Surat Al Ma'arij

Tempat Naik • Makkiyah • 44 ayat

Tentang Surat Al-Ma'arij

Baca Surat Al-Ma'arij (Tempat Naik — المعارج) lengkap dengan teks Latin, Arab, dan terjemahan bahasa Indonesia. Berikut adalah 44 ayat Makkiyah (Juz 29) — surat ke-70 dalam Al-Quran yang bisa Anda akses dengan cepat, ringan, dan tanpa iklan. Al-Ma'arij menggambarkan tangga-tangga menuju surga yang hanya bisa didaki oleh malaikat dan ruh dalam waktu setara lima puluh ribu tahun, sebagai gambaran keagungan hari kiamat. Surat ini juga memaparkan sifat-sifat negatif manusia yang keluh kesah saat ditimpa kesusahan dan kikir saat mendapat kebaikan, kecuali mereka yang shalat dan menunaikan zakat..

Tema Utama

  • Pertanyaan orang kafir tentang azab yang pasti datang
  • Tangga-tangga naik (Al-Ma'arij) menuju Allah bagi malaikat dan Jibril
  • Sifat dasar manusia yang keluh kesah dan kikir
  • Sifat-sifat orang beriman yang terpuji sebagai pengecualian

Kandungan Surat

Ayat 1-7Permintaan azab — seorang penanya meminta agar azab segera ditimpakan. Allah menegaskan bahwa azab itu pasti datang bagi orang-orang kafir dan tidak ada yang dapat menahannya. Allah disebut sebagai Dzul Ma'arij (Pemilik tangga-tangga naik).
Ayat 8-18Gambaran Hari Kiamat — langit menjadi seperti cairan logam, gunung-gunung seperti bulu yang berterbangan, dan setiap orang hanya memikirkan diri sendiri tanpa peduli keluarga.
Ayat 19-21Sifat dasar manusia — manusia diciptakan bersifat keluh kesah (halu'an); apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir.
Ayat 22-35Pengecualian orang beriman — mereka yang tekun dalam shalat, menyisihkan harta untuk yang meminta dan yang tidak mampu, membenarkan Hari Pembalasan, menjaga kemaluan, menunaikan amanah, dan memberikan kesaksian dengan benar.
Ayat 36-44Teguran kepada orang kafir — kecaman terhadap orang-orang yang berlari ke kanan dan ke kiri (menghindari kebenaran) dan berharap masuk surga tanpa beriman, serta peringatan tentang hari yang dijanjikan.

Keutamaan

  • Surat ini memuat penjelasan penting tentang sifat dasar manusia (halu'an — keluh kesah) yang hanya bisa diatasi dengan iman dan amal shalih.
  • Ayat 19-21 menjadi rujukan utama ulama dalam membahas fitrah manusia dan urgensi pendidikan jiwa (tazkiyatun nafs).
  • Surat ini menyebutkan sifat-sifat mukmin sejati secara rinci yang menjadi panduan akhlak bagi setiap Muslim.

Asbab Nuzul

Surat Al-Ma'arij adalah surat Makkiyah. Menurut sebagian mufassir, ayat pertama turun berkaitan dengan permintaan An-Nadhr bin Al-Harits (atau Abu Jahl) yang menantang agar azab segera diturunkan kepada mereka jika Al-Quran benar dari Allah. Surat ini turun untuk menjawab tantangan tersebut sekaligus menjelaskan sifat-sifat manusia dan keutamaan orang beriman.

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qurthubi, Asbabun Nuzul, Al-Wahidi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
1

سَاَلَ سَاۤىِٕلٌۢ بِعَذَابٍ وَّاقِعٍۙ

sa'ala sâ'ilum bi‘adzâbiw wâqi‘

Seseorang (dengan nada mengejek) meminta (didatangkan) azab yang pasti akan terjadi

2

لِّلْكٰفِرِيْنَ لَيْسَ لَهٗ دَافِعٌۙ

lil-kâfirîna laisa lahû dâfi‘

bagi orang-orang kafir. Tidak seorang pun yang dapat menolaknya (azab)

3

مِّنَ اللّٰهِ ذِى الْمَعَارِجِۗ

minallâhi dzil-ma‘ârij

dari Allah, Pemilik tempat-tempat (untuk) naik.

