وَالنّٰزِعٰتِ غَرْقًاۙ
wan-nâzi‘âti gharqâ
Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa orang kafir) dengan keras,
Baca Surat An-Nazi'at (Malaikat yang Mencabut — النازعات) lengkap dengan teks Latin, Arab, dan terjemahan bahasa Indonesia. Berikut adalah 46 ayat Makkiyah (Juz 30) — surat ke-79 dalam Al-Quran yang bisa Anda akses dengan cepat, ringan, dan tanpa iklan. An-Nazi'at diawali dengan sumpah demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa dengan keras dan yang mencabut dengan lembut, menunjukkan bahwa kematian adalah urusan Allah semata. Surat ini mengisahkan Firaun yang sombong dan mendustakan tanda-tanda Allah yang dibawa Musa, sehingga Allah menghukumnya di dunia dan di akhirat..
Surat An-Nazi'at adalah surat Makkiyah yang turun untuk memperingatkan kaum Quraisy tentang kepastian Hari Kiamat. Konteks turunnya berkaitan erat dengan penolakan kaum musyrikin terhadap konsep kebangkitan setelah mati. Mereka bertanya dengan nada mengejek tentang kapan Hari Kiamat terjadi, maka Allah menjawab bahwa ilmunya hanya ada di sisi-Nya, dan tugas Rasul hanyalah memberi peringatan.
Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Al-Qurthubi
وَالنّٰزِعٰتِ غَرْقًاۙ
wan-nâzi‘âti gharqâ
Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa orang kafir) dengan keras,
وَّالنّٰشِطٰتِ نَشْطًاۙ
wan-nâsyithâti nasythâ
demi (malaikat) yang mencabut (nyawa orang mukmin) dengan lemah lembut,
وَّالسّٰبِحٰتِ سَبْحًاۙ
was-sâbiḫâti sab-ḫâ
demi (malaikat) yang cepat (menunaikan tugasnya) dengan mudah,
فَالسّٰبِقٰتِ سَبْقًاۙ
fas-sâbiqâti sabqâ
(malaikat) yang bergegas (melaksanakan perintah Allah) dengan cepat,
فَالْمُدَبِّرٰتِ اَمْرًاۘ
fal-mudabbirâti amrâ
dan (malaikat) yang mengatur urusan (dunia),
يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُۙ
yauma tarjufur-râjifah
(kamu benar-benar akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama mengguncang (alam semesta).
تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُۗ
tatba‘uhar-râdifah
(Tiupan pertama) itu diiringi oleh tiupan kedua.
قُلُوْبٌ يَّوْمَىِٕذٍ وَّاجِفَةٌۙ
qulûbuy yauma'idziw wâjifah
Hati manusia pada hari itu merasa sangat takut;
اَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌۘ
abshâruhâ khâsyi‘ah
pandangannya tertunduk.
يَقُوْلُوْنَ ءَاِنَّا لَمَرْدُوْدُوْنَ فِى الْحَافِرَةِۗ
yaqûlûna a innâ lamardûdûna fil-ḫâfirah
Mereka (di dunia) berkata, “Apakah kita benar-benar akan dikembalikan pada kehidupan yang semula?
ءَاِذَا كُنَّا عِظَامًا نَّخِرَةًۗ
a idzâ kunnâ ‘idhâman nakhirah
Apabila kita telah menjadi tulang-belulang yang hancur, apakah kita (akan dibangkitkan juga)?”
قَالُوْا تِلْكَ اِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌۘ
qâlû tilka idzang karratun khâsirah
Mereka berkata, “Kalau demikian, itu suatu pengembalian yang merugikan.”
فَاِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَّاحِدَةٌۙ
fa innamâ hiya zajratuw wâḫidah
(Jangan dianggap sulit,) pengembalian itu (dilakukan) hanyalah dengan sekali tiupan.
فَاِذَا هُمْ بِالسَّاهِرَةِۗ
fa idzâ hum bis-sâhirah
Seketika itu, mereka hidup kembali di bumi (yang baru).
هَلْ اَتٰىكَ حَدِيْثُ مُوْسٰىۘ
hal atâka ḫadîtsu mûsâ
Sudah sampaikah kepadamu (Nabi Muhammad) kisah Musa?
