Surat At Takwir

Penggulungan • Makkiyah • 29 ayat

Tentang Surat At-Takwir

Baca Surat At-Takwir (Menggulung — التكوير) lengkap dengan teks Latin, Arab, dan terjemahan bahasa Indonesia. Berikut adalah 29 ayat Makkiyah (Juz 30) — surat ke-81 dalam Al-Quran yang bisa Anda akses dengan cepat, ringan, dan tanpa iklan. At-Takwir menggambarkan dua belas tanda kiamat secara berturut-turut: matahari digulung, bintang berjatuhan, gunung dihancurkan, lautan diluapkan, hingga setiap jiwa mengetahui apa yang telah diperbuatnya. Surat ini juga menegaskan bahwa Al-Quran bukan perkataan setan yang terkutuk, melainkan wahyu yang dibawa malaikat Jibril yang mulia..

Tema Utama

  • Dua belas tanda dahsyat Hari Kiamat secara beruntun
  • Pertanggungjawaban atas pembunuhan bayi perempuan (wa'd)
  • Penegasan bahwa Al-Quran dibawa oleh Jibril yang mulia, bukan setan
  • Al-Quran sebagai peringatan bagi seluruh alam semesta

Kandungan Surat

Ayat 1-14Dua belas tanda kiamat — matahari digulung, bintang-bintang berjatuhan, gunung-gunung dihancurkan, unta-unta hamil ditinggalkan, binatang liar dikumpulkan, lautan meluap, jiwa-jiwa dipasangkan, bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya karena dosa apa ia dibunuh, lembaran-lembaran amal dibuka, langit dilenyapkan, neraka dinyalakan, dan surga didekatkan.
Ayat 15-21Kebenaran Al-Quran — sumpah demi bintang-bintang yang beredar dan terbenam, demi malam yang berlalu dan subuh yang menyingsing, bahwa Al-Quran benar-benar dibawa oleh utusan yang mulia (Jibril), yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi Allah, ditaati di langit dan terpercaya.
Ayat 22-29Pembelaan terhadap Nabi ﷺ — Muhammad ﷺ bukanlah orang gila, ia telah melihat Jibril di ufuk yang terang. Al-Quran bukan perkataan setan yang terkutuk, melainkan peringatan bagi seluruh alam. Namun manusia tidak bisa menghendaki kecuali atas kehendak Allah.

Keutamaan

  • Nabi ﷺ bersabda: "Barang siapa ingin melihat Hari Kiamat seakan-akan dengan mata kepalanya, hendaklah ia membaca 'Idzasy syamsu kuwwirat' (At-Takwir), 'Idzas samaa'unfatharat' (Al-Infithar), dan 'Idzas samaa'unshaqqat' (Al-Insyiqaq)." (HR. At-Tirmidzi & Ahmad)
  • Surat ini memuat penolakan tegas terhadap tradisi jahiliah mengubur bayi perempuan hidup-hidup, menegaskan hak hidup setiap manusia.
  • Dua belas tanda kiamat yang berturut-turut dalam surat ini menjadikannya salah satu gambaran kiamat paling dramatis dalam Al-Quran.

Asbab Nuzul

Surat At-Takwir adalah surat Makkiyah yang turun pada periode awal dakwah di Mekkah. Surat ini turun untuk menggambarkan kedahsyatan Hari Kiamat kepada kaum Quraisy yang mengingkarinya, sekaligus membantah tuduhan mereka bahwa Al-Quran berasal dari setan atau bahwa Nabi ﷺ adalah orang gila. Surat ini juga mengecam tradisi mengubur bayi perempuan hidup-hidup yang menjadi kebiasaan di masa jahiliah.

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, Sunan At-Tirmidzi, Musnad Ahmad

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
1

اِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْۖ

idzasy-syamsu kuwwirat

Apabila matahari digulung,

2

وَاِذَا النُّجُوْمُ انْكَدَرَتْۖ

wa idzan-nujûmungkadarat

apabila bintang-bintang berjatuhan,

3

وَاِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْۖ

wa idzal-jibâlu suyyirat

apabila gunung-gunung dihancurkan,

4

وَاِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْۖ

wa idzal-‘isyâru ‘uththilat

apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak terurus),

5

وَاِذَا الْوُحُوْشُ حُشِرَتْۖ

wa idzal-wuḫûsyu ḫusyirat

apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,

6

وَاِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْۖ

wa idzal-biḫâru sujjirat

apabila lautan dipanaskan,

7

وَاِذَا النُّفُوْسُ زُوِّجَتْۖ

wa idzan-nufûsu zuwwijat

apabila roh-roh dipertemukan (dengan tubuh),

8

وَاِذَا الْمَوْءٗدَةُ سُىِٕلَتْۖ

wa idzal-mau'ûdatu su'ilat

apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya,

9

بِاَيِّ ذَنْۢبٍ قُتِلَتْۚ

bi'ayyi dzambing qutilat

“Karena dosa apa dia dibunuh,”

10

وَاِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْۖ

wa idzash-shuḫufu nusyirat

apabila lembaran-lembaran (catatan amal) telah dibuka lebar-lebar,

11

وَاِذَا السَّمَاۤءُ كُشِطَتْۖ

wa idzas-samâ'u kusyithat

apabila langit dilenyapkan,

12

وَاِذَا الْجَحِيْمُ سُعِّرَتْۖ

wa idzal-jaḫîmu su‘‘irat

apabila (neraka) Jahim dinyalakan,

13

وَاِذَا الْجَنَّةُ اُزْلِفَتْۖ

wa idzal-jannatu uzlifat

dan apabila surga didekatkan,

14

عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ اَحْضَرَتْۗ

‘alimat nafsum mâ aḫdlarat

setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.

