اِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْۖ
Iżasy-syamsu kuwwirat.
Apabila matahari digulung,
Menggulung•Makkiyah•29 ayat•Juz 30
At-Takwir menggambarkan dua belas tanda kiamat secara berturut-turut: matahari digulung, bintang berjatuhan, gunung dihancurkan, lautan diluapkan, hingga setiap jiwa mengetahui apa yang telah diperbuatnya. Surat ini juga menegaskan bahwa Al-Quran bukan perkataan setan yang terkutuk, melainkan wahyu yang dibawa malaikat Jibril yang mulia.
Surat ke-81 ini terdiri dari 29 ayat dan termasuk surat Makkiyah, diturunkan setelah Surat Al-Lahab. Namanya berarti menggulung, dari kata kuwwirat (digulung) pada ayat pertama: ketika matahari digulung.
At-Takwir dan Al-Infitar sama-sama dibuka dengan peristiwa dahsyat hari kiamat. At-Takwir menyatakan setiap jiwa akan mengetahui amalnya, lalu Al-Infitar menegaskannya kembali dan menambahkan bahwa pada hari itu manusia tidak dapat saling menolong.
Diringkas dari Mukadimah Al-Qur'an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْۖ
Iżasy-syamsu kuwwirat.
Apabila matahari digulung,
وَاِذَا النُّجُوْمُ انْكَدَرَتْۖ
Wa iżan-nujūmunkadarat.
apabila bintang-bintang berjatuhan,
وَاِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْۖ
Wa iżal-jibālu suyyirat.
apabila gunung-gunung dihancurkan,
وَاِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْۖ
Wa iżal-‘isyāru ‘uṭṭilat.
apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak terurus),
وَاِذَا الْوُحُوْشُ حُشِرَتْۖ
Wa iżal-wuḥūsyu ḥusyirat.
apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,
وَاِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْۖ
Wa iżal-biḥāru sujjirat.
apabila lautan dipanaskan,
وَاِذَا النُّفُوْسُ زُوِّجَتْۖ
Wa iżan-nufūsu zuwwijat.
apabila roh-roh dipertemukan (dengan tubuh),
وَاِذَا الْمَوْءٗدَةُ سُىِٕلَتْۖ
Wa iżal-mau'ūdatu su'ilat.
apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya,
بِاَيِّ ذَنْۢبٍ قُتِلَتْۚ
Bi'ayyi żambin qutilat.
“Karena dosa apa dia dibunuh,”
وَاِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْۖ
Wa iżaṣ-ṣuḥufu nusyirat.
apabila lembaran-lembaran (catatan amal) telah dibuka lebar-lebar,
وَاِذَا السَّمَاۤءُ كُشِطَتْۖ
Wa iżas-samā'u kusyiṭat.
apabila langit dilenyapkan,
وَاِذَا الْجَحِيْمُ سُعِّرَتْۖ
Wa iżal-jaḥīmu su‘‘irat.
apabila (neraka) Jahim dinyalakan,
وَاِذَا الْجَنَّةُ اُزْلِفَتْۖ
Wa iżal-jannatu uzlifat.
dan apabila surga didekatkan,
عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ اَحْضَرَتْۗ
‘Alimat nafsum mā aḥḍarat.
setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.
فَلَآ اُقْسِمُ بِالْخُنَّسِۙ
Falā uqsimu bil-khunnas(i).
Aku bersumpah demi bintang-bintang
الْجَوَارِ الْكُنَّسِۙ
Al-jawāril-kunnas(i).
yang beredar lagi terbenam,
وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَۙ
Wal-laili iżā ‘as‘as(a).
demi malam apabila telah larut,
وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ
Waṣ-ṣubḥi iżā tanaffas(a).
demi subuh apabila (fajar) telah menyingsing,
اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ
Innahū laqaulu rasūlin karīm(in).
sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril)
ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ
Żī quwwatin ‘inda żil-‘arsyi makīn(in).
yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ‘Arasy,
مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ
Muṭā‘in ṡamma amīn(in).
yang di sana (Jibril) ditaati lagi dipercaya.
وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ
Wa mā ṣāḥibukum bimajnūn(in).
Temanmu (Nabi Muhammad) itu bukanlah orang gila.
وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِۚ
Wa laqad ra'āhu bil-ufuqil-mubīn(i).
Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang.
وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍۚ
Wa mā huwa ‘alal-gaibi biḍanīn(in).
Dia (Nabi Muhammad) bukanlah seorang yang kikir (enggan) untuk menerangkan yang gaib.
وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍۚ
Wa mā huwa biqauli syaiṭānir rajīm(in).
(Al-Qur’an) itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk.
فَاَيْنَ تَذْهَبُوْنَۗ
Fa aina tażhabūn(a).
Maka, ke manakah kamu akan pergi?747
747) Setelah diterangkan bahwa Al-Qur’an itu benar-benar datang dari Allah dan di dalamnya ada pelajaran dan petunjuk yang memimpin manusia ke jalan yang lurus, ditanyakanlah kepada orang-orang kafir itu, “Jalan manakah yang akan kamu tempuh?”
اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙ
In huwa illā żikrul lil-‘ālamīn(a).
(Al-Qur’an) itu tidak lain, kecuali peringatan bagi semesta alam,
لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ
Liman syā'a minkum ay yastaqīm(a).
(yaitu) bagi siapa di antaramu yang hendak menempuh jalan yang lurus.
وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ
Wa mā tasyā'ūna illā ay yasyā'allāhu rabbul-‘ālamīn(a).
Kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.
Teks Arab, Latin, terjemahan, dan tafsir bersumber dari Kementerian Agama RI, dengan transliterasi mengikuti SKB Menteri Agama dan Menteri P dan K 1987 serta ejaan KBBI.