ اَلَا تَتَّقُوْنَۚ
idz qâla lahum akhûhum nûḫun alâ tattaqûn
Ketika saudara mereka, Nuh, berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?
اِنِّيْ لَكُمْ رَسُوْلٌ اَمِيْنٌۙ
innî lakum rasûlun amîn
Sesungguhnya aku adalah seorang rasul tepercaya (yang diutus) kepadamu.
فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِۚ
fattaqullâha wa athî‘ûn
Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
وَمَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍۚ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلٰى رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۚ
wa mâ as'alukum ‘alaihi min ajr, in ajriya illâ ‘alâ rabbil-‘âlamîn
Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain, kecuali dari Tuhan semesta alam.
فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِ
fattaqullâha wa athî‘ûn
Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.”
۞ قَالُوْٓا اَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الْاَرْذَلُوْنَۗ
qâlû a nu'minu laka wattaba‘akal-ardzalûn
Mereka berkata, “Apakah kami harus beriman kepadamu, padahal yang mengikutimu adalah orang-orang hina?”
قَالَ وَمَا عِلْمِيْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَۚ
qâla wa mâ ‘ilmî bimâ kânû ya‘malûn
Dia (Nuh) menjawab, “Apa pengetahuanku tentang apa yang biasa mereka kerjakan?
اِنْ حِسَابُهُمْ اِلَّا عَلٰى رَبِّيْ لَوْ تَشْعُرُوْنَۚ
in ḫisâbuhum illâ ‘alâ rabbî lau tasy‘urûn
Perhitungan (amal) mereka tidak lain, kecuali ada pada Tuhanku jika kamu menyadari.
وَمَآ اَنَا۠ بِطَارِدِ الْمُؤْمِنِيْنَۚ
wa mâ ana bithâridil-mu'minîn
Aku tidak akan mengusir orang-orang yang beriman.
اِنْ اَنَا۠ اِلَّا نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌۗ
in ana illâ nadzîrum mubîn
Aku tidak lain, kecuali pemberi peringatan yang jelas.”
قَالُوْا لَىِٕنْ لَّمْ تَنْتَهِ يٰنُوْحُ لَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْمَرْجُوْمِيْنَۗ
qâlû la'il lam tantahi yâ nûḫu latakûnanna minal-marjûmîn
Mereka berkata, “Wahai Nuh, jika tidak berhenti (dalam berdakwah), niscaya engkau akan termasuk orang-orang yang dirajam.”
قَالَ رَبِّ اِنَّ قَوْمِيْ كَذَّبُوْنِۖ
qâla rabbi inna qaumî kadzdzabûn
Dia (Nuh) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakanku.
فَافْتَحْ بَيْنِيْ وَبَيْنَهُمْ فَتْحًا وَّنَجِّنِيْ وَمَنْ مَّعِيَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ
faftaḫ bainî wa bainahum fat-ḫaw wa najjinî wa mam ma‘iya minal-mu'minîn
Maka, berilah keputusan antara aku dan mereka serta selamatkanlah aku dan orang-orang mukmin bersamaku.”
فَاَنْجَيْنٰهُ وَمَنْ مَّعَهٗ فِى الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِ
fa anjainâhu wa mam ma‘ahû fil-fulkil-masy-ḫûn
Kami selamatkan dia (Nuh) dan orang-orang yang bersamanya di dalam kapal yang penuh muatan.
ثُمَّ اَغْرَقْنَا بَعْدُ الْبَاقِيْنَ
tsumma aghraqnâ ba‘dul-bâqîn
Kemudian, Kami tenggelamkan orang-orang yang tersisa (tidak beriman) setelah itu.
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةًۗ وَمَا كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
inna fî dzâlika la'âyah, wa mâ kâna aktsaruhum mu'minîn
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
وَاِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُࣖ
wa inna rabbaka lahuwal-‘azîzur-raḫîm
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
كَذَّبَتْ عَادُ ࣙالْمُرْسَلِيْنَۖ
kadzdzabat ‘âdunil-mursalîn
(Kaum) ‘Ad telah mendustakan para rasul.