اِذْ نَادٰىهُ رَبُّهٗ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًىۚ
idz nâdâhu rabbuhû bil-wâdil-muqaddasi thuwâ
(Ingatlah) ketika Tuhannya menyeru dia (Musa) di lembah suci, yaitu Lembah Tuwa,
اِذْهَبْ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۖ
idz-hab ilâ fir‘auna innahû thaghâ
“Pergilah engkau kepada Fir‘aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas.
فَقُلْ هَلْ لَّكَ اِلٰٓى اَنْ تَزَكّٰىۙ
fa qul hal laka ilâ an tazakkâ
Lalu, katakanlah (kepada Fir‘aun), ‘Adakah keinginanmu untuk menyucikan diri (dari kesesatan)
وَاَهْدِيَكَ اِلٰى رَبِّكَ فَتَخْشٰىۚ
wa ahdiyaka ilâ rabbika fa takhsyâ
dan aku akan menunjukimu ke (jalan) Tuhanmu agar engkau takut (kepada-Nya)?’”
فَاَرٰىهُ الْاٰيَةَ الْكُبْرٰىۖ
fa arâhul-âyatal-kubrâ
Lalu, dia (Musa) memperlihatkan mukjizat yang besar kepadanya.
فَكَذَّبَ وَعَصٰىۖ
fa kadzdzaba wa ‘ashâ
Akan tetapi, dia (Fir‘aun) mendustakan (kerasulan) dan mendurhakai (Allah).
ثُمَّ اَدْبَرَ يَسْعٰىۖ
tsumma adbara yas‘â
Kemudian, dia berpaling seraya berusaha (menantang Musa).
فَحَشَرَ فَنَادٰىۖ
fa ḫasyara fa nâdâ
Maka, dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya), lalu berseru (memanggil kaumnya).
فَقَالَ اَنَا۠ رَبُّكُمُ الْاَعْلٰىۖ
fa qâla ana rabbukumul-a‘lâ
Dia berkata, “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.”
فَاَخَذَهُ اللّٰهُ نَكَالَ الْاٰخِرَةِ وَالْاُوْلٰىۗ
fa akhadzahullâhu nakâlal-âkhirati wal-ûlâ
Maka, Allah menghukumnya dengan azab di akhirat dan (siksaan) di dunia.
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّمَنْ يَّخْشٰىۗࣖ
inna fî dzâlika la‘ibratal limay yakhsyâ
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Allah).
ءَاَنْتُمْ اَشَدُّ خَلْقًا اَمِ السَّمَاۤءُۚ بَنٰىهَاۗ
a antum asyaddu khalqan amis-samâ', banâhâ
Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?
رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوّٰىهَاۙ
rafa‘a samkahâ fa sawwâhâ
Dia telah meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya.
وَاَغْطَشَ لَيْلَهَا وَاَخْرَجَ ضُحٰىهَاۖ
wa aghthasya lailahâ wa akhraja dluḫâhâ
Dia menjadikan malamnya (gelap gulita) dan menjadikan siangnya (terang benderang).
وَالْاَرْضَ بَعْدَ ذٰلِكَ دَحٰىهَاۗ
wal-ardla ba‘da dzâlika daḫâhâ
Setelah itu, bumi Dia hamparkan (untuk dihuni).
اَخْرَجَ مِنْهَا مَاۤءَهَا وَمَرْعٰىهَاۖ
akhraja min-hâ mâ'ahâ wa mar‘âhâ
Darinya (bumi) Dia mengeluarkan air dan (menyediakan) tempat penggembalaan.
وَالْجِبَالَ اَرْسٰىهَاۙ
wal-jibâla arsâhâ
Gunung-gunung Dia pancangkan dengan kukuh.
مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ
matâ‘al lakum wa li'an‘âmikum
(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan ternakmu.
فَاِذَا جَاۤءَتِ الطَّاۤمَّةُ الْكُبْرٰىۖ
fa idzâ jâ'atith-thâmmatul-kubrâ
Maka, apabila malapetaka terbesar (hari Kiamat) telah datang,
يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ مَا سَعٰىۙ
yauma yatadzakkarul-insânu mâ sa‘â
pada hari (itu) manusia teringat apa yang telah dikerjakannya
وَبُرِّزَتِ الْجَحِيْمُ لِمَنْ يَّرٰى
wa burrizatil-jaḫîmu limay yarâ
dan (neraka) Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang yang melihat(-nya).
