وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍۙ
Wailul likulli humazatil-lumazah(tin).
Celakalah setiap pengumpat lagi pencela
Pengumpat•Makkiyah•9 ayat•Juz 30
Al-Humazah mengancam dengan celaka bagi setiap orang yang gemar mengumpat, mencela orang lain di depan wajahnya, dan menghina di belakang punggungnya sambil bangga dengan tumpukan harta. Surat ini menggambarkan neraka Huthamah yang akan membakar mereka hingga ke jantung, tertutup rapat dengan api yang berkobar tinggi.
Surat ke-104 ini terdiri dari 9 ayat dan termasuk surat Makkiyah, diturunkan setelah Surat Al-Qiyamah. Namanya berarti pengumpat, diambil dari ayat pertama.
Al-Humazah menerangkan bahwa harta sama sekali tidak berguna di hadapan kekuasaan Allah, lalu Al-Fil menunjukkan bahwa pasukan gajah dengan segala perlengkapannya pun tidak mampu menghadapi kekuasaan Allah.
Diringkas dari Mukadimah Al-Qur'an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍۙ
Wailul likulli humazatil-lumazah(tin).
Celakalah setiap pengumpat lagi pencela
ۨالَّذِيْ جَمَعَ مَالًا وَّعَدَّدَهٗۙ
Allażī jama‘a mālaw wa ‘addadah(ū).
yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya.
يَحْسَبُ اَنَّ مَالَهٗٓ اَخْلَدَهٗۚ
Yaḥsabu anna mālahū akhladah(ū).
Dia (manusia) mengira bahwa hartanya dapat mengekalkannya.
كَلَّا لَيُنْۢبَذَنَّ فِى الْحُطَمَةِۖ
Kallā layumbażanna fil-ḥuṭamah(ti).
Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Hutamah.
وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْحُطَمَةُ ۗ
Wa mā adrāka mal-ḥuṭamah(tu).
Tahukah kamu apakah (neraka) Hutamah?
نَارُ اللّٰهِ الْمُوْقَدَةُۙ
Nārullāhil-mūqadah(tu).
(Ia adalah) api (azab) Allah yang dinyalakan
الَّتِيْ تَطَّلِعُ عَلَى الْاَفْـِٕدَةِۗ
Allatī taṭṭali‘u ‘alal-af'idah(ti).
yang (membakar) naik sampai ke hati.
اِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُّؤْصَدَةٌۙ
Innahā ‘alaihim mu'ṣadah(tun).
Sesungguhnya dia (api itu) tertutup rapat (sebagai hukuman) atas mereka,
فِيْ عَمَدٍ مُّمَدَّدَةٍ ࣖ
Fī ‘amadim mumaddadah(tin).
(sedangkan mereka) diikat pada tiang-tiang yang panjang.
Teks Arab, Latin, terjemahan, dan tafsir bersumber dari Kementerian Agama RI, dengan transliterasi mengikuti SKB Menteri Agama dan Menteri P dan K 1987 serta ejaan KBBI.