4

تَعْرُجُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗ خَمْسِيْنَ اَلْفَ سَنَةٍۚ

ta‘rujul-malâ'ikatu war-rûḫu ilaihi fî yauming kâna miqdâruhû khamsîna alfa sanah

Para malaikat dan Rūḥ (Jibril) naik (menghadap) kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.

5

فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيْلًا

fashbir shabran jamîlâ

Maka, bersabarlah dengan kesabaran yang baik.

6

اِنَّهُمْ يَرَوْنَهٗ بَعِيْدًاۙ

innahum yaraunahû ba‘îdâ

Sesungguhnya mereka memandangnya (siksaan itu) jauh (mustahil terjadi),

7

وَّنَرٰىهُ قَرِيْبًاۗ

wa narâhu qarîbâ

sedangkan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi).

8

يَوْمَ تَكُوْنُ السَّمَاۤءُ كَالْمُهْلِۙ

yauma takûnus-samâ'u kal-muhl

(Siksaan itu datang) pada hari (ketika) langit menjadi seperti luluhan perak,

9

وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِۙ

wa takûnul-jibâlu kal-‘ihn

gunung-gunung menjadi seperti bulu (yang beterbangan),

10

وَلَا يَسْـَٔلُ حَمِيْمٌ حَمِيْمًاۚ

wa lâ yas'alu ḫamîmun ḫamîmâ

dan tidak ada seorang pun teman setia yang menanyakan temannya,

11

يُبَصَّرُوْنَهُمْۗ يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِيْ مِنْ عَذَابِ يَوْمِىِٕذٍ ۢ بِبَنِيْهِۙ

yubashsharûnahum, yawaddul-mujrimu lau yaftadî min ‘adzâbi yaumi'idzim bibanîh

(padahal) mereka saling melihat. Orang yang berbuat durhaka itu menginginkan sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya,

12

وَصَاحِبَتِهٖ وَاَخِيْهِۙ

wa shâḫibatihî wa akhîh

istrinya, saudaranya,

13

وَفَصِيْلَتِهِ الَّتِيْ تُـــْٔـوِيْهِۙ

wa fashîlatihillatî tu'wîh

keluarga yang melindunginya (di dunia),

14

وَمَنْ فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًاۙ ثُمَّ يُنْجِيْهِۙ

wa man fil-ardli jamî‘an tsumma yunjîh

dan seluruh orang di bumi. Kemudian, (dia mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya.

15

كَلَّاۗ اِنَّهَا لَظٰىۙ

kallâ, innahâ ladhâ

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya ia (neraka) itu adalah api yang bergejolak

16

نَزَّاعَةً لِّلشَّوٰىۚ

nazzâ‘atal lisy-syawâ

yang mengelupaskan kulit kepala,

17

تَدْعُوْا مَنْ اَدْبَرَ وَتَوَلّٰىۙ

tad‘û man adbara wa tawallâ

yang memanggil orang yang berpaling dan menjauh (dari agama),

18

وَجَمَعَ فَاَوْعٰى

wa jama‘a fa au‘â

serta mengumpulkan (harta benda), lalu menyimpannya.

19

۞ اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ

innal-insâna khuliqa halû‘â

Sesungguhnya manusia diciptakan dengan sifat keluh kesah lagi kikir.

20

اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًاۙ

idzâ massahusy-syarru jazû‘â

Apabila ditimpa keburukan (kesusahan), ia berkeluh kesah.

21

وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًاۙ

wa idzâ massahul-khairu manû‘â

Apabila mendapat kebaikan (harta), ia amat kikir,

22

اِلَّا الْمُصَلِّيْنَۙ

illal-mushallîn

kecuali orang-orang yang mengerjakan salat,

23

الَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ دَاۤىِٕمُوْنَۖ

alladzîna hum ‘alâ shalâtihim dâ'imûn

yang selalu setia mengerjakan salatnya,

24

وَالَّذِيْنَ فِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُوْمٌۖ

walladzîna fî amwâlihim ḫaqqum ma‘lûm

yang di dalam hartanya ada bagian tertentu

25

لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِۖ

lis-sâ'ili wal-maḫrûm

untuk orang (miskin) yang meminta-minta dan orang (miskin) yang menahan diri dari meminta-minta,

26

وَالَّذِيْنَ يُصَدِّقُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِۖ

walladzîna yushaddiqûna biyaumid-dîn

yang memercayai hari Pembalasan,

27

وَالَّذِيْنَ هُمْ مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُّشْفِقُوْنَۚ

walladzîna hum min ‘adzâbi rabbihim musyfiqûn

dan yang takut terhadap azab Tuhannya.