اِذْ قَالَ لَهُمْ اَخُوْهُمْ هُوْدٌ اَلَا تَتَّقُوْنَۚ
idz qâla lahum akhûhum hûdun alâ tattaqûn
Ketika saudara mereka, Hud, berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?
اِنِّيْ لَكُمْ رَسُوْلٌ اَمِيْنٌۙ
innî lakum rasûlun amîn
Sesungguhnya aku adalah seorang rasul tepercaya (yang diutus) kepadamu.
فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِۚ
fattaqullâha wa athî‘ûn
Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
وَمَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍۚ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلٰى رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ
wa mâ as'alukum ‘alaihi min ajr, in ajriya illâ ‘alâ rabbil-‘âlamîn
Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain, kecuali dari Tuhan semesta alam.
اَتَبْنُوْنَ بِكُلِّ رِيْعٍ اٰيَةً تَعْبَثُوْنَۙ
a tabnûna bikulli rî‘in âyatan ta‘batsûn
Apakah kamu mendirikan istana di setiap tanah yang tinggi untuk kemegahan tanpa ditempati?
وَتَتَّخِذُوْنَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُوْنَۚ
wa tattakhidzûna mashâni‘a la‘allakum takhludûn
Kamu (juga) membuat benteng-benteng dengan harapan hidup kekal?
وَاِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِيْنَۚ
wa idzâ bathasytum bathasytum jabbârîn
Apabila menyiksa, kamu lakukan secara kejam dan bengis.
فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِۚ
fattaqullâha wa athî‘ûn
Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
وَاتَّقُوا الَّذِيْٓ اَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُوْنَۚ
wattaqulladzî amaddakum bimâ ta‘lamûn
Bertakwalah kepada (Allah) yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui.
اَمَدَّكُمْ بِاَنْعَامٍ وَّبَنِيْنَۙ
amaddakum bi'an‘âmiw wa banîn
Dia (Allah) telah menganugerahkan hewan ternak dan anak-anak kepadamu.
وَجَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍۚ
wa jannâtiw wa ‘uyûn
(Dia juga menganugerahkan) kebun-kebun dan mata air.
اِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍۗ
innî akhâfu ‘alaikum ‘adzâba yaumin ‘adhîm
Sesungguhnya aku takut bahwa kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat.”
قَالُوْا سَوَاۤءٌ عَلَيْنَآ اَوَعَظْتَ اَمْ لَمْ تَكُنْ مِّنَ الْوٰعِظِيْنَۙ
qâlû sawâ'un ‘alainâ a wa‘adhta am lam takum minal-wâ‘idhîn
Mereka menjawab, “Sama saja bagi kami, apakah engkau memberi nasihat atau tidak memberi nasihat.
اِنْ هٰذَآ اِلَّا خُلُقُ الْاَوَّلِيْنَۙ
in hâdzâ illâ khuluqul-awwalîn
(Agama kami) ini tidak lain adalah agama orang-orang terdahulu.
وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِيْنَۚ
wa mâ naḫnu bimu‘adzdzabîn
Kami (sama sekali) tidak akan diazab.”
فَكَذَّبُوْهُ فَاَهْلَكْنٰهُمْۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةًۗ وَمَا كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
fa kadzdzabûhu fa ahlaknâhum, inna fî dzâlika la'âyah, wa mâ kâna aktsaruhum mu'minîn
Maka, mereka mendustakannya (Hud). Lalu, Kami membinasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
وَاِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُࣖ
wa inna rabbaka lahuwal-‘azîzur-raḫîm
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
كَذَّبَتْ ثَمُوْدُ الْمُرْسَلِيْنَۖ
kadzdzabat tsamûdul-mursalîn
(Kaum) Samud telah mendustakan para rasul.