15

فَلَآ اُقْسِمُ بِالْخُنَّسِۙ

fa lâ uqsimu bil-khunnas

Aku bersumpah demi bintang-bintang

16

الْجَوَارِ الْكُنَّسِۙ

al-jawâril-kunnas

yang beredar lagi terbenam,

17

وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَۙ

wal-laili idzâ ‘as‘as

demi malam apabila telah larut,

18

وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ

wash-shub-ḫi idzâ tanaffas

demi subuh apabila (fajar) telah menyingsing,

19

اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ

innahû laqaulu rasûling karîm

sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril)

20

ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ

dzî quwwatin ‘inda dzil-‘arsyi makîn

yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ʻArasy,

21

مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ

muthâ‘in tsamma amîn

yang di sana (Jibril) ditaati lagi dipercaya.

22

وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ

wa mâ shâḫibukum bimajnûn

Temanmu (Nabi Muhammad) itu bukanlah orang gila.

23

وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِۚ

wa laqad ra'âhu bil-ufuqil-mubîn

Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang.

24

وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍۚ

wa mâ huwa ‘alal-ghaibi bidlanîn

Dia (Nabi Muhammad) bukanlah seorang yang kikir (enggan) untuk menerangkan yang gaib.

25

وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍۚ

wa mâ huwa biqauli syaithânir rajîm

(Al-Qur’an) itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk.

26

فَاَيْنَ تَذْهَبُوْنَۗ

fa aina tadz-habûn

Maka, ke manakah kamu akan pergi?

27

اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙ

in huwa illâ dzikrul lil-‘âlamîn

(Al-Qur’an) itu tidak lain, kecuali peringatan bagi semesta alam,

28

لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ

liman syâ'a mingkum ay yastaqîm

(yaitu) bagi siapa di antaramu yang hendak menempuh jalan yang lurus.

29

وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَࣖ

wa mâ tasyâ'ûna illâ ay yasyâ'allâhu rabbul-‘âlamîn

Kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.

Anda baru saja membaca Surat At-Takwir.
Kami baru saja menghapus semua iklan dari situs ini.
Donasi Anda yang menjaga Litequran.net tetap bebas iklan — untuk Anda dan ratusan ribu pembaca lainnya.

Donasi Sekarang

Pertanyaan Umum tentang Surat At-Takwir

Apa isi kandungan Surat At-Takwir?

At-Takwir menggambarkan dua belas tanda kiamat secara berturut-turut: matahari digulung, bintang berjatuhan, gunung dihancurkan, lautan diluapkan, hingga setiap jiwa mengetahui apa yang telah diperbuatnya. Surat ini juga menegaskan bahwa Al-Quran bukan perkataan setan yang terkutuk, melainkan wahyu yang dibawa malaikat Jibril yang mulia. Surat At-Takwir terdiri dari 29 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah (diturunkan di Mekkah).

Berapa jumlah ayat Surat At-Takwir?

Surat At-Takwir terdiri dari 29 ayat dan terdapat pada juz 30 dalam Al-Quran. Estimasi waktu membaca dengan tartil beserta terjemahannya sekitar 6 menit.

Mengapa surat ini dinamakan At-Takwir (Menggulung)?

Nama "At-Takwir" (التكوير) berarti "Menggulung" dalam bahasa Indonesia. Penamaan ini merujuk pada tema atau kisah utama yang dibahas dalam surat. Surat ini merupakan surat ke-81 dalam urutan mushaf Al-Quran.

Apakah Surat At-Takwir Makkiyah atau Madaniyah?

Surat At-Takwir termasuk golongan surat Makkiyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekkah. Surat Makkiyah umumnya membahas tema keimanan, tauhid, hari akhir, dan kisah para nabi sebagai penguatan akidah umat Islam di masa awal dakwah.

Kapan waktu terbaik membaca Surat At-Takwir?

Surat At-Takwir dapat dibaca kapan saja, terutama saat berdzikir dan bermunajat kepada Allah. Sebagai surat Makkiyah yang berisi penguatan iman dan tauhid, membacanya di waktu tenang seperti sepertiga malam terakhir atau setelah shalat Subuh sangat dianjurkan.

Apa keutamaan membaca Surat At-Takwir?

Nabi ﷺ bersabda: "Barang siapa ingin melihat Hari Kiamat seakan-akan dengan mata kepalanya, hendaklah ia membaca 'Idzasy syamsu kuwwirat' (At-Takwir), 'Idzas samaa'unfatharat' (Al-Infithar), dan 'Idzas samaa'unshaqqat' (Al-Insyiqaq)." (HR. At-Tirmidzi & Ahmad) Surat ini memuat penolakan tegas terhadap tradisi jahiliah mengubur bayi perempuan hidup-hidup, menegaskan hak hidup setiap manusia. Dua belas tanda kiamat yang berturut-turut dalam surat ini menjadikannya salah satu gambaran kiamat paling dramatis dalam Al-Quran.