28

اِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُوْنٍۖ

inna ‘adzâba rabbihim ghairu ma'mûn

Sesungguhnya tidak ada orang yang merasa aman dari azab Tuhan mereka.

29

وَّالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَۙ

walladzîna hum lifurûjihim ḫâfidhûn

(Termasuk orang yang selamat dari azab adalah) orang-orang yang menjaga kemaluannya,

30

اِلَّا عَلٰٓى اَزْوَاجِهِمْ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُمْ فَاِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَۚ

illâ ‘alâ azwâjihim au mâ malakat aimânuhum fa innahum ghairu malûmîn

kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki. Sesungguhnya mereka tidak tercela (karena menggaulinya).

31

فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَاۤءَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْعَادُوْنَۚ

fa manibtaghâ warâ'a dzâlika fa ulâ'ika humul-‘âdûn

Maka, siapa yang mencari (pelampiasan syahwat) selain itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

32

وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رٰعُوْنَۖ

walladzîna hum li'amânâtihim wa ‘ahdihim râ‘ûn

(Termasuk orang yang selamat dari azab adalah) orang-orang yang memelihara amanat dan janji mereka,

33

وَالَّذِيْنَ هُمْ بِشَهٰدٰتِهِمْ قَاۤىِٕمُوْنَۖ

walladzîna hum bisyahâdâtihim qâ'imûn

yang memberikan kesaksiannya (secara benar),

34

وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُوْنَۖ

walladzîna hum ‘alâ shalâtihim yuḫâfidhûn

dan yang memelihara salatnya.

35

اُولٰۤىِٕكَ فِيْ جَنّٰتٍ مُّكْرَمُوْنَۗࣖ

ulâ'ika fî jannâtim mukramûn

Mereka itu (berada) di surga lagi dimuliakan.

36

فَمَالِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا قِبَلَكَ مُهْطِعِيْنَۙ

fa mâlilladzîna kafarû qibalaka muhthi‘în

Mengapa orang-orang kafir itu bersegera datang ke arahmu (Nabi Muhammad)

37

عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِيْنَ

‘anil-yamîni wa ‘anisy-syimâli ‘izîn

dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok?

38

اَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ اَنْ يُّدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيْمٍۙ

a yathma‘u kullumri'im min-hum ay yudkhala jannata na‘îm

Apakah setiap orang dari mereka (orang-orang kafir itu) ingin dimasukkan ke dalam surga yang penuh kenikmatan?

39

كَلَّاۗ اِنَّا خَلَقْنٰهُمْ مِّمَّا يَعْلَمُوْنَ

kallâ, innâ khalaqnâhum mimmâ ya‘lamûn

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani).

40

فَلَآ اُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشٰرِقِ وَالْمَغٰرِبِ اِنَّا لَقٰدِرُوْنَۙ

fa lâ uqsimu birabbil-masyâriqi wal-maghâribi innâ laqâdirûn

Maka, Aku bersumpah dengan Tuhan yang mengatur tempat-tempat terbit dan terbenamnya (matahari, bulan, dan bintang), sesungguhnya Kami benar-benar Mahakuasa

41

عَلٰٓى اَنْ نُّبَدِّلَ خَيْرًا مِّنْهُمْۙ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوْقِيْنَ

‘alâ an nubaddila khairam min-hum wa mâ naḫnu bimasbûqîn

untuk mengganti (mereka) dengan (kaum) yang lebih baik daripada mereka. Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan.