اِذْ قَالَ لَهُمْ اَخُوْهُمْ صٰلِحٌ اَلَا تَتَّقُوْنَۚ
idz qâla lahum akhûhum shâliḫun alâ tattaqûn
Ketika saudara mereka, Saleh, berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?
اِنِّيْ لَكُمْ رَسُوْلٌ اَمِيْنٌۙ
innî lakum rasûlun amîn
Sesungguhnya aku adalah seorang rasul tepercaya (yang diutus) kepadamu.
فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِۚ
fattaqullâha wa athî‘ûn
Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
وَمَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍۚ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلٰى رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ
wa mâ as'alukum ‘alaihi min ajr, in ajriya illâ ‘alâ rabbil-‘âlamîn
Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain, kecuali dari Tuhan semesta alam.
اَتُتْرَكُوْنَ فِيْ مَا هٰهُنَآ اٰمِنِيْنَۙ
a tutrakûna fî mâ hâhunâ âminîn
Apakah kamu (mengira) akan dibiarkan tinggal di sini (negerimu) dengan aman?
فِيْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍۙ
fî jannâtiw wa ‘uyûn
(Yaitu,) di dalam kebun-kebun dan mata air.
وَّزُرُوْعٍ وَّنَخْلٍ طَلْعُهَا هَضِيْمٌۚ
wa zurû‘iw wa nakhlin thal‘uhâ hadlîm
Dan, tanam-tanaman serta pohon kurma yang mayangnya lembut.
وَتَنْحِتُوْنَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوْتًا فٰرِهِيْنَ
wa tan-ḫitûna minal-jibâli buyûtan fârihîn
Kamu pahat dengan terampil sebagian gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah yang mewah.
فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِۚ
fattaqullâha wa athî‘ûn
Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
وَلَا تُطِيْعُوْٓا اَمْرَ الْمُسْرِفِيْنَۙ
wa lâ tuthî‘û amral-musrifîn
Janganlah mengikuti perintah orang-orang yang melampaui batas.
الَّذِيْنَ يُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِ وَلَا يُصْلِحُوْنَ
alladzîna yufsidûna fil-ardli wa lâ yushliḫûn
(Mereka) yang berbuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.”
قَالُوْٓا اِنَّمَآ اَنْتَ مِنَ الْمُسَحَّرِيْنَۙ
qâlû innamâ anta minal-musaḫḫarîn
Mereka berkata, “Sesungguhnya engkau hanyalah termasuk orang-orang yang terkena sihir.
مَآ اَنْتَ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَاۙ فَأْتِ بِاٰيَةٍ اِنْ كُنْتَ مِنَ الصّٰدِقِيْنَ
mâ anta illâ basyarum mitslunâ fa'ti bi'âyatin ing kunta minash-shâdiqîn
Engkau tidak lain hanyalah manusia seperti kami. Maka, datangkanlah tanda (mukjizat) jika engkau termasuk orang-orang yang benar.”
قَالَ هٰذِهٖ نَاقَةٌ لَّهَا شِرْبٌ وَّلَكُمْ شِرْبُ يَوْمٍ مَّعْلُوْمٍۚ
qâla hâdzihî nâqatul lahâ syirbuw wa lakum syirbu yaumim ma‘lûm
Dia (Saleh) menjawab, “Ini seekor unta betina. Dia punya (giliran) minum dan kamu punya (giliran) minum (pula) pada hari yang ditentukan.
وَلَا تَمَسُّوْهَا بِسُوْۤءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَظِيْمٍ
wa lâ tamassûhâ bisû'in fa ya'khudzakum ‘adzâbu yaumin ‘adhîm
Janganlah menyentuhnya dengan suatu kejahatan. Nanti kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat.”
فَعَقَرُوْهَا فَاَصْبَحُوْا نٰدِمِيْنَۙ
fa ‘aqarûhâ fa ashbaḫû nâdimîn
Mereka membunuhnya, lalu mereka menjadi orang-orang yang menyesal.