فَاَمَّا مَنْ طَغٰىۖ
fa ammâ man thaghâ
Adapun orang yang melampaui batas
وَاٰثَرَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۙ
wa âtsaral-ḫayâtad-dun-yâ
dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,
فَاِنَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ
fa innal-jaḫîma hiyal-ma'wâ
sesungguhnya (neraka) Jahimlah tempat tinggal(-nya).
وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ
wa ammâ man khâfa maqâma rabbihî wa nahan-nafsa ‘anil-hawâ
Adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya,
فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ
fa innal-jannata hiyal-ma'wâ
sesungguhnya surgalah tempat tinggal(-nya).
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ
yas'alûnaka ‘anis-sâ‘ati ayyâna mursâhâ
Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang hari Kiamat, “Kapankah terjadinya?”
فِيْمَ اَنْتَ مِنْ ذِكْرٰىهَاۗ
fîma anta min dzikrâhâ
Untuk apa engkau perlu menyebutkan (waktu)-nya?
اِلٰى رَبِّكَ مُنْتَهٰىهَاۗ
ilâ rabbika muntahâhâ
Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahan (ketentuan waktu)-nya.
اِنَّمَآ اَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَّخْشٰىهَاۗ
innamâ anta mundziru may yakhsyâhâ
Engkau (Nabi Muhammad) hanyalah pemberi peringatan kepada siapa yang takut padanya (hari Kiamat).
كَاَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا عَشِيَّةً اَوْ ضُحٰىهَاࣖ
ka'annahum yauma yaraunahâ lam yalbatsû illâ ‘asyiyyatan au dluḫâhâ
Pada hari ketika melihatnya (hari Kiamat itu), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar) tinggal (di dunia) pada waktu petang atau pagi.
Anda baru saja membaca Surat An-Nazi'at.
Kami baru saja menghapus semua iklan dari situs ini.
Donasi Anda yang menjaga Litequran.net tetap bebas iklan — untuk Anda dan ratusan ribu pembaca lainnya.
An-Nazi'at diawali dengan sumpah demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa dengan keras dan yang mencabut dengan lembut, menunjukkan bahwa kematian adalah urusan Allah semata. Surat ini mengisahkan Firaun yang sombong dan mendustakan tanda-tanda Allah yang dibawa Musa, sehingga Allah menghukumnya di dunia dan di akhirat. Surat An-Nazi'at terdiri dari 46 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah (diturunkan di Mekkah).
Surat An-Nazi'at terdiri dari 46 ayat dan terdapat pada juz 30 dalam Al-Quran. Estimasi waktu membaca dengan tartil beserta terjemahannya sekitar 9 menit.
Nama "An-Nazi'at" (النازعات) berarti "Malaikat yang Mencabut" dalam bahasa Indonesia. Penamaan ini merujuk pada tema atau kisah utama yang dibahas dalam surat. Surat ini merupakan surat ke-79 dalam urutan mushaf Al-Quran.
Surat An-Nazi'at termasuk golongan surat Makkiyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekkah. Surat Makkiyah umumnya membahas tema keimanan, tauhid, hari akhir, dan kisah para nabi sebagai penguatan akidah umat Islam di masa awal dakwah.
Surat An-Nazi'at dapat dibaca kapan saja, terutama saat berdzikir dan bermunajat kepada Allah. Sebagai surat Makkiyah yang berisi penguatan iman dan tauhid, membacanya di waktu tenang seperti sepertiga malam terakhir atau setelah shalat Subuh sangat dianjurkan.
Surat ini memuat penjelasan detail tentang tugas malaikat pencabut nyawa yang menjadi rujukan utama dalam pembahasan alam barzakh. Ayat 40-41 tentang menahan hawa nafsu menjadi dalil penting dalam tasawuf dan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Nabi ﷺ membaca surat An-Nazi'at pada shalat Subuh. (Diriwayatkan dalam beberapa hadits)