اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ
al-hâkumut-takâtsur
Berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu
Baca Surat At-Takasur (Bermegah-megahan — التكاثر) lengkap dengan teks Latin, Arab, dan terjemahan bahasa Indonesia. Berikut adalah 8 ayat Makkiyah (Juz 30) — surat ke-102 dalam Al-Quran yang bisa Anda akses dengan cepat, ringan, dan tanpa iklan. At-Takasur mengecam manusia yang terlena oleh perlombaan memperbanyak harta dan keturunan hingga melalaikan akhirat, bahkan sampai mengunjungi kuburan untuk membanggakan leluhur. Surat ini memperingatkan bahwa mereka kelak akan diperlihatkan neraka Jahim, lalu pada hari kiamat akan ditanya tentang kenikmatan yang telah mereka nikmati di dunia..
Surat At-Takatsur adalah surat Makkiyah yang turun sebagai teguran terhadap kebiasaan kaum Quraisy yang saling bermegah-megahan tentang banyaknya harta, anak, dan pengikut. Diriwayatkan bahwa dua kabilah dari kaum Anshar juga pernah saling membanggakan jumlah anggota mereka, baik yang hidup maupun yang sudah meninggal, sehingga turunlah surat ini sebagai peringatan.
Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Tafsir Ath-Thabari
اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ
al-hâkumut-takâtsur
Berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu
حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَۗ
ḫattâ zurtumul-maqâbir
sampai kamu masuk ke dalam kubur.
كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَۙ
kallâ saufa ta‘lamûn
Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu).
ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ
tsumma kallâ saufa ta‘lamûn
Sekali-kali tidak (jangan melakukan itu)! Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya).
كَلَّا لَوْ تَعْلَمُوْنَ عِلْمَ الْيَقِيْنِۗ
kallâ lau ta‘lamûna ‘ilmal-yaqîn
Sekali-kali tidak (jangan melakukan itu)! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti, (niscaya kamu tidak akan melakukannya).
لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَۙ
latarawunnal-jaḫîm
Pasti kamu benar-benar akan melihat (neraka) Jahim.
ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِيْنِۙ
tsumma latarawunnahâ ‘ainal-yaqîn
Kemudian, kamu pasti benar-benar akan melihatnya dengan ainulyakin.
ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَىِٕذٍ عَنِ النَّعِيْمِࣖ
tsumma latus'alunna yauma'idzin ‘anin-na‘îm
Kemudian, kamu pasti benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).
Anda baru saja membaca Surat At-Takasur.
Kami baru saja menghapus semua iklan dari situs ini.
Donasi Anda yang menjaga Litequran.net tetap bebas iklan — untuk Anda dan ratusan ribu pembaca lainnya.
At-Takasur mengecam manusia yang terlena oleh perlombaan memperbanyak harta dan keturunan hingga melalaikan akhirat, bahkan sampai mengunjungi kuburan untuk membanggakan leluhur. Surat ini memperingatkan bahwa mereka kelak akan diperlihatkan neraka Jahim, lalu pada hari kiamat akan ditanya tentang kenikmatan yang telah mereka nikmati di dunia. Surat At-Takasur terdiri dari 8 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah (diturunkan di Mekkah).
Surat At-Takasur terdiri dari 8 ayat dan terdapat pada juz 30 dalam Al-Quran. Estimasi waktu membaca dengan tartil beserta terjemahannya sekitar 2 menit.
Nama "At-Takasur" (التكاثر) berarti "Bermegah-megahan" dalam bahasa Indonesia. Penamaan ini merujuk pada tema atau kisah utama yang dibahas dalam surat. Surat ini merupakan surat ke-102 dalam urutan mushaf Al-Quran.
Surat At-Takasur termasuk golongan surat Makkiyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekkah. Surat Makkiyah umumnya membahas tema keimanan, tauhid, hari akhir, dan kisah para nabi sebagai penguatan akidah umat Islam di masa awal dakwah.
Surat At-Takasur dapat dibaca kapan saja, terutama saat berdzikir dan bermunajat kepada Allah. Sebagai surat Makkiyah yang berisi penguatan iman dan tauhid, membacanya di waktu tenang seperti sepertiga malam terakhir atau setelah shalat Subuh sangat dianjurkan.
Nabi ﷺ bersabda: "Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia menginginkan dua lembah. Dan tidak ada yang memenuhi mulutnya kecuali tanah." (HR. Bukhari & Muslim) — surat ini menegaskan peringatan tersebut. Surat At-Takatsur menjadi pengingat penting tentang bahaya cinta dunia yang berlebihan dan melalaikan akhirat. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menafsirkan bahwa kenikmatan yang ditanyakan pada ayat terakhir mencakup kesehatan, keamanan, dan makanan-minuman.