فَاَخَذَهُمُ الْعَذَابُۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةًۗ وَمَا كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
fa akhadzahumul-‘adzâb, inna fî dzâlika la'âyah, wa mâ kâna aktsaruhum mu'minîn
Mereka ditimpa azab. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
وَاِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُࣖ
wa inna rabbaka lahuwal-‘azîzur-raḫîm
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوْطِ ࣙالْمُرْسَلِيْنَۖ
kadzdzabat qaumu lûthinil-mursalîn
Kaum Lut telah mendustakan para rasul.
اِذْ قَالَ لَهُمْ اَخُوْهُمْ لُوْطٌ اَلَا تَتَّقُوْنَۚ
idz qâla lahum akhûhum lûthun alâ tattaqûn
Ketika saudara mereka, Lut, berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?”
اِنِّيْ لَكُمْ رَسُوْلٌ اَمِيْنٌۙ
innî lakum rasûlun amîn
Sesungguhnya aku adalah seorang rasul tepercaya (yang diutus) kepadamu.
فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِۚ
fattaqullâha wa athî‘ûn
Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
وَمَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلٰى رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ
wa mâ as'alukum ‘alaihi min ajrin in ajriya illâ ‘alâ rabbil-‘âlamîn
Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.
اَتَأْتُوْنَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعٰلَمِيْنَۙ
a ta'tûnadz-dzukrâna minal-‘âlamîn
Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia (berbuat homoseks)?
وَتَذَرُوْنَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِّنْ اَزْوَاجِكُمْۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُوْنَ
wa tadzarûna mâ khalaqa lakum rabbukum min azwâjikum, bal antum qaumun ‘âdûn
Sementara itu, kamu tinggalkan (perempuan) yang diciptakan Tuhan untuk menjadi istri-istrimu? Kamu (memang) kaum yang melampaui batas.”
قَالُوْا لَىِٕنْ لَّمْ تَنْتَهِ يٰلُوْطُ لَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُخْرَجِيْنَ
qâlû la'il lam tantahi yâ lûthu latakûnanna minal-mukhrajîn
Mereka menjawab, “Wahai Lut, jika tidak berhenti (melarang kami), niscaya engkau benar-benar akan termasuk orang-orang yang diusir.”
قَالَ ِانِّيْ لِعَمَلِكُمْ مِّنَ الْقَالِيْنَۗ
qâla innî li‘amalikum minal-qâlîn
Dia (Lut) berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang sangat benci terhadap perbuatanmu.”
رَبِّ نَجِّنِيْ وَاَهْلِيْ مِمَّا يَعْمَلُوْنَ
rabbi najjinî wa ahlî mimmâ ya‘malûn
(Lut berdoa,) “Wahai Tuhanku, selamatkanlah aku dan keluargaku dari apa yang mereka perbuat.”
فَنَجَّيْنٰهُ وَاَهْلَهٗٓ اَجْمَعِيْنَۙ
fa najjainâhu wa ahlahû ajma‘în
Maka, Kami selamatkan dia bersama semua keluarganya,
اِلَّا عَجُوْزًا فِى الْغٰبِرِيْنَۚ
illâ ‘ajûzan fil-ghâbirîn
kecuali seorang perempuan tua (istrinya) yang termasuk golongan (orang-orang kafir) yang tertinggal.
ثُمَّ دَمَّرْنَا الْاٰخَرِيْنَۚ
tsumma dammarnal-âkharîn
Kemudian, Kami binasakan yang lain.
وَاَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَّطَرًاۚ فَسَاۤءَ مَطَرُ الْمُنْذَرِيْنَ
wa amtharnâ ‘alaihim matharâ, fa sâ'a matharul-mundzarîn
Kami hujani mereka (dengan batu). Betapa buruk hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةًۗ وَمَا كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
inna fî dzâlika la'âyah, wa mâ kâna aktsaruhum mu'minîn
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
وَاِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُࣖ
wa inna rabbaka lahuwal-‘azîzur-raḫîm
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
كَذَّبَ اَصْحٰبُ لْـَٔيْكَةِ الْمُرْسَلِيْنَۖ
kadzdzaba ash-ḫâbul-aikatil-mursalîn
Penduduk Aikah (Madyan) telah mendustakan para rasul.