42

فَذَرْهُمْ يَخُوْضُوْا وَيَلْعَبُوْا حَتّٰى يُلٰقُوْا يَوْمَهُمُ الَّذِيْ يُوْعَدُوْنَۙ

fa dzar-hum yakhûdlû wa yal‘abû ḫattâ yulâqû yaumahumulladzî yû‘adûn

Maka, biarkanlah mereka tenggelam (dalam kesesatan) dan bermain-main (di dunia) sampai mereka menjumpai hari yang dijanjikan kepada mereka,

43

يَوْمَ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الْاَجْدَاثِ سِرَاعًا كَاَنَّهُمْ اِلٰى نُصُبٍ يُّوْفِضُوْنَۙ

yauma yakhrujûna minal-ajdâtsi sirâ‘ang ka'annahum ilâ nushubiy yûfidlûn

(yaitu) pada hari ketika mereka keluar dari kubur dengan cepat seperti ketika mereka pergi dengan segera menuju berhala-berhala (sewaktu di dunia).

44

خَاشِعَةً اَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌۗ ذٰلِكَ الْيَوْمُ الَّذِيْ كَانُوْا يُوْعَدُوْنَࣖ

khâsyi‘atan abshâruhum tar-haquhum dzillah, dzâlikal-yaumulladzî kânû yû‘adûn

Pandangan mereka tertunduk (serta) diliputi kehinaan. Itulah hari yang diancamkan kepada mereka.

Anda baru saja membaca Surat Al-Ma'arij.
Kami baru saja menghapus semua iklan dari situs ini.
Donasi Anda yang menjaga Litequran.net tetap bebas iklan — untuk Anda dan ratusan ribu pembaca lainnya.

Donasi Sekarang

Pertanyaan Umum tentang Surat Al-Ma'arij

Apa isi kandungan Surat Al-Ma'arij?

Al-Ma'arij menggambarkan tangga-tangga menuju surga yang hanya bisa didaki oleh malaikat dan ruh dalam waktu setara lima puluh ribu tahun, sebagai gambaran keagungan hari kiamat. Surat ini juga memaparkan sifat-sifat negatif manusia yang keluh kesah saat ditimpa kesusahan dan kikir saat mendapat kebaikan, kecuali mereka yang shalat dan menunaikan zakat. Surat Al-Ma'arij terdiri dari 44 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah (diturunkan di Mekkah).

Berapa jumlah ayat Surat Al-Ma'arij?

Surat Al-Ma'arij terdiri dari 44 ayat dan terdapat pada juz 29 dalam Al-Quran. Estimasi waktu membaca dengan tartil beserta terjemahannya sekitar 9 menit.

Mengapa surat ini dinamakan Al-Ma'arij (Tempat Naik)?

Nama "Al-Ma'arij" (المعارج) berarti "Tempat Naik" dalam bahasa Indonesia. Penamaan ini merujuk pada tema atau kisah utama yang dibahas dalam surat. Surat ini merupakan surat ke-70 dalam urutan mushaf Al-Quran.

Apakah Surat Al-Ma'arij Makkiyah atau Madaniyah?

Surat Al-Ma'arij termasuk golongan surat Makkiyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekkah. Surat Makkiyah umumnya membahas tema keimanan, tauhid, hari akhir, dan kisah para nabi sebagai penguatan akidah umat Islam di masa awal dakwah.

Kapan waktu terbaik membaca Surat Al-Ma'arij?

Surat Al-Ma'arij dapat dibaca kapan saja, terutama saat berdzikir dan bermunajat kepada Allah. Sebagai surat Makkiyah yang berisi penguatan iman dan tauhid, membacanya di waktu tenang seperti sepertiga malam terakhir atau setelah shalat Subuh sangat dianjurkan.

Apa keutamaan membaca Surat Al-Ma'arij?

Surat ini memuat penjelasan penting tentang sifat dasar manusia (halu'an — keluh kesah) yang hanya bisa diatasi dengan iman dan amal shalih. Ayat 19-21 menjadi rujukan utama ulama dalam membahas fitrah manusia dan urgensi pendidikan jiwa (tazkiyatun nafs). Surat ini menyebutkan sifat-sifat mukmin sejati secara rinci yang menjadi panduan akhlak bagi setiap Muslim.