اِذْ قَالَ لَهُمْ شُعَيْبٌ اَلَا تَتَّقُوْنَۚ
idz qâla lahum syu‘aibun alâ tattaqûn
Ketika Syu‘aib berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?
اِنِّيْ لَكُمْ رَسُوْلٌ اَمِيْنٌۙ
innî lakum rasûlun amîn
Sesungguhnya aku adalah seorang rasul tepercaya (yang diutus) kepadamu.
فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِۚ
fattaqullâha wa athî‘ûn
Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
وَمَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلٰى رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ
wa mâ as'alukum ‘alaihi min ajrin in ajriya illâ ‘alâ rabbil-‘âlamîn
Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain, kecuali dari Tuhan semesta alam.
۞ اَوْفُوا الْكَيْلَ وَلَا تَكُوْنُوْا مِنَ الْمُخْسِرِيْنَۚ
auful-kaila wa lâ takûnû minal-mukhsirîn
Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan orang lain.
وَزِنُوْا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيْمِۚ
wa zinû bil-qisthâsil-mustaqîm
Timbanglah dengan timbangan yang benar.
وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ اَشْيَاۤءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِى الْاَرْضِ مُفْسِدِيْنَۚ
wa lâ tabkhasun-nâsa asy-yâ'ahum wa lâ ta‘tsau fil-ardli mufsidîn
Janganlah kamu merugikan manusia dengan mengurangi hak-haknya dan janganlah membuat kerusakan di bumi.
وَاتَّقُوا الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالْجِبِلَّةَ الْاَوَّلِيْنَۗ
wattaqulladzî khalaqakum wal-jibillatal-awwalîn
Bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakanmu dan umat-umat yang terdahulu.”
قَالُوْٓا اِنَّمَآ اَنْتَ مِنَ الْمُسَحَّرِيْنَۙ
qâlû innamâ anta minal-musaḫḫarîn
Mereka berkata, “Sesungguhnya engkau hanyalah termasuk orang-orang yang terkena sihir.
وَمَآ اَنْتَ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَا وَاِنْ نَّظُنُّكَ لَمِنَ الْكٰذِبِيْنَۚ
wa mâ anta illâ basyarum mitslunâ wa in nadhunnuka laminal-kâdzibîn
Engkau tidak lain hanyalah seorang manusia seperti kami dan sesungguhnya kami yakin bahwa engkau benar-benar termasuk para pembohong.
فَاَسْقِطْ عَلَيْنَا كِسَفًا مِّنَ السَّمَاۤءِ اِنْ كُنْتَ مِنَ الصّٰدِقِيْنَۗ
fa asqith ‘alainâ kisafam minas-samâ'i ing kunta minash-shâdiqîn
Maka, jatuhkanlah kepada kami kepingan-kepingan dari langit (agar kami binasa) jika engkau termasuk orang-orang yang benar.”
قَالَ رَبِّيْٓ اَعْلَمُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
qâla rabbî a‘lamu bimâ ta‘malûn
Dia (Syu‘aib) berkata, “Tuhanku paling mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
فَكَذَّبُوْهُ فَاَخَذَهُمْ عَذَابُ يَوْمِ الظُّلَّةِۗ اِنَّهٗ كَانَ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ
fa kadzdzabûhu fa akhadzahum ‘adzâbu yaumidh-dhullah, innahû kâna ‘adzâba yaumin ‘adhîm
Lalu, mereka mendustakannya (Syu‘aib). Maka, mereka ditimpa azab pada hari yang berawan gelap. Sesungguhnya itu adalah azab hari yang dahsyat.
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةًۗ وَمَا كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
inna fî dzâlika la'âyah, wa mâ kâna aktsaruhum mu'minîn
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
وَاِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُࣖ
wa inna rabbaka lahuwal-‘azîzur-raḫîm
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
وَاِنَّهٗ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ
wa innahû latanzîlu rabbil-‘âlamîn
Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) benar-benar diturunkan Tuhan semesta alam.
نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَمِيْنُۙ
nazala bihir-rûḫul-amîn
Ia (Al-Qur’an) dibawa turun oleh Ruhulamin (Jibril).
عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَۙ
‘alâ qalbika litakûna minal-mundzirîn
(Diturunkan) ke dalam hatimu (Nabi Muhammad) agar engkau menjadi salah seorang pemberi peringatan.
بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِيْنٍۗ
bilisânin ‘arabiyyim mubîn
(Diturunkan) dengan bahasa Arab yang jelas.
وَاِنَّهٗ لَفِيْ زُبُرِ الْاَوَّلِيْنَ
wa innahû lafî zuburil-awwalîn
Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) benar-benar (disebut) dalam kitab-kitab orang terdahulu.
اَوَلَمْ يَكُنْ لَّهُمْ اٰيَةً اَنْ يَّعْلَمَهٗ عُلَمٰۤؤُا بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ
a wa lam yakul lahum âyatan ay ya‘lamahû ‘ulamâ'u banî isrâ'îl
Apakah tidak (cukup) menjadi bukti bagi mereka bahwa ia (Al-Qur’an) diketahui oleh para ulama Bani Israil?
وَلَوْ نَزَّلْنٰهُ عَلٰى بَعْضِ الْاَعْجَمِيْنَۙ
walau nazzalnâhu ‘alâ ba‘dlil-a‘jamîn
Seandainya Kami menurunkannya kepada sebagian dari golongan non-Arab.
فَقَرَاَهٗ عَلَيْهِمْ مَّا كَانُوْا بِهٖ مُؤْمِنِيْنَۗ
faqara'ahû ‘alaihim mâ kânû bihî mu'minîn
Lalu, dia membacakannya kepada mereka (orang-orang kafir), niscaya mereka tidak juga akan beriman kepadanya.
كَذٰلِكَ سَلَكْنٰهُ فِيْ قُلُوْبِ الْمُجْرِمِيْنَۗ
kadzâlika salaknâhu fî qulûbil-mujrimîn
Demikianlah, Kami masukkan (sifat dusta dan ingkar) ke dalam hati para pendurhaka.
لَا يُؤْمِنُوْنَ بِهٖ حَتّٰى يَرَوُا الْعَذَابَ الْاَلِيْمَ
lâ yu'minûna bihî ḫattâ yarawul-‘adzâbal-alîm
Mereka tidak akan beriman kepadanya hingga melihat azab yang pedih.
فَيَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَۙ
fa ya'tiyahum baghtataw wa hum lâ yasy‘urûn
Maka, datanglah ia (azab) kepada mereka secara tiba-tiba, sedangkan mereka tidak menyadarinya.
فَيَقُوْلُوْا هَلْ نَحْنُ مُنْظَرُوْنَۗ
fa yaqûlû hal naḫnu mundharûn
Lalu, mereka berkata, “Apakah kami diberi penangguhan waktu?”
اَفَبِعَذَابِنَا يَسْتَعْجِلُوْنَ
a fa bi‘adzâbinâ yasta‘jilûn
Bukankah mereka yang meminta agar azab Kami disegerakan?
اَفَرَءَيْتَ اِنْ مَّتَّعْنٰهُمْ سِنِيْنَۙ
a fa ra'aita im matta‘nâhum sinîn
Bagaimana pendapatmu jika kepada mereka Kami berikan kenikmatan hidup beberapa tahun?
ثُمَّ جَاۤءَهُمْ مَّا كَانُوْا يُوْعَدُوْنَۙ
tsumma jâ'ahum mâ kânû yû‘adûn
Kemudian, ia (azab) yang diancamkan datang kepada mereka.
مَآ اَغْنٰى عَنْهُمْ مَّا كَانُوْا يُمَتَّعُوْنَۗ
mâ aghnâ ‘an-hum mâ kânû yumatta‘ûn
Niscaya kenikmatan yang mereka rasakan tidak berguna baginya.
وَمَآ اَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ اِلَّا لَهَا مُنْذِرُوْنَۖ
wa mâ ahlaknâ ming qaryatin illâ lahâ mundzirûn
Kami tidak membinasakan suatu negeri, kecuali setelah ada pemberi peringatan kepadanya.
ذِكْرٰىۚ وَمَا كُنَّا ظٰلِمِيْنَ
dzikrâ, wa mâ kunnâ dhâlimîn
(Hal itu) sebagai peringatan. Kami sekali-kali bukanlah orang-orang zalim.
وَمَا تَنَزَّلَتْ بِهِ الشَّيٰطِيْنُ
wa mâ tanazzalat bihisy-syayâthîn
(Al-Qur’an) itu tidaklah dibawa turun oleh setan-setan.
وَمَا يَنْۢبَغِيْ لَهُمْ وَمَا يَسْتَطِيْعُوْنَۗ
wa mâ yambaghî lahum wa mâ yastathî‘ûn
Tidaklah pantas bagi mereka (membawa turun Al-Qur’an itu) dan mereka pun tidak akan sanggup.
اِنَّهُمْ عَنِ السَّمْعِ لَمَعْزُوْلُوْنَۗ
innahum ‘anis-sam‘i lama‘zûlûn
Sesungguhnya mereka (setan-setan) benar-benar dijauhkan (dari berita langit).
فَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ فَتَكُوْنَ مِنَ الْمُعَذَّبِيْنَ
fa lâ tad‘u ma‘allâhi ilâhan âkhara fa takûna minal-mu‘adzdzabîn
Maka, janganlah engkau (Nabi Muhammad) menyembah Tuhan lain bersama Allah. Nanti kamu termasuk orang-orang yang diazab.
وَاَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْاَقْرَبِيْنَۙ
wa andzir ‘asyîratakal-aqrabîn
Berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat.
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَۚ
wakhfidl janâḫaka limanittaba‘aka minal-mu'minîn
Rendahkanlah hatimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang mukmin.
فَاِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تَعْمَلُوْنَۚ
fa in ‘ashauka fa qul innî barî'um mimmâ ta‘malûn
Jika mereka mendurhakaimu, katakanlah, “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.”
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيْزِ الرَّحِيْمِۙ
wa tawakkal ‘alal-‘azîzir-raḫîm
Bertawakallah kepada (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
الَّذِيْ يَرٰىكَ حِيْنَ تَقُوْمُ
alladzî yarâka ḫîna taqûm
(Dia) yang melihat ketika engkau berdiri (untuk salat).
وَتَقَلُّبَكَ فِى السّٰجِدِيْنَ
wa taqallubaka fis-sâjidîn
Dan, (melihat) perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud.
اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
innahû huwas-samî‘ul-‘alîm
Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
هَلْ اُنَبِّئُكُمْ عَلٰى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيٰطِيْنُۗ
hal unabbi'ukum ‘alâ man tanazzalusy-syayâthîn
Maukah Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun?
تَنَزَّلُ عَلٰى كُلِّ اَفَّاكٍ اَثِيْمٍۙ
tanazzalu ‘alâ kulli affâkin atsîm
Mereka (setan) turun kepada setiap pendusta lagi banyak berdosa.
يُّلْقُوْنَ السَّمْعَ وَاَكْثَرُهُمْ كٰذِبُوْنَۗ
yulqûnas-sam‘a wa aktsaruhum kâdzibûn
Mereka menyampaikan hasil pendengarannya, sedangkan kebanyakan mereka adalah para pendusta.
وَالشُّعَرَاۤءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوٗنَۗ
wasy-syu‘arâ'u yattabi‘uhumul-ghâwûn
Para penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.
اَلَمْ تَرَ اَنَّهُمْ فِيْ كُلِّ وَادٍ يَّهِيْمُوْنَۙ
a lam tara annahum fî kulli wâdiy yahîmûn
Tidakkah engkau melihat bahwa mereka merambah setiap lembah kepalsuan
وَاَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ مَا لَا يَفْعَلُوْنَۙ
wa annahum yaqûlûna mâ lâ yaf‘alûn
dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(-nya)?
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَذَكَرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّانْتَصَرُوْا مِنْۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوْاۗ وَسَيَعْلَمُ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اَيَّ مُنْقَلَبٍ يَّنْقَلِبُوْنَࣖ
illalladzîna âmanû wa ‘amilush-shâliḫâti wa dzakarullâha katsîraw wantasharû mim ba‘di mâ dhulimû, wa saya‘lamulladzîna dhalamû ayya mungqalabiy yangqalibûn
Kecuali (para penyair) yang beriman, beramal saleh, banyak mengingat Allah, dan bangkit membela (kebenaran) setelah terzalimi. Orang-orang yang zalim kelak akan mengetahui ke mana mereka akan kembali.
Anda baru saja membaca Surat Asy-Syu'ara'.
Kami baru saja menghapus semua iklan dari situs ini.
Donasi Anda yang menjaga Litequran.net tetap bebas iklan — untuk Anda dan ratusan ribu pembaca lainnya.
Asy-Syu'ara mengisahkan tujuh nabi—Musa, Ibrahim, Nuh, Hud, Saleh, Luth, dan Syu'aib—yang semuanya didustakan oleh kaumnya, namun diselamatkan Allah. Surat ini diakhiri dengan menegaskan perbedaan antara Al-Quran yang dibawa malaikat Jibril dengan syair para penyair yang menyesatkan. Surat Asy-Syu'ara' terdiri dari 227 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah (diturunkan di Mekkah).
Surat Asy-Syu'ara' terdiri dari 227 ayat dan terdapat pada juz 19 dalam Al-Quran. Estimasi waktu membaca dengan tartil beserta terjemahannya sekitar 45 menit (disarankan dibaca bertahap).
Nama "Asy-Syu'ara'" (الشعراء) berarti "Penyair" dalam bahasa Indonesia. Penamaan ini merujuk pada tema atau kisah utama yang dibahas dalam surat. Surat ini merupakan surat ke-26 dalam urutan mushaf Al-Quran.
Surat Asy-Syu'ara' termasuk golongan surat Makkiyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekkah. Surat Makkiyah umumnya membahas tema keimanan, tauhid, hari akhir, dan kisah para nabi sebagai penguatan akidah umat Islam di masa awal dakwah.
Surat Asy-Syu'ara' dapat dibaca kapan saja, terutama saat berdzikir dan bermunajat kepada Allah. Sebagai surat Makkiyah yang berisi penguatan iman dan tauhid, membacanya di waktu tenang seperti sepertiga malam terakhir atau setelah shalat Subuh sangat dianjurkan.
Surat Asy-Syu'ara' memuat kisah tujuh nabi secara berurutan dengan pola yang sama, menunjukkan sunnatullah dalam dakwah para rasul. Mengandung doa-doa Nabi Ibrahim yang sangat indah dan komprehensif (ayat 78-89) yang sering dijadikan doa harian umat Islam. Menegaskan bahwa Al-Quran adalah wahyu Allah, bukan syair buatan manusia, membantah tuduhan kaum Quraisy terhadap Nabi ﷺ. Setiap kisah nabi dalam surat ini ditutup dengan kalimat 'Inna fi dzalika la-ayah, wa ma kana aktsaruhum mu'minin' (Sesungguhnya pada yang demikian terdapat tanda, tetapi kebanyakan mereka tidak